Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Sidang kasus pencemaran nama baik yang menyeret pengamat satwa, Singky Soewadji, sebagai terdakwa kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (24/10/2016), dengan agenda keterangan saksi dari terdakwa (peringanan).

Terdakwa Singky Soewadji mendatangkan advokat senior Trimoelja D Soerjadi ‎sebagai saksi untuk menjadi saksi fakta. Dalam keterangannya, Trimoelja menyatakan jika yang ditulis Singky dan dishare ke media sosial tersebut memang sesuai dengan fakta yang ada. “Memang faktanya ada penjarahan 420 satwa di Kebun Binatang Surabaya,” terang Trimoelja.

Mantan pengacara aktivis Buruh Marsinah ini juga mengkritisi penyidik Polrestabes Surabaya yang menerbitkan SP3 dalam penyidikan kasus penjarahan besar-besaran di Kebun Binatang SUrabaya. “Keputusan penghentian kasus penjarahan satwa di KBS, mestinya tidak perlu dilakukan. Harusnya kasus tersebut dibawa ke persidangan biar bisa terungkap siapa saja yang terlibat,” tambahnya

Dalam penjelasannya, Trimoelja menyatakan, apa yang dilakukan terdakwa sudah sejalan dengan warga Surabaya perduli Kebun Binatang Surabaya. “Dan ini sejatinya untuk kepentingan umum untuk mengungkap siapa-siapa saja yang terlibat dalam penjarahan besar-besaran ini,” sambungnya.

Seperti diberitakan, Singky Soewadji mengunggah status sindiran terhadap PKBSI setelah dugaan tukar menukar satwa di Kebun Bintaang Surabaya secara nonprosedural terbongkar ke tengah publik hingga polisi turun tangan. Merasa tercemar, Ketua dan Sekretaris PKBSI, Rachmat Shah dan Tony Sumampau, melaporkan Singky Soewadji ke polisi.

Singky kemudian ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jatim pada 2015 lalu. Ia ditahan Kejaksaan Negeri Surabaya tiga pekan lalu dan akhirnya ditangguhkan penahanannya oleh Hakim Djiwantaran. @rofik