LENSAINDONESIA.COM: Sejak awal tahun 2017, cuaca ekstrim melanda Surabaya hingga hujan lebat dan gelombang laut tinggi. Akibatnya aktifitas nelayan yang tinggal di Nambangan, dan Bulak Cumpat Kenjeran terganggu karena banyak kapal dan atap rumah yang rusak.

“Saat ini aktifitas terganggu karena cuaca akhir-akhir ini tidak bersahabat bagi nalayan,” kata Sarmuin Ketua Perhimpungan Nelayan di kawasan Nambangan, mendatangi Komisi C DPRD Surabaya, Senin (16/01/2017) untuk mengadu.

Dirinya menjelaskan, sebetulnya sebagian area sudah dibangun tanggul namun belum mampu mengatasi dampak gelombang besar terhadap pemukiman warga nelayan. Namun, dengan adanya tanggul tersebut tidak bisa mengurangi resiko perahu uang rusak karena diterjang gelombang jika tidak ada pemecah ombak.

“Masalahnya adalah perahu kita tetap dihantam ombak. Makanya kita menyarankan sekita 100 meter dari pantai ada tanggul pemecah ombak,” katanya.

Sementara itu, Bambang Catur Nusantara, Anggota Dewan nasional WALHI mengakui, ombak besar dan banjir rob di kawasan pesisir kenjeran mengganggu kehidupan para nelayan. Menurutnya, dengan kondisi ini nelayan tetap kesulitan beraktifitas karena kondisi cuaca makin buruk.

“Jangankan mencari ikan, menjemur ikan saja sulit. Untuk itu pengembangan kawasan harsu dibangun secara partisipatif” kata Bambang Catur Nusantara kepada wartawan.

Menanggapi keluhan para nelayan, Wakil Ketua komisi C bidang Pembangunan, Buchori imron mengatakan, bahwa sesuai UU No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, pembangunan tanggul menjadi kewenangan Pemprof Jatim
.
“Tapi nanti kita koordinasikan dengan pemerintah Provinsi. Ini kota metropolitan. Jika kotanya berkembang nelayannnya juga harus berkembang” jelas Politisi PPP ini.@wan