LENSAINDONESIA.COM: Presiden Republik Indonesia keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara terbuka menyatakan bahwa tindakan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menudingnya melakukan kriminalisasi dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen saat ini memiliki muatan politik, salah satunya terkait Pilkada DKI Jakarta 2017.

Menurut SBY serangan politik telah diterimanya sejak November 2016.

“Setelah sejak November saya SBY terus diserang dan dihancurkan nama baik saya. Tujuannya jelas sekali agar elektabilitas Agus Harimurti drop dan menurun dan kemudian kalah dalam pilkada. Tapi nampaknya masih belum puas, kraena hari ini harus menghancurkan nama SBY dan AHY di jam-jam terakhir di pemungutan suara,” kata SBY dalam jumpa pers di kediaman pribadinya, Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan, Selasa (14/02/2017) malam.

Serangan bertubi-tubi yang disebut SBY makin menjadi saat Antasari Azhar menuduh dirinya mengetahui dugaan konspirasi terkait pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

SBY tegas membantah melakukan konspirasi juga membantah mengintervensi proses hukum terhadap Antasari.

“Saudara-saudara hari ini Antasari mengeluarkan statement di Bareskrim Polri yang esensinya menuduh dan menyerang saya, merusak nama saya, sebenarnya sudah lama saya memperkirakan hal ini akan terjadi,” imbuhnya.

Soal serangan tudingan Antasari itu, SBY mengaku sudah lama mendapat informasi adanya gerakan untuk memojokkan dirinya bersama keluarga.

“Adalah saudara-saudara dan sahabat-sahabat saya yang juga mengingatkan saya awas Pak SBY sepertinya akan ada gerakan politik yang akan menggunakan Antasari untuk menyerang dan mendiskreditkan Pak SBY. Itu saya dengar sudah cukup lama barangkali sejak 2 bulan yang lalu dan ternyata hal itu benar terjadi pada hari ini,” tutur SBY.

Tuduhan Antasari disebut SBY bertujuan untuk memojokkan putranya Agus Harimurti Yudhyono yang maju di Pilkada DKI bersama Sylviana Murni. SBY lantas mengaitkan grasi yang diterima Antasari dari Presiden Joko Widodo berkaitan erat dengan aksi Antasari.

“Saya harus mengatakan bahwa nampaknya grasi Presiden Jokowi ada muatan politiknya, sepertinya sepertinya ada misi untuk menyerang dan merusak nama saya juga keluarga saya. Serangan ini diluncurkan dan dilancarkan satu hari sebelum pemungutan suara, sebelum pencoblosan pilkada Jakarta. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa serangan fitnah dan pembunuhan karakter ini terkait langsung dengan Pilkada Jakarta,” sambungnya.

“Saya ulangi lagi terkait langsung dengan pemungutan suara yang insya Allah akan dilaksanakan esok hari,” tegas SBY.

Dengan serangan ini, SBY menduga pihak penyerang menginginkan kekalahan Agus dan Sylvi dalam pilkada yang pemungutan suaranya dilakukan pada besok 15 Februari.

“Saya dari hati yang paling dalam harus mengatakan luar biasa politik ini luar biasa negara kita sekarang ini,” tandas SBY.@LI-13