Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.  
Maluku Bangkit
Maluku menjadi bagian penting dalam mozaik peradaban dunia. Foto: Istimewa
Maluku

Maluku Bangkit 

Maluku adalah kepingan mozaik penting dalam sejarah peradaban dunia. Sejak abad ketujuh Maluku menjadi tujuan utama saudagar-saudagar global dari seluruh penjuru dunia–mulai dari Eropa sampai Asia yang memburu pala dan cengkih.

Maluku adalah mozaik penting dalam sejarah globalisasi dunia. Jika globalisasi baru menjadi mantra yang dikenal seluruh dunia pada abad ke-20–dan sekarang menjadi kosakata yang dikenal semua orang sampai di warung kopi–maka Maluku sudah bersentuhan dengan globalisasi 13 abad yang lalu.

Para pedagang tangguh dari Eropa mengarungi lautan luas untuk menuju Maluku mencari rempah-rempah dan cengkih. Para pelaut Cina yang hebat mencari rempah-rempah Maluku mengarungi ganasnya lautan yang penuh marabahaya. Rempah-rempah Maluku terkenal di seluruh dunia mulai dari Cina, Alexandria, sampai ke Venesia.

Jika sejarah mencatat Jalur Sutera, Silk Road, sebagai jalur jalinan cikal bakal perdagangan dunia global, maka Maluku adalah Jalur Sutera yang sesungguhnya. Jalur yang dilalui ratusan tahun oleh para saudagar untuk mendapatkan komoditi yang sangat berharga itu. Bahkan, ada yang menyebut Maluku adalah The Spice Road, Jalur Rempah, yang tidak kalah peneting dari Jalur Sutera yang melegenda.

Ketika Cina dikuasai oleh rezim Mongol, Jalur Rempah ini diisolasi dan ditutup selama dua ratus tahun. Konon, Columbuslah yang berikhtiar untuk menemukan kembali Jalur Rempah itu. Ia mengadakan ekspedisi pelayaran melayari separuh bumi. Ketika kemudian ia terdampar di sebuah daratan luas, ia mengira telah sampai ke India, padahal ia kesasar ke Amerika. Columbus, kabarnya, bukan mencari India, tetapi yang ia cari adalah Maluku, atau yang ketika itu disebut sebagai “West Indies”. Maka ia mengira
Amerika adalah Maluku dan menyebut penduduknya sebagai Indian.

Maluku menjadi bagian penting dalam mozaik peradaban dunia. Adalah Alfred Russel Wallace ilmuwan dan penjelajah kelas dunia yang “menemukan” Maluku dan memperkenalkannya kepada dunia ilmu pengetahuan internasional dengan temuan dahsyat yang sekarang dikenal dunia sebagai “Garis Wallace” yang memisahkan pengelompokan flora dan fauna dunia menjadi dua bagian, yaitu wilayah Asia dan wilayah Australasia.

Baca Juga:  Karhutla sering terjadi, Jokowi diminta copot Menteri Siti Nurbaya

Perjalanan epik Wallace dituangkannya dalam buku klasik “The Malay Archipelago” (1862). Ia menyusuri wilayah-wilayah Nusantara selama delapan tahun mulai dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Ia menceritakan perjalanan yang penuh liku dan menantang bahaya dengan cara berkisah yang memukau. Ia mengumpulkan berbagai spesies hewan mulai dari Orang Utan sampai kupu-kupu dan bahkan hewan-hewan yang lebih kecil ukurannya. Belasan ribu jumlah yang ia kumpulkan dengan ketekunan yang tak terbayangkan. Ia menyimpulkan bahwa Maluku-lah pusat peradaban dunia, tempat sentral garis pemisah antara keluarga flora-fauna yang berbeda spesies dari Asia dan Eropa.

Temuan Wallace yang mencengangkan adalah bahwa hewan-hewan yang terlihat berbeda-beda itu banyak yang berasal dari spesies yang sama. Itu mengingatkan kita kepada Charles Darwin yang melakukan penelitian yang sama dan kemudian menulis buku “The Origin of Species” 1859 yang melahirkan Teori Evolusi yang menjadi salah satu teori paling penting dalam ilmu pengetahuan dunia.

Tidak ada teori ilmu pengetahuan yang paling kontroversial seperti Teori Evolusi yang bisa membelah pendapat manusia persis menjadi dua kelompok; evolusionis dan kreasionis. Kalau Anda percaya kepada teori evolusi berarti Anda percaya manusia seperti kita mempunyai nenek moyang monyet. Kalau Anda percaya kepada teori kreasionis berarti Anda tidak percaya kepada teori evolusi dan meyakini sepenuh iman bahwa nenek moyang manusia adalah Nabi Adam Alaihissalam.

Dimana titik persinggungan Darwin dan Wallace? Ternyata Wallace menemukan teoinya setahun lebih dahulu daripada Darwin di Galapados. Wallace menemukan teori itu di Maluku dan mengomunikasikannya melalui surat kepada Darwin setahun sebelum Darwin mempublikasikan temuannya. Bisa disimpulkan bahwa Wallace adalah bapak teori evolusi dunia, dan tidak berlebihan jika Maluku disebut sebagai sentral ilmu pengetahuan dan dunia, dan–siapa tahu–Maluku adalah bagian dari pusat peradaban awal dunia yang dikenal sebagai negara Atlantis yang hilang dan tak perneh ditemukan kembali.

