LENSAINDONESIA.COM: Sekjen Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jatim Ustadz Muhammad Yunus menjelaskan kegiatan Sholat Shubuh Berjamaah dan Tabligh Akbar di Masjid Al Falah Surabaya pada Sabtu (28/01/2017) bertujuan untuk merawat spirit Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) yang selama ini sudah terbangun dengan baik. Dirinya juga mempertanyakan jika nantinya ada pihak yang ingin membubarkan acara tersebut maka bertentangan dengan instruksi Presiden Joko Widodo.

Rencananya, acara tersebut dimulai sejak Jumat, (27/01/2017) malam hingga Sabtu, (28/01/2017) siang. Yakni, dilakukan sholat malam hingga menjelang Shubuh dilanjutkan acara adalah Tabligh Akbar dari pukul 07.00 sampai selesai.

“Saya mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa kegiatan keagaamaan yang dilakukan sesuai kepercayaan masing-masing tidak boleh dibubarkan. Karena sudah jelas kegiatan umat beragama dijamin oleh undang-undang,” kata Ustadz Yunus Sekjen GUIB Jatim kepada Licom, Rabu (25/01/2016).

Dirinya menjelaskan dalam acara tersebut panitia mengundang Gerakan Nasional Pendukung Fatwa (GNPF) MUI untuk hadir. Karena itu pihaknya membantah jika ada undangan secara khusus kepada Front Pembela Islam (FPI) atau Rizieq Shihab untuk hadir.

“Saya tidak mengatasnamakan yang hadir nanti Habib Rizeiq. Kan yang dari GNPF-MUI ada Ustadz Zaitun, Bachtiar Nasir, atau Munarman atau siapa saja yang lain bisa mewakili,” tegasnya.

Tak hanya itu, Ustadz Yunus juga meluruskan bahwa anggapan atau tuduhan terhadap Rizieq Shihab atau FPI ingin mendirikan negara Islam dan memecah belah bangsa adalah tidak berdasar. Dirinya menjelaskan seluruh ormas Islam di Indonesia sudah memahami dan mengakui sesuai dengan Ijtima’ Ulama bahwa Negara Kesatuan Republik Indoneisia (NKRI) adalah bentuk final bagi seluruh umat muslim.

“Tidak ada yang ingin mendirikan negara Islam. Saya sangat menyesalkan siapa saja yang menyampaikan seperti itu jelas tidak berdasar. Harus tabayyun kepada umat muslim,” jelasnya.

Ustadz Yunus menambahkan, bahwa kegaduhan yang terjadi selama ini sebetulnya berawal dari kasus tuduhan penistaan agama kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan tidak segera diselesaikan oleh pemerintah.

Karena itu, pihaknya berharap kasus yang sempat menimbulkan reaksi demo 411 dan 212 ini jangan dibawa ke ranah politik dan menimbulkan kegaduhan baru. Akibatnya, saat ini sudah banyak fitnah yang dituduhkan kepada umat Islam dan dianggap intoleran kepada kelompok dan agama lain.

“Ini tidak benar dan mengaburkan masalah. Seolah-oleh islam itu anti agama dan kelompok lain. Sejak dulu umat islam itu tidak mempersoalkan multi culture yang ada di Indonesia. Kami meminta kepada aparat keadilan segera menuntaskan kasus (penistaan agama) ini,” katanya.@wan