LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Soekarwo memenuhi janjinya untuk turun melakukan pengawasan kepada para Tenaga Kerja Asing (TKA) yang masuk di wilayahnya.

Pakde Karwo (sapaan akrab Soekarwo) sidak ke PT Bahagia Steel yang merupakan perusahaan manufaktur pengolah besi dan baja di Jalan Raya Wringin Anom KM 31, Desa Sumengko, Kabupaten Gresik, Senin (17/1/2017).

Di perusahaan itu, gubernur menemukan sebanyak 51 TKA, namun 8 orang di antaranya sedang cuti. Sementara untuk rinciannya dari 43 orang yang ada sebanyak 40 orang paspornya tercatat aktif, 2 orang lainnya paspornya sedang dalam proses pengurusan dan 1 orang TKA terbukti ilegal alias tidak tak memiliki paspor.

Menanggapi hal itu, Soekarwo meminta secara tegas pihak Imigrasi untuk segera memproses 1 TKA yang ilegal tersebut di Kantor Imigrasi. Jika yang bersangkutan benar-benar tidak mampu menunjukkan dokumen lanjutan, maka akan dilakukan deportasi.

Ditegaskan, Pemprov Jawa Timur bersama Kanwil Hukum dan HAM Jawa Timur sepakat menegakkan aturan perundangan. Penegakkan tersebut untuk memberikan keadilan bagi tenaga kerja lokal Jawa Timur. Penegakkan akan terus dilakukan, apalagi pintu ASEAN telah dibuka lebar.

Sementara, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sukardo menambahkan sebanyak 51 TKA di perusahaan itu semuanya tak bisa berbahasa Indonesia. Dan ini jelas melanggar Perda di wilayahnya.

“Mereka tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia. Padahal sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Ketenagakerjaan, salah satunya mewajibkan setiap TKA di Jatim harus menguasai Bahasa Indonesia,” ungkap Sukardo.

Selain melanggar soal bahasa, perusahaan yang mempekerjakan para TKA asal Cina ini juga melanggar aturan karena tidak melakukan transfer pengetahuan dari para TKA ke tenaga kerja lokal. “Karenanya kami memberikan nota sanksi pertama bagi perusahaan ini,” tegasnya.

Terkait hal ini, Gubernur Soekarwo dengan tegas meminta proses transfer pengetahuan di PT Bahagia Steel dijalankan. Pihaknya menjanjikan tiga bulan mendatang akan datang lagi ke perusahaan ini untuk melakukan sidak melihat proses transfer of techology yang maksimal berlangsung selama tiga bulan.

Bahkan, Pakde Karwo mengaku akan semakin gencar melakukan sidak TKA ke kantong-kantong TKA lainnya di Jatim, terutama di industri manufaktur. “Transfer pengetahuan ini wajib sifatnya. Jadi silakan perusahaan mempekerjakan tenaga kerja asing di bidang-bidang tertentu tapi harus dilakukan pendampingan oleh tenaga kerja lokal,” pungkas Soekarwo.@sarifa