LENSAINDONESIA.COM: Pembangunan Gedung Mess Asrama Brimob Polri di Cikeas Udik,
Cileungsi Bogor dikeluhkan sejumlah warung penjual nasi yang berjualan tidak jauh dari lokasi proyek. Pasalnya, beberapa mandor dari PT Paesa ‘ngemplang’ alias tidak bayar kasbon makan puluhan buruh pekerja pembangunan proyek tersebut.

Hal ini terungkap menyusul aksi yang berpotensi ricuh beberapa penjual nasi yang merasa dirugikan, pada jumat, (3/3/17) lalu saat meluruk kantor proyek PT Paesa, yang tidak jauh dari lokasi proyek. Buyung (43) salah satu pemilik warung yang merasa dirugikan, tidak terima dengan Muslih (36), satu dari 9 mandor PT Paesa ‘bermasalah’ yang membawahi 20 buruh pekerja, lantaran sudah hutang makan selama 14 hari, tapi tidak segera bayar.

Saat dikonfirmasi setelah diamankan, Muslih, warga Grobogan, Jawa Tengah ini mengaku terpaksa belum bisa bayar kasbon senilai Rp 8,5 juta pada pihak Warung Buyung, lantaran keburu diakhiri kontrak kerjanya secara sepihak oleh pihak kontraktor. Dia juga embenarkan opname progress pekerjaan yang ditangani sudah dibayarkan pihak kontraktor.

Namun, Muslih menuding akibat diakhiri sepihak, maka job desk sejumlah pekerjaan selanjutnya yang diharapkan untuk bisa membayar hutang makan pada Warung Buyung jadi gagal total.

“Kalau diberhentikan, gimana saya bisa bayar,” kilah Muslih, terkesan memasrahkan diri.

Saat bersamaan, Site Manager Proyek PT Paesa, Kun saat dikonfirmasi membenarkan kejadian ini, tapi dia terkesan lepas tangan dan tidak mau dipersalahkan dengan alasan sudah membayar semua kewajibanya pada Mandor bersangkutan. “Karena kami sudah membayar haknya Muslih, jadi itu bukan kewajiban kami lagi,” kilah Kun.

Disisi lain, Buyung, penjual nasi yang harus menghidupi 4 anaknya ini mengaku baru tiga bulan berjualan nasi dengan modal berhutang pada pihak ketiga. Dirinya tidak menduga jika niat usahanya untuk menghidupi keluarga harus berakhir seperti \ini, sementara dia harus menghidupi dan membayar hutangnya.

“Gak tahu Mas, harus bagaimana lagi…?” keluhnya.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, modal berhutang malah dikemplang. Belum lagi, tak lama setelah itu warung miliknya pun digusur pihak Trantib Satpol PP lantaran bertempat di fasum Dinas Tata kota Pemkot Bogor.

Kini, selain pasrah, Buyung hanya bisa berharap pada tanggungjawab dan kebijaksanaan pihak kontraktor. Mengingat, 9 mandor termasuk Mandor Muslih direkut langsung PT Paesa. Hal itu yang membuatnya percaya pada Muslih. Logikanya, segala tindak tanduk para mandor yang bekerja di PT Paesa untuk proyek Asrama Brimob Polri di Cikeas, menjadi tanggung jawab PT. Paesa.

“Karena PT Paesa yang merekrut dan mendatangkan buruh pekerja dan para mandor
itu langsung dari kampung. Jadi kontraktor tidak bisa lepas tangan begitu saja. Setidaknya terikat tanggung jawab moral, sosial dan material,” tegas Buyung, sembari menunjukkan catatan kasbon para pekerja proyek. @esa