LENSAINDONESIA.COM: Sebanyak 139 anggota Polri yang tergabung di Satgas Formed Police Unit (FPU) ke-8 yang tertahan di Sudan akhirnya diperbolehkan pulang ke Indonesia.

Hasil investigasi tim yang dibentuk otoritas Sudan bersama United Nations Hybrid Operation in Darfur (Unamid), tidak menemukan bukti keterlibatan penyelundupan senjata.

Sekretaris National Central Bureau (NCB)-Interpol Polri Brigjen Naufal Yahya mengatakan, dalam sepuluh hari ke depan, mereka akan segera pulang ke Tanah Air setelah bertugas dalam misi perdamaian bersama Unamid setahun lebih sejak Januari 2016.

“Department for Peace Keeping PBB telah mengirimkan nota diplomatik ke perwakilan Indonesia di New York untuk memproses kepulangan FPU ke-8. Infonya sebentar lagi mereka sudah bisa pulang,” kata Naufal saat dihubungi, kemarin.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul menambahkan saat ini pihaknya tengah mengurus perizinan pendaratan pesawat yang akan menjemput mereka.

“Izin masuk ke wilayah Sudan harus diperoleh sehingga bisa mendarat di Sudan untuk bawa pulang anggota FPU. Proses kepulangan sekitar 7 hari-10 hari ke depan,” kata Martinus.

Sebelumnya, pada 20 Januari lalu, kepulangan 139 anggota Polri itu tertahan lantaran mereka dituduh hendak menyelundupkan senjata. Insiden itu terjadi saat mereka sedang check-in bagasi di Bandara El Fasher, Sudan.

Dilansir dari laman Sudan Tribune edisi Sabtu (21/1/2017), otoritas Sudan menyita 29 senapan Kalashnikov, 6 senjata api GM3, dan 61 buah pistol beragam jenis dengan amunisinya.

“Otoritas Sudan bersama Unamid telah melakukan investigasi tertutup atas tuduhan itu, tetapi merahasiakan hasilnya. Namun, informasi yang kami dapat, sepuluh tas berisi senjata dan amunisi itu bukan milik kontingen Indonesia,” terang Martinus. @mid/licom