Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Ini alasan Kapolri Jenderal Tito Karnavian enggan tahan Ahok
Kapolri Jenderal Tito Karnavian bersama Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama. (ISTIMEWA)
HEADLINE JAKARTA

Ini alasan Kapolri Jenderal Tito Karnavian enggan tahan Ahok 

LENSAINDONESIA.COM: Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan alasan kenapa Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama tidak ditahan meski jadi tersangka kasus dugaan penistaan agama.

Saat rapat dengar pendapat dengan Komisi III, Senin (5/12/2016), Tito mengatakan sejak awal gelar perkara kasus pria yang terkenal dengan panggilan Ahok tersebut, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli, penyelidik maupun penyidik dalam menilai ada tidaknya unsur pidana. Pada akhirnya mayoritas menilai ada unsur pidana sehingga statusnya jadi tersangka dan dilakukan pemberkasan.

Nah, terkait penahanan, itu menurut Tito berkaitan dengan faktor objektif dan subjektif.

“Faktor objektif adalah ketika penyidik bulat, mutlak dan telak mereka menyatakan yakin. Sebaliknya kalau belum bulat maka kita tidak ingin mengambil resiko untuk melakukan penahanan. Jadi fakta hukum menjadi masalah, bukan tekanan publik,” kata Tito.

Dia lantas membandingkan saat kasus penistaan oleh Lia Eden dan Arswendo dimana keduanya langsung ditahan karena suara penyidik dalam melihat kasus itu bulat. Di samping pembuktiannya juga lebih mudah dibanding kasus Ahok.

“Kasus Arswendo, kasus Lia Eden, kami sampaikan dalam kasus itu penyidik melihat itu telak dan mutlak. Kebetulan saya masih letnan satu ikut di kasus itu,” ujarnya.

Mantan Kepala BNPT itu menambahkan pembuktian Lia Eden juga lebih mudah karena yang bersangkutan mengaku sebagai titisan Nabi Muhammad.

Selain itu, dia juga membandingkan dengan pembunuhan aktivis HAM Munir. Meski kasus itu menonjol dengan ancaman hukuman 5 tahun, tersangkanya tidak ditahan.

“Polycarpus tidak ditahan karena alat buktinya tidak telak dan mutlak. Sehingga diserahkan pada pengadilan yang memutuskan meskipun sebagai tersangka. Tapi tersangka kasus lain itu tidak ada yang bebas,” jelas Tito.

Pembanding lainnya adalah kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan tersangka ketika itu Jessica Kumala Wongso, yang juga diwarnai perbedaan pendapat. Tapi karena faktor subjektif, kekhawatiran melarikan diri maka dia ditahan.@jp/licom