Baca Juga:  Diisukan akan nahkodai Demokrat Jatim, Emil dinilai kurang optimal jadi pengurus parpol

Maluku juga menjadi pusat perkembangan agama-agama Islam dan Nasrani. Kerajaan Islam sudah muncul kokoh di abad ke-16 sebelum bangsa Eropa memperkenalkan agama Nasrani. Dalam perjalanan sejarah, Maluku menjadi ajang konflik agama antara Islam dan Kristen yang dibawa pedagang Eropa. Ulama-ulama Maluku dibunuh dan dibuang ke luar negeri. Salah satunya, Tuan Guru, diasingkan ke Afrika diasingkan oleh Balanda ke Afrika Selatan dan menjadi guru Islam paling berpengaruh di Afrika Selatan.

Pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela mengakui kontribusi Tuan Guru dan Syech Yusuf dalam memberikan pendidikan kepada kaum kulit hitam di Afrka Selatan yang kemudian menjadi bekal penting dalam kemerdekaan Afrika Selatan dari pemerintahan apartheid.

Masa-masa awal abad ke-19 nama Indonesia mulai muncul di kalangan kaum pergerakan. Sebuah wilayah Nusantara dengan belasan ribu pulau dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda akan dipersatukan menjadi sebuah negara kesatuan. Sebuah pemikiran yang tidak main-main karena tidak ada presedennya di dunia. Tetapi ternyata negara yang unik bernama Indonesia itu lahir juga pada 1945. Elizabet Pisani dalam buku “Indonesia Etc; Exploring the Improbable Nation” (2014) dengan penuh kejenakaan menyebut kemerdekaan Indonesia tergesa-gesa dan serampangan (haphazard). Hal itu bisa dilihat dari naskah proklamasi yang didiktekan Sukarno dengan tergesa-gesa dan banyak coretan sehingga muncul kalimat “dan lain-lain” (etc) dan “dalam waktu sesingkat-singkatnya” (as soon as possible). Tidak ada dokumen dunia yang setergesa-gesa naskah proklamasi Indonesia. Begitu simpulan Pisani.

Meski demikian, dalam pengembaraan ke berbagai wilayah Indonesia itu Pisani menemukan kecantikan, keindahan, dan kekuatan masyarakat Indonesia. Pisani pun jatuh cinta kepada Indonesia seumur hidupnya. Pisani juga menikah dengan pria Indonesia sampai sekarang.

Mendiang Ben Anderson dengan terheran-heran menggambarkan Indonesia sebagai “imagined community” sebuah masyarakat yang menyatu karena kesamaan “bayang-bayang” cita-cita yang sama. Meskipun bayangan cita-cita itu tidak bisa dijelaskan secara kongkret tetapi ia bisa menjadi perekat yang sangat kuat dan efektif.

Baca Juga:  Jatim ditunjuk sebagai tuan rumah Liga Panahan Indonesia 2019

Berbeda dengan Anderson, Francis Fukuyama dengan jelas mengidentifikasikan beberapa faktor yang menjadi perekat bangsa Indonesia. Salah satu yang paling penting adalah “lingua franca” bahasa bersama yang menyatukan bentangan Nusantara, yaitu Bahasa Indonesia. Dalam karya dua volume tebal terbarunya “The Political Order and Political Decay” (2014) Fukuyama memberi bab khusus untuk membahas Indonesia. Ia menyebutkan bahwa Sumpah Pemuda 1928 adalah momen paling penting dalam sejarah Indonesia yang menjadikan kita negara satu dalam kebhinekaan. Lingua franca Bahasa Indonesia menyatukan bangsa Indonesia selama masih “diugemi” bersama-sama dua poin lain Sumpah Pemuda; tanah air dan bangsa. Bangsa-bangsa lain yang tidak disatukan lingua franca seperti Indonesia akan ambruk, misalnya Yugoslavia.

Bagaimana lingau franca bisa lahir? Disinilah Maluku kembali mempunyai peran sentral. Adalah misionaris Franxiscus Caverius pada abad ke-18 yang pertama kali mengajarkan lingua franca di Maluku yang kemudian menyebar ke seluruh Nusantara yang kemudian menjadi cikal bakal Indonesia.

Melihat betapa sentralnya peran Maluku dalam sejarah peradaban dunia, dan betapa pentingnya posisi Maluku sebagai perekat NKRI, tidak mengherankan bahwa para pengacau yang ingin menghancurkan NKRI terlebih dahulu ingin menghancurkan Maluku. Jika Maluku hancur Indoensia akan hancur. Itulah pikiran yang ada di otak para pengacau yang memprovokasi kerusuhan Ambon pada masa-masa reformasi 1998. Jika eksperimen penghancuran NKRI ketika itu berhasil maka tidak akan ada lagi negara kesatuan seperti Indonesia di muka bumi ini. Alhamdulillah, Puji Tuhan, konspirasi jahat itu gagal. Maluku tetap utuh dan NKRI pun tetap utuh.

Hari ini, 9 Februari 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional 2017, kita bersama-sama mendeklarasikan kebangkitan kembali Maluku. Kebangkitan Maluku akan menjadi kebangkitan Indonesia, sebagaimana kehancuran Maluku akan menjadi kehancuran Indonesia.

*Penulis adalah mantan Ketua PWI Jawa Timur dua periode (2000-2010)