Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
D-NET tawarkan layanan VOIP bertarif Rp 12 per detik
D-NET mengumumkan pergantian logo baru mengusung Spirit Modern dan Energetik sekaligus resmikan website domain baru www.dnetprovider.id berikut wajah baru. Foto-ist
Bisnis

D-NET tawarkan layanan VOIP bertarif Rp 12 per detik 

LENSAINDONESIA.COM: Hari ini D-NET mengumumkan pergantian logo baru mengusung Spirit Modern dan Energetik sekaligus resmikan website domain baru www.dnetprovider.id berikut wajah baru.

M. Faris Rachman, Project Manager D-NET mengatakan, pihaknya juga meluncurkan dua layanan baru diantaranya D-NET Dreams dan D-NET Voice. Adapun D-NET Dreams merupakan layanan berbasis messaging solution yang meliputi layanan chat, e-marketing dan security system. Sedangkan D-NET voice, sudah diketahui dari namanya merupakan layanan berbasis VOIP (Voice Over Internet Protocol).

“Layanan baru ini merupakan nilai tambah bagi pelanggan kami, dan memang layanan ini menyasar segmen korporat. Seperti halnya layanan baru D-NET Voice, hal ini sangat memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan VOIP dengan biaya hemat. Apalagi tarif yang ditawarkan Rp 12 per detik sesuai pemakaian tanpa pembulatan, cukup kompetitif. Inovasi ini pun atas kerja sama kami dengan pihak JJ Telecom sebagai konektor kepada operator selular untuk keperluan interkoneksi,” papar Faris kepada Lensaindonesia.com, Rabu (22/03/2017).

Faris menambahkan, biaya yang dikeluarkan para korporat tersebut mampu menghemat 30 hingga 50 persen dari ARPU penggunaan data berbasis operator seluler. Namun untuk VOIP yang terkoneksi dengan smartphone, itu pun perlu penyesuaian IP PABX.

“Untuk layanan D-NET Voice ini kami memang menganjurkan untuk menggunakan device dari kami berupa PABX. Jika menggunakan smartphone, kami belum berani menjamin kualitas koneksinya. Namun, kami optimis akan mencapai target layanan ini mampu mengcover 20 hingga 30 persen dari total pelanggan D-NET yang saat ini mencapai 1.500 lebih,” tandas Faris.

D-NET juga menyasar daerah wisata yang mampu mengundang devisa, terutama di segmen hospitality yang memang membutuhkan koneksi internet cepat.

“Ke depannya kami menyasar ke Lombok, Banyuwangi, dan Makassar yang masih belum banyak pesaingnya. Dari ketiga kota tersebut masing-masing kami menargetkan 30 korporat. Dan untuk memenuhi infrastruktur yang maksimal, kami menganggarkan biaya hingga Rp 20 miliar,” pungkas Faris.@Eld-Licom

Baca Juga:  Keputusan Menag 982 tahun 2019 mengundang polemik, ini kata Ketua Harian Halal Institute