LENSAINDONESIA.COM: Kampus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tengah gonjang-ganjing terkait pemecatan Dekan FISIP UWKS. Gelombang protes muncul dari mahasiswa hingga alumni.

Koordinator Ikatan Alumni Fisip UWKS Lasiono menyatakan keprihatinannya terkait adanya konflik kampus. Hal ini dipicu pemecatan Dekan Fisip UWKS Dr Moch Fauzi Said lewat Surat Keputusan (SK) nomor 122 tahun 2016.

Menurutnya, pemecatan Fauzi tidak sesuai prosedur dan seweng-wenang. Bahkan sikap rektor Sri Harmadi dianggap bertindak sepihak, tanpa menyelesaikan secara adil. Untuk itu, Alumni FISIP UWKS meminta, rektorat mencabut Surat Keputusan (SK) nomor 122 tahun 2016 tentang pemberhentian Dr Moch Fauzi Said sebagai dekan FISIP UWKS.

“Kami sebagai alumni FISIP melihat, tindakan rektorat terlalu grusah-grusuh. Harusnya menyelesaikan dengan jalan tengah dan tidak bertindak seenaknya,” terang Lasiono.

Lasiono yang juga aktif di lembaga penelitian ini, menuding tindakan arogansi rektor akan merugikan keberlangsungan FISIP ke depan. “Ini juga menganggu kegiatan akademisi, bahkan BEM FISIP ikut dibekukan,” kata aktivis 98 ini.

Matinya demokrasi dan regulasi di kampus yang dibangun Partai Golkar tersebut, juga terjadi pada kesewenang-wenangan terhadap karyawan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua BEM FISIP UWKS Nor Khilis menyampaikan, lembaga intra kampus di fakultas juga dibekukan. Anehnya pembekuan dilakukan secara sepihak oleh rektorat dan disampaikan secara lisan.

“BEM bukan organisasi kemahasiswaan liar, kenapa dibekukan tanpa alasan jelas. Dan ini dilakukan secara lisan,” tuding Nor Kholis.

Sementara itu, karyawan perpustakaan UWKS juga ikut terimbas. Dalam kasus lain, Agus yang sudah bekerja 32 tahun dipensiundinikan dengan pesangon hanya Rp29 juta. Idealnya jika menganut aturan pesangon bisa diperoleh hingga Rp135 jutaan.

Tidak ingin berlanjut dan merugikan mahasiswa, karyawan dan menganggu perkuliahan, alumni FISIP mengadukan arogansi rektorat dan yayasan ke Kopertis wilayah VII, Kemenristek dan DPR RI Komisi X. */licom