LENSAINDONESIA.COM: Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA/MA mulai digelar hari ini, Senin (10/4/2017). Di Jatim ada sebanyak 1.454 siswa SMA yang mengikuti UNBK 2017.

Dengan rincian sebanyak 1.067 SMA melaksanakan UNBK secara mandiri dan 387 SMA masih menumpang. Serta sebnayak 942 Madrasah Aliyah (MA) dengan rincian 661 MA melaksanakan UNBK secara mandiri dan 281 MA masih menumpang di sekolah lain.

Gubernur Jatim Soekarwo mengaku optimistis pelaksanaan UNBK tingkat SMA/MA kali ini juga akan sukses, seperti UNBK tingkat SMK yang lalu. Terlebih telah ada perencanaan yang sangat matang yang disiapkan baik oleh siswa maupun para guru di masing-masing sekolah.

“Insya Allah UNBK SMA/MA ini sama suksesnya dengan UNBK SMK. Maka sebaiknya bagi para orang tua agar tenang dan tak perlu khawatir terhadap penyelenggaraan UNBK ini,” kata gubernur usai meninjau pelaksanaan UNBK di SMAN 5 Surabaya, SMAN 2 Surabaya, SMAN 1 Surabaya dan SMAN 9 Surabaya (SMA Kompleks), Senin (10/4/2017).

Pakde Karwo meyakinkan bahwa dari pengalaman UNBK tingkat SMK minggu lalu, masalah teknis seperti server dan gangguan listrik telah ditangani dengan baik. Misal di Surabaya, komunikasi antara helpdesk dan proktor atau pihak yang ditugaskan menangani server di sekolah, dilakukan lebih cepat. Helpdesk di Surabaya sendiri ada 25 dan siap proaktif untuk menjemput.

Gubernur Soekarwo menyempatkan diri mendoakan para siswa sebelum pelaksanaan UNBK 2017 tingkat SMA/MA di SMA Kompleks Surabaya. Foto: Humas Pemprov Jatim

Terkait masalah teknis ini, lanjut Pakde Karwo, setiap komputer di tiap sekolah telah memiliki Uninterruptible Power Supply atau UPS yang berfungsi untuk menyediakan daya listrik cadangan bagi perangkat komputer. Sehingga ketika listrik mati, masih ada waktu lima menit computer menyala dan data masih tersimpan.

“Setiap sekolah juga menyediakan genset, sehingga listrik mati, otomatis dalam waktu lima menit genset menyala,” imbuh Pakde Karwo.

Ditambahkan Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Suli Daim yang juga ikut mendampingi sidak gubernur, intinya semua sekolah di Jatim telah mempersiapkan langkah antisipasi terhadap kendala yang ada. Namun jika masih ditemui kendala, hal itu diluar kewenangan penyelenggara UNBK.

Yang terpenting sebenarnya, lanjut Suli, hasil UNBK ini tidak menjadi satu-satunya patokan untuk menetukan kelulusan siswa. Namun yang paling penting adalah sistem UNBK menanamkan nilai kejujuran terhadap anak-anak.

Sedangkan dari segi anggaran hal ini juga dinilai sebagai upaya penghematan anggaran. Karena ujian tak lagi memerlukan kertas, sehingga tak perlu mencetak kertas.

“Memang kalau dilihat sisi pengadaan komputer ini lebih mahal, tapi ini kan untuk pemakaian jangka panjang. Kami rasa ujian UNBK ini relatif lebih siap,” tukas angggota dewan asal Fraksi PAN ini.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Saiful Rachman mengatakan dari pelaksanaan UNBK tingkat SMK lalu, ada dua hal yang menjadi perhatian yakni tentang server dan soal ujian. Saat pelaksanaan UNBK SMK lalu, dari 1.798 sekolah hanya tiga sekolah yang mengalami gangguan server. Sehingga bila dihitung presentasinya sangat kecil.
Menurut Saiful, gangguan ini terjadi pada mata pelajaran pilihan atau kejuruan. “Kami langsung melakukan penggantian server dan pihak provinsi langsung menangani masalah ini,” katanya.

Terkait soal ujian, lanjut Saiful, kewenangan soal ujian adalah di tingkat pusat atau nasional. Termasuk soal masalah hacker, Dindik Jatim menegaskan bahwa saat pelaksanaan tidak bisa dihacker karena server berada di pusat.

“Sampai sini sudah semi online sehingga hacker tidak bisa menyerang pada saat pelaksanaan ujian,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, khusus UNBