LENSAINDONESIA.COM: Karno (70) ahli waris pemilik tanah di Jl Raya Tanjungsari melalui kuasa hukumnya, Yusten Yambormia mempertanyakan bukti yang dijadikan dasar Pemerintah Kota Surabaya untuk mengklaim bahwa lahan di persil 34-36 adalah asetnya.

Pria sepuh ini resah, sebab Pemkot Surabaya telah menguasai tanah warisan orang tuanya. Terlebih, hingga saat ini pihak pemkot tidak pernah mau menunjukkan bukti kepemilikan.

“Pemkot telah mengklaim bidang tanah milik klien kami, tapi mereka tidak bisa menunjukan bukti kepemilikannya. Sementara kami (ahli waris) punya bukti sebagai pemilik yang sah,” terang Yusten kepada lensaindonesia.com di Surabaya, Kamis (16/03/2017).

Yusten juga menyatakan, bahwa bidang tanah yang diklaim Pemkot salah alamat. Sebab letak tanah yang diklaim berada di persil 11. Sedangkan lahan milik klienya ada di persil 34-36.

“Tanah klien kami berada di persil 34 dan 36, jadi secara hukum tidak ada bersinggungan dengan Pemkot. Tetapi mengapa Pemkot menempati tanah milik klien kami? Ini semu perlu dijelaskan. Barang kali pemkot salah lokasi. “Oleh karena itu, kami minta lurah membuka kretek untuk membuktikan dan cocokan dengan yang kami punya, jangan hanya mengklaim tanpa didasari bukti,” tantangnya.

Yusten pun heren dengan pihak Pemkot Surabaya yang malah melaporkan balik Karno dengan tuduhan penyerobotan tanah.

“Kita minta tunjukkan bukti malah melaporkan balik. Pemkot juga terkesan arogan, sekarang lokasi tanah milik klien kami dipasang pagar kawat berduri. Plang yang kita pasang juga dirobohkan Satpol PP,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Karno (70) dilaporkan telah melakukan penyerobotan tanah oleh Pemkot Surabaya ke Polresrestabes.

Laporan itu dilakukan setelah Karno mempertanyakan lahan seluas seluas 2 hektare lebih warisan orang tuanya yang ada di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Tandes (sekarang Sukomanunggal) dikuasai oleh Pemkot Surabaya dan digunakan sebagai gudang sitaan barang Satpol PP.

Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah (DPBT) Pemkot Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu mengatakan, laporan balik tersebut dilakukan sebab lahan tersebut resmi milik Pemkot Surabaya atas nama Poernomo Kasidi yang menjabat sebagai Wali Kota Surabaya selama dua periode, yaitu tahun 1984-1989 dan 1989-1994.

“Kita sudah melaporkan balik mas. Ya laporanya penyerobotan tanah karena jelas tanah itu milik Pemkot Surabaya atas nama Poernomo Kasidi,” kata Maria Theresia Ekawati Rahayu, Rabu (15/03/2017).

Saat ditanya tentang bukti kepemilikan tanah warga bernama Karno, mantan Kabag Hukum pemkot Surabaya ini menyatakan manunggu proses hukum yang sudah berjalan.

“Ya tentunya kita tunggu hasilnya. Kan sudah berjalan proses hukumnya,” kata pejabat yang akrab disapa Yayuk ini.@rofik