LENSAINDONESIA.COM: Ledakan di stasiun kereta api St Petersburg, Rusia pada Senin (3/4/2017) kemarin menewaskan 11 orang dan melukai 45 lainnya. Diduga, pelaku bom bunuh diri terkait dengan kelompok radikal ISIS.

Komite Investigasi Rusia menyebut peristiwa itu “aksi teror” namun akan mencari kemungkinan lain penyebab ledakan tersebut. Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut ataupun pernyataan resmi kemungkinan pelaku pengeboman adalah ISIS. Namun, dengan peran Rusia dalam perang Suriah melawan ISIS menjadikan negara ini jadi target para militannya.

Dalam gambar di televisi menunjukkan kondisi sebuah kereta api dengan pintu yang rusak, serta mayat-mayat yang berserakan di platform stasiun.

Kota ini mengumumkan tiga hari masa berkabung. Presiden Rusia, Vladimir Putin yang menggelar rapat di Istana Kepresidenan Strelna di kota itu, menyempatkan diri datang ke lokasi ledakan pada Senin malam. Dia meletakkan buket bunga berwarna merah dan menyampaikan duka cita untuk para korban. Sebelumnya dia bertemu dengan agen intelejen dari FSB, tim penyelamat dan kementerian dalam negeri.

Peristiwa ini membuat trauma sejumlah warga. “Sekarang saya tak lagi berani naik metro,” kata Maria Ilyina (30) kepada AFP.

“Sebelumnya kami berpikir tidak akan terjadi di St Petersburg, sekarang kota kami dalam ancaman.”

Pensiunan Vyacheslav Veselov mengatakan AFP bahwa dia melihat empat mayat di dalam stasiun. “Petugas stasiun berteriak meminta tolong untuk membawa jenazah ini,” katanya.

Ledakan terjadi di jalur antara Technological Institute dan stasiun Vosstaniya Square padaa pukul 2:40 pm waktu setempat, kata juru bicara komite anti terorisme (NAK) Andrei Przhezdomsky.

NAK juga mengumumkan telah menemukan bom lain di stasiun Vosstaniya Square, beruntung tidak meledak dan telah “dinetralkan”.

Peristiwa ini dikutuk sejumlah pemimpin negara. Kanselir Jerman, Angela Merkel menyebut ledakan ini sebagai “aksi barbar”.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow dan Washington telah saling mengontak membahas peristiwa ini lewat “jalur diplomatik” .

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini juga menyampaikan duka cita kepada para korban lewat Twitter-nya.

Russia memiliki ‘pengalaman’ sistem transportasinya diserang teror. Dua tahun lalu, kelompok ISIS mengatakan telah menembak jatuh pesawat yang membawa turis Rusia dari resor di Laut Merah. Seluruh penumpangnya, 224 orang tewas.

Pada 2010 lalu, 38 orang tewas setelah dua perempuan meledakkan diri sendiri di dalam kereta api di Moskow. Sebanyak 330 orang, sebagian besar adalah anak-anak terbunuh di tahun 2004 saat polisi menyerbu lokasi penyanderaan oleh militan ISIS. Di tahun 2002, 120 orang sandera tewas saat polisi menyerbu masuk ke sebuah teater di Moskow untuk mengakhiri drama penyanderaaan. @licom