LENSAINDONESIA.COM: Seiring maraknya masyarakat indonesia mengkonsumsi kopi, kini Hotel Premiere Inn Surabaya Juanda pun melaunching Coffee Corner yang mengusung nama Kopi Suju. dalam kesempatan tersebut, Hotel Premiere Inn juga mengundang Firmasnyah (Pepeng) ahli Manual Brewing Coffee asal Yogya dimana Kopi Kliniknya ini merupakan tempat syuting film AADC 2.

Budi Prihardjanto, General Manager Premier Inn Surabaya Juanda mengatakan, dilaunchingnya Kopi Suju ini untuk mempromosikan kopi Nusantara yang kaya akan rasa dan kualitas yang tak kalah dengan kopi mancanegara.

“Cutomer domestik kami hampir 90 persen akhir-akhir ini selalu bertanya kopi dengan pengolahan manual brewing. Untuk itu kami mengundang Mas Pepeng di sini untuk memperagakan bagaimana cara manual brewing yang benar untuk menghasilkan kopi berkualitas yang siap dikonsumsi. Harapan kami agar Kopi Suju ini jadi jujukan untuk nikmati kopi bagi masyarakat Surabaya, Sidoarjo dan sekitarnya selain tamu hotel kami,” papar Budi kepada Lensaindonesia.com, Jumat sore (21/10/2016).

Budi menambahkan, untuk sajian Kopi Suju memang didominasi oleh jenis kopi Arabika. Dan komposisinya 60 persen untuk kopi Arabika dan 40 persen untuk kopi jenis Robusta.adapun banderol yang ditawarkan, cukup Rp 25 ribu per cup dan hingga Nopember nanti ditawarkan diskon 25 persen dan jam operasional selama 24 jam.

” Untuk saat ini, jika berbicara terkait kontribusi dari total okupansi, Hotel Premiere Inn Suabaya Juanda ini disumbang 40 persen dari F&B dan 60 persen masih disumbang oleh room. Dan hingga akhir tahun ini, kami optimis bakal mencapai okupansi hingga 60 persen,” papar Budi.

Sementara itu, Firmansyah (Pepeng) pemilik Klinik Kopi Yogyakarta mengatakan, pihaknya mulai menggemari kopi di tahun 2010. Namun ketika menginjak Juli tahun 2014, Pepeng sudah memulai bisnis Kopi Klinik yang terkenal dengan Manual Brewnya.

“Misi saya mendirikan Kopi Klinik ini untuk memperkenalkan kopi yang belum terkenal di Indonesia. Orang butuh kopi bukan sekedar menikmati aroma dan rasa kopinya saja, tapi mereka lebih enjoy saat diceritakan sisi historis kopi,” papar Pepeng.

Pepeng mengaku mengawali bisnis Kopi Kliniknya ini tak sekedar bisnis semata, namun ia juga berkeliling membantu petani beberapa daerah untuk menghasilkan kopi berkualitas. Bahkan, untuk memulai bisnis ini Pepeng menginvestasikan dana Rp 7 juta untuk keperluan belanja bahan dan perangkat yang mendukung manual brew.

” Hingga saat ini, di Klinik Kopi nampak selalu dipadati pengunjung dari berbagai daerah hingga mancanegara. Terus terang omset saya mencapai bersih Rp 1,2 juta. Jika dihitung, bisa mencapai 120 cup perhari yang harga per cangkirnya hanya Rp 15ribu saja. untuk kapasitas pengunjung, kopi Klinik mampu menampung sekitar 50 orang,” pungkas Pepeng.@Eld-Licom