Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Muntah darah dan meninggal, Kakek diseret polisi dan dituduh bandar Narkoba
Jenazah Kakek Suharto saat disemayamkan di rumah duka, Jalan Tempel Sukorejo Gg I, Surabaya. @foto: rofik
Hukum

Muntah darah dan meninggal, Kakek diseret polisi dan dituduh bandar Narkoba 

LENSAINDONESIA.COM: Suharto (68), seorang kakek warga Jalan Tempel Sukorejo
Gg I, Surabaya, meninggal dunia setelah dituduh sebagai bandar Narkoba. Ia meninggal diduga akibat shock berat, saat mendapat perawatan di RS William Boot, Surabaya.

Sebelum dilarikan ke rumah sakit, kakek ini sempat diseret tiga oknum anggota Satreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Rabu siang (22/2/2017).

Keluarga korban mengakui kakek ini mempunyai riwayat penyakit asma. Keluarga sangat terkejut, ketika menyaksikan tiga oknum polisi datang mengobrak-abrik rumahnya, dan menuduh si kakek bandar Narkoba.

Ketiga oknum anggota Satreskoba itu, salah satunya dikenal dengan sebutan Jet Lie. Saat itu, ketiganya mendatangi rumah korban sekitar Pukul 15.00 WIB dengan alasan
melakukan pengembangan penyelidikan kasus narkoba. Mereka melakukan penggeledahan
di dalam rumah korban.

Salah seorang keluarga korban saat ditemui LICOM di rumahnya, menceritakan, ketiga oknum polisi itu mengaku mencari rumah tersangka pengedar Narkoba berinisial DP.

“Saat itu, mereka mencari DP dan menanyakan keberadaannya. Saya jawab, ini bukan rumahnya,” terang keluarga korban yang meminta identitasnya dirahasiakan, sebut saja Adik.

Tidak puas dengan jawaban Adik, ketiganya membentak si Kakek yang saat itu juga ikut menyerga sikap polisi yang dinilai semena-mena. Bahkan, salah satu oknum melakukan
pengancaman akan menembaknya.

“Jawab yang benar, kalau bohong saya tembak kamu,” kata Adik menirukan ucapan oknum yang diketahui bernama panggilan Jet li.

Tak berhenti disitu. Oknum polisi itu masih tetap mengacak-acak isi rumah guna mencari barang bukti. Lantas, oknum itu menemukan sebuah plastik klip dan alat suntik bekas. Oknum itu pun klaim sebagai barang bukti guna menjerat si Kakek.

“Korban (Suharto) sudah bilang kalau dia sakit, dia tidak tahu apa-apa. Soal plastik klip itu milik istri korban untuk tempat sambal. Sedangkan suntikan bekas itu milik anak korban, yang biasa dipakai untuk memberi makan burung merpati,” imbuh saksi itu.

Baca Juga:  Perintahkan Dirut Pertamina dan Ahok secepatnya bangun kilang minyak, Jokowi: 32 tahun enggak bisa, kebangetan!

Tak menghiraukan kata-kata si Kakek, ketiga oknum itu menyeret Kakek ini ke luar rumah hingga sejauh 20 meter. Saat itu, Kakek ini kembali mengingatkan kalau dirinya sedang sakit dan tidak kuat berjalan. Tapi lagi-lagi, oknum polisi itu membentak korban.

Rasmat, saksi lain yang menolong korban saat terjatuh akibat diseret polisi, ia membenarkan kejadian tersebut. Rasmat mengaku dirinya melihat langsung saat polisi membentak korban. Bahkan, korban sempat terkulai usai memuntahkan cairan seperti darah sambil nafas terengal-sengal.

“Saat itu saya lihat sendiri, polisi tiga orang menyeret korban, meskipun korban bilang kalau sakit, malah dibentak,” terang Rasmat.

Rasmat pun menirukan ucapan oknum polisi saat menghardik korban. “Alasan kamu, bajingan, bandar ya!”.

Menurut Rasmat, tidak lama korban terkulai sambil muntah darah, dia minta minum. “Saya ambilkan di tempat tetangga,” ungkap Rasmat. Ketiga polisi itu setelah melihat korban terkapar dengan nafas tersengal, Rasmat menyaksikan sikap tidak terpuji sebagai aparat penegak hukum.

“Pas korban terkapar di bangku ujung gang, polisi bilang; Wis gowoen ngaleh iki. Aku gak butuh wong loroh-lorohen (Udah bawa pergi, saya gak butuh orang sakit-sakitan),” kata Rasmat menirukan ucapan polisi.

“Terus mereka pergi begitu saja,” kata Rasmat.

Setelah dibawa ke rumah, Kakek Suharto shock berat dan kondisi fisiknya langsung drop, bahkan sempat pingsan. Akhirnya, keluarga korban membawanya ke Rumah Sakit William Booth untuk perawatan intensif. Tidak sampai lebih sehari dirawat, korban akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Kamis sekitar pukul 15.00 WIB.

Warga dan keluarga korban yang sangat terpukul akibat nasib yang dialami sang kakek, akhirnya dengan menanggung kepedihan, memakamkan jenazah korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jumat (24/2/2017) sekitar pukul 9.00 WIB. @rofik.

Baca Juga:  Presiden perintahkan buka ruang investasi industri substitusi impor, tekan defisit