LENSAINDONESIA.COM: Aksi penipuan Gunadi (40) warga Jl Tempel Sukorejo I Surabaya ini berakhir setelah diciduk Tim Anti Bandit Polsek Gayungan. Berbekal karet kondom dan aluminium, pelaku dan 6 anggota komplotannya sudah menipu 100 lebih pembeli burung beo palsu abal abal yang ditawarkannya.

Di hadapan petugas Polsek Gayungan, Gunadi memperagakan dirinya menipu pembeli dengan menirukan suara burung beo, yaitu dengan cara karet kondom dan alumunium yang sudah dimodifikasi lalu ditaruh di atas lidahnya. Saat pembeli yang disasarnya datang, dari mulutnya keluar bunyi burung beo anakan. Sedangkan di dalam tas yang dibawanya, burung beker yang mirip beo, diperlihatkan agar sang pembeli semakin percaya.

“Saya membandrol harga paling murah Rp 2,5 juta bahkan ada yang nekat mau beli hingga Rp 4 juta. Padahal saya beli burung beker tersebut seharga Rp 175 ribu saja,” aku Gunadi, Minggu (26/03/2017).

Keuntungan yang didapat komplotan yang sudah beraksi sejak 2014 ini dinikmati 7 orang anggota lainnya termasuk Gunadi. Masing-masing anggota komplotan ini punya peran masing-masing. Ada yang bertugas sebagai penyiul suara burung hingga meyakinkan pembeli bahwa burung tersebut layak dibeli karena suaranya bagus.

“Saya tidak ingat pasti berapa burung beker yang sudah berhasil terjual. Pokoknya antara 100-an burung. Saya kan tidak sendirian kerjanya, melainkan bersama-sama. Daerah operasi komplotan saya biasa di daerah Cito dan Bungurasih,” imbuh pria yang sehari-hari juga bekerja sebagai kuli bangunan ini.

Sementara itu, Kapolsek Gayungan Kompol Esti S Oetami mengatakan, Gunadi sendiri ditangkap Tim Anti Bandit Polsek Gayungan setelah Zusdi Andreansyah (39) warga Jl Girilaya IV Surabaya, tertangkap lebih dulu di parkiran Mall Cito, Rabu (22/3/2017) lalu.

“Kemudian dilakukan pengembangan, hingga berhasil ditangkap Gunadi di hari yang sama dirumahnya. Keduanya kami tangkap atas laporan korban MK, warga asal Jatipurwo, Kendal Jawa Tengah,” ujarnya.

Kompol Esti menambahkan, komplotan ini selalu menyasar orang-orang dari luar kota Surabaya. Modusnya, mereka berkenalan terlebih dahulu untuk memastikan asal korban. Setelah kenal, mereka beraksi dengan peran masing masing. “Gunadi sebagai peniup bunyi burung beo dengan mulut. Sedangkan Zusdi berperan sebagai pembawa burung dan menerima uang transaksi pembelian,” imbuhnya.

Menurut Kompol Esti, saat disergap Kanit Reskrim Polsek Gayungan, Iptu Zainul Abidin dan anggotanya, Gunadi sempat melawan dan berontak dengan menuduh polisi berpakaian preman adalah orang yang hendak melakukan penganiayaan. “Beruntung, anggota saya langsung sigap dan berhasil membawa Gunadi ke Mapolsek. Kami amankan juga sebilah sajam dari tangan Gunadi,” tambahnya.

Barang bukti yang diamankan Tim Anti Bandit Polsek Gayungan senjata tajam bentuk pisau lipat, alat siul yang sudah dimodifikasi, 3 handphone, jimat berupa akik dan kalung, uang Rp 1 Juta dan seekor burung beker.

“Gunadi dan Zusdi kami jerat Pasal 378 KUHP tentang penipuan. Namun untuk Gunadi, kami lapis dengan menjeratnya dengan UU Darurat Nomor 12 tahun 1951 karena terbukti membawa senjata tajam,” tutup perwira dengan satu balok di pundaknya ini. @nanda