Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
Gelar Tasyakuran Harlah ke-44, PPP ulas tiga isu kekinian
Ketua Umum PPP Romahurmuziy. (LICOM/Yuanto)
HEADLINE DEMOKRASI

Gelar Tasyakuran Harlah ke-44, PPP ulas tiga isu kekinian 

LENSAINDONESIA.COM: Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menggelar merayakan harlah ke-44 tahun, Kamis malam (5/1/2017), di kantornya Jalan Tebet Barat IX, Jakarta Selatan.

Milad PPP digelar dalam bentuk tasyakuran dan doa bersama. Kali ini partai berlambang Ka’bah mengambil tema “Mewujudkan masyarakat madani dalam bingkai NKRI”.

Ketua Umum PPP, Romahurmuziy menyampaikan pidato politik terkait isu kekinian. Dirinya menyinggung tiga hal, yakni isu radikalisme, hoax dan ujaran kebencian melalui media sosial, serta yang ketiga adalah menguatnya politik identitas.

Persoalan radikalisme, kata Rommy sapaan akrab Romahurmuziy, kerap mengatasnamakan agama Islam dengan melakukan cara-cara yang destruktif atau merusak. Menurutnya, mereka telah gagal faham dalam menafsirkan nilai-nilai agama, sehingga keliru dalam bertindak.

“Misalnya fenomena baru terjadi soal bom calon pengantin yang baru dicegah oleh pihak kepolisian, dan calon pengantin pun mereka kenal lewat internet, belum diketahui latar belakangnya, tapi mereka sudah bisa melakukan komitmen sejauh itu. Selain itu soal bom bunuh diri, dan lainnya,” ujar Rommy.

“Saya ingin khusus membahas radikalisme atas nama Islam. Itulah domain tugas kami (sebagai partai Islam) untuk mencegah radikalisme atas nama Islam. Karena Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam penuh dengan cinta dan damai,” imbuhnya.

Terkait fenomena digital melalui media sosial, kerap orang menyalahgunakan dengan membuat berita yang bernada provokatif hingga hujatan dan mengarah pada ujaran kebencian dan informasi hoax. Rommy pun menceritakan salah satu pengalamanya sebagai contoh.

“Misalnya, saat saya bertemu langsung dengan Presiden Jokowi waktu lalu dan waktu masih berlangsung pertemuan, dengan cepat saya mendapatkan info yang katanya A1, mengatakan kalau Rommy mengusulkan Menteri Agama Lukman dicopot. Ini saya bertemu empat mata, tapi informasi itu masuk ke Whatsapp saya. Ini yang bodoh pembuatnya atau memang tidak mengerti dengan mengatasnamakan saya dan berita dikirim ke saya. Ini mereka yang bertemu langsung presiden atau saya,” cerita Rommy disambut ketawa para hadirin.

Baca Juga:  Upacara HUT Kemerdekaan, Risma sampaikan cara Surabaya siapkan SDM unggul

Oleh karena itu, Rommy menghimbau masyarakat khususnya pada kadernya untuk menggunakan media sosial dengan baik dan bijak, bukan asal menebar informasi yang keliru yang justru berdampak negatif. Dalam fenomen seperti itu, Ia menekankan, diperlukan tabayyun (konfirmasi) atas kebenaran informasi sehingga bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya.

Ketiga, kata Rommy, yakni fenomena menguatnya politik identitas. “Yang terjadi adalah mereka gontok-gontokan, mereka saling menghujat, terjadi pertikaian, tawuran antar pelajar siswa sekolah, dan lainya,” paparnya.

“Yang diperlukan dalam politik identitas semakin menguat adalah saling menghormati, Berbeda pandangan bukan berarti tidak menghormati. Kalau saling menghormati terjadi, perbedaan akan menjadi rahmat,” jelasnya.

“Kita membahas tiga hal tersebut agar tak salah melangkah, kita sebagai parpol mengambil tema harlah kali ini menjadi relevan,” sambungnya.

Terakhir Rommy pun menyinggung soal masalah adil. PPP terus berupaya untuk mewujudkan masyarakat madani atau masyarakat yang adil dan sejahterah.

“Dua puluh delapan juta penduduk Indonesia masih mikin, masih terjadi kesenjangan. Hadirnya Presiden Jokowi saat ini alhamdulillah bisa menekan sedikit kesenjangan itu, semoga kesejangan makin lama makin terkurangi,” paparnya.

“Sehingga, Indonesia sampai mengarah yang namanya rasa adil. Itulah tugas kita sebagai Parpol harus menciptakan apa itu yang namanya keadilan,” pungkasnya.@yuanto