Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Melihat interaksi budaya dan geliat ekonomi di pasar tradisional Denpasar
Pasar tradisional di Denpasar tetap menjaga budaya serta bersih dan nyaman dikunjungi. Foto: Iwan/LensaIndonesia.com
BALI / NTB / NTT / PAPUA

Melihat interaksi budaya dan geliat ekonomi di pasar tradisional Denpasar 

LENSAINDONESIA.COM: Pengelolahan pasar tradisional di Kota Denpasar, Bali mendapat apresiasi dari dari nasional dan Internasional. Selain tetap menjaga budaya dan tradisi, keberadaan pasar tradisional juga tetap menjadi barometer ekonomi masyarakat dan nyaman dikunjungi karena bersih dan nyaman.

Kota Denpasar sendiri terletak di pulau Bali memiliki luas 12.778 km atau 22,1% dari luas pulau Bali 57.800 km. Kota Denpasar yang di bagian utara berbatasan dengan kabupaten Badung dan Gianyar, di selatan juga berbatasan dengan kabupaten badung, batas timur dengan Selat Badung dan batas baratnya juga dengan kabupaten Badung.

Kota ini terdiri dari 4 kecamatan yang terdiri dari 43 desa (27 desa, 16 kelurahan), 35 desa pakraman, 360 banjar adat dan 41 subak. Kota Denpasar jumlah penduduknya sekitar 846.000 jiwa, dengan laju pertumbuhan ekonominya 4% per tahun.

Salah satu pasar yang terkenal dan masuk percontohan adalah pasar Sindhu yang tidak hanya menjadi pusat perdagangan sebagai tempat transaksi jual beli. Namun, juga sebagai tempat kegiatan sosial serta ada aspek budaya didalamnya.

“Pengelolaan Pasar Tradisional pun juga memberikan sumbangsi PAD bagi Bali. Namun tidak terlalu besar,” ungkap pengelola pasar Sindu desa Sanur, Made Sidarta kepada LIcom ketika mengunjungi Denpasar.

Dia menambahkan, wajar saja salah satu pengelolaan pasar tradisional di Bali mendapat penghargaan sebagai pasar pengelolaan terbaik kedua ditingkat nasional.

Pengelolaan pasar tradisional yang berintegrasi dengan pasar wisata itu salah satunya adalah pasar Sindu. Pasar ini direvitalisasi sejak tahun 2010, berdiri diatas lahan 5,2 are atau 5200 m2. Sekitar 200 pedagang lokal yang berjualan dipasar Sindu tertata rapih. Nampak lantai keramik yang terpasang sangat bersih bebas dari sampah dan bau, terang Made Sidarta

Walau menyandang sebagai pasar tradisional, pasar Sindu banyak dikunjungi wisatawan asing yang mau berbelanja. “Pasar Sindu mulai beroperasi sejak pukul 03.00 waktu Bali berakhir sampai jam 12.00 wit. Disore hari diarea parkir pasar Sindu ditempati pasar senggol hingga pukul 22.00 wit” tandas Sidarta.

Sementara itu Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, I Gusti Ayu Laksmi Saraswati menjelaskan pasar tradisional yang disebutnya pasar rakyat bisa menjadi salah satu objek wisata. Ia mencontohkan seperti pasar Agung dan Sindu yang dijadikan pasar pencontohan nasional.

Pihaknya menjelaskan, semenjak pemerintah pusat meluncurkan program revitalisasi pasar tradisional, Pemkot Denpasar mulai menata sejumlah pasar-pasar tradisional, diantaranya pasar Agung dan Pasar Sindu.

“Sebelum revitalisasi omset pasar Agung hanya Rp2 miliar, setelah selesai direvitalisasi pada tahun 2012 omsetnya naik menjadi Rp5 miliar. Sekarang omsetnya Rp14 miliar,” ungkapnya

Keberhasilan pengelolahan pasar tradisional tersebut menurut Laksmi tidak lepas dari tetap dipertahankannya budaya dan interaksi antara penjual dan pembeli yang melakukan tawar menawar.

“Kita tetap pertahankan adanya interaksi sosial yakni adanya tawar menawar. Hal ini sebagai penguatan jati diri masyarakat kota Denpasar,”
ungkap Laksmi.

Laksmi menambahkan, tahun ini program Pemkot Denpasar adalah mengembangkan family busines bagi anak-anak pedagang. Hal tersebut dilakukan Pemkot Denpasar untuk mengurangi pengangguran dengan meneruskan bisnis orang tuanya berdagang di pasar.@wan