LENSAINDONESIA.COM: Kebijakan pemerintah pusat terkait rencana penutupan pabrik gula (PG) yang peralatannya dinilai terlalu tua dan tak bisa menghasilkan gula dengan rendemen maksimal, terus mendapat tentangan dari banyak pihak.

Anggota Komisi B DPRD Jatim, Agus Maimun menilai pemerintah tak bisa serta merta melakukan hal itu, sebab keberadaan PG telah ada sejak zaman Belanda yang seharusnya keberadaannya dijaga dan direvitalisasi.

“Intinya pemerintah harus hadir dalam setiap permasalahan yang ada di wilayahnya. Namun faktanya selama ini pemerintah belum turun tangan mengatasi mesin-mesin tua di PG, entah itu perbaikan ataupun revitalisasi. Mana ga ada kan? Kok sekarang langsung mau menutup. Tidak boleh pemerintah hanya bicara untung rugi,” ucap Agus Maimun pada LICOM, Rabu (26/10/2016).

Namun, jika rencana kebijakan tersebut dilakukan maka komisinya akan mendorong Pemprov Jatim untuk meminta kewenangan pengelolaan sembilan PG yang akan ditutup. “Jelas kita nggak rela kalau itu ditutup. Serahkan saja ke Pemprov Jatim agar dikelola oleh provinsi, tapi jangan hanya sembilan PG yang mau ditutup, ya semuanya serahkan pengelolaan PG di Jatim ke Pemprov,” tegas politisi PAN ini.

Pihaknya sangat menyayangkan sikap pemerintah yang hanya menginginkan keuntungan tanpa melihat sejarah dan enggan untuk melakukan perbaikan infrastruktur di PG. Seharusnya ada upaya melakukan peremajaan mesin-mesin penggiling tebu yang modern, jika memang pemerintah menarget Jatim surplus gula seperti zaman Belanda dahulu.

“Kan aneh, sekarang yang disoal mesin-mesin yang tua. Tapi upaya untuk memodernkan mesin penggiling tebu nggak ada sama sekali. Ini sama saja bohong. Saya kira orientasi pemerintah hanya untuk impor gula saja,” pungkas pria yang juga Bendahara DPW PAN Jatim itu.

Diketahui, rencana penutupan sembilan pabrik gula di Jatim telah disepakati PTPN IX, X, XI, III dan RNI dengan Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN pada 6 Oktober 2016 di Surabaya. Sembilan pabrik gula di Jatim yang akan ditutup pada 2017 adalah PG Rejosari, PG Kanigoro dan PG Purwodadi di Madiun.

Kemudian PG Pandji, PG Olean dan PG Wringin Anom di Situbondo. Juga PG Toelangan dan PG Watoetulis di Sidoarjo, serta PG Meritjan di Kediri.

Pemerintah melalui Kementerian BUMN akan menutup sejumlah pabrik gula di Jawa Timur. Alasannya, dalam rangka re-grouping BUMN serta meningkatkan efisiensi. Pabrik gula yang ditutup adalah yang berada di bawah pengelolaan PTPN IX, X, XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).@sarifa