LENSAINDONESIA.COM: Badan Pemberdayaan Ekonomi dan Masyarakat Keluarga Berencana (Bapemas KB) Kota Surabaya akan meluncurkan program pencegah terjadinya kekerasan pada anak.

Program yang akan digalakkan pada 2017 mendatang tersebut berupa pembekalan kepada celon pengantin.

Kepala Bapemas KB Kota Surabaya, Nanis Chairani mengatakan, program pembekalan kepada pasangan yang akan menikah tersebut bekerja sama dengan Kementrian Agama (Kemenag).

Pembekalan kepada calon pengantin ini tujuannya agar calon pengantin yang akan memasuki dunia baru yakni berkeluarga, bisa lebih siap.

“Pelaksanaan pembekalan untuk calon pengantin itu akan dilaksanakan di kantor KUA ataupun di kantor kecamatan. Teknis pelaksanaan nya, para calon pengantin yang nantinya terdaftar di KUA, bisa untuk diikutkan pada pembekalan ini. Nantinya kami akan sharing program dan materi dengan KUA yang akan disampaikan untuk calon pengantin,” jelas Nanis seusai media gathering bertema kegiatan penanganan anak oleh Pemkot Surabaya di ruang ATCS, lantai VI gedung Pemkot Surabaya, Jumat (09/12/2016).

Nanis menjelaskan, materi yang diberikan bisa dari sisi agama dan juga sosial. Dengan adanya pembekalan tersebut, diharapkan pengantin baru lebih siap untuk berkeluarga. Siap dalam artian tidak hanya membayangkan senang-senangnya saja pasca menikah. Tetapi memahami bahwa ada kewajiban dan tugas yang mungkin nanti terasa berat.

“Harapannya supaya menguatkan mereka dalam memasuki dunia baru. Bahwa ini bukan main-main tetapi punya tanggung jawab besar. Apalagi bila mempunyai anak. Dan ketika mereka ada masalah, jangan kemudian langsung memutuskan bercerai. Coba ingat-ingat kembali indahnya masa pacaran sehingga ada kesadaran untuk melewati masalah bersama-sama,” terang mantan Kabag Humas Pemkot Surabaya ini.

Menurut Nanis, Bapemas KB merasa perlu untuk melakukan pembekalan yang nantinya sifatnya semi wajib bagi penganti baru ini, salah satunya merujuk pada angka perceraian yang cukup tinggi. Apalagi, berdasarkan penelusuran Bapemas KB, ketika ada kasus kekerasan pada anak, ternyata muaranya karena keluarga yang tidak harmonis. Karenanya, dengan semua pasangan yang akan menikah mendapatkan pemahaman, angka perceraian dan kekerasan pada anak itu bisa berkurang. Memang, selama ini sudah ada calon pengantin yang mendapatkan pemahaman seperti ini. Namun, Nanis berharap program seperti itu bisa lebih menyeluruh.

“Pada beberapa kasus pada anak, itu terjadi karena broken home yang diawali perceraian. Melakukan pendekatan langsung kepada orang tua demi mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak,” jelasnya.@wan