LENSAINDONESIA.COM: Pakar hukum tata negara Yusril Ihaza Mehendra menanggapi aksi saling lapor ke Bareskrim Polri antara mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasi Azhar dengan Presiden RI keenam Sosilo Bambang Yudhoyono.

Mantan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkumham) ini mengatakan, bahwa kasus yang terjadi ini menggelinding tak terbendung karena didukung kebebasan informasi.

“Biarkan itu menjadi dinamika politik dari bangsa kita dari aksi dan reaksi karena menyampaikan pendapat itu sudah mudah,” jelas Yusril Izha Mahendra, saat sedang melakukan pencoblosan di TPS 51, Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (15/02/2017) kemarin.

Yusril menyarankan agar semua pihak dapat menahan diri dari kasus yang terjadi saat ini agar kebebasan yang telah dinikmati tidak menjadi konsumsi kepentingan para penguasa.

“Ini kan zamannya Kebebasan orang bicara namun hanya saja jangan subjektif kepada kepentingan penguasa yang sifatnya powerfull,” terang Yusril.

Diketahui, perseteruan antara Antasari Azhar dengan SBY ini kian panas setelah Antasari berbicara blak-blakan di media massa dan melapor ke Bareskrim Polri. Antasari menilai bahwa dirinya menjadi korban diskriminasi dalam kasus pembunuhan Direktur PT Rajawali Banjaran, Nasruddin Zulkarnaen.

Antasari Azhar menyebut SBY sebagai aktor di balik layar dalam rekayasa kasus pembunuhan bos PT Putra Rajawali Banjaran itu.

Menurut dia, SBY yang memerintahkan kepada pihak tertentu agar mengkriminalisasinya. Caranya dengan membuat bukti-bukti palsu, seperti bukti percakapan melalui pesan singkat atau SMS yang hingga kini masih ia permasalahkan.

SBY sudah menanggapi tudingan Antasari. Dia mengatakan, tuduhan Antasari terhadap dirinya tidak benar, tanpa dasar dan liar. Untuk itu, SBY meminta aparat penegak hukum untuk membuka kembali kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Kuasa hukum SBY juga sudah melaporkan Antasari ke Bareskrim Polri.@LI-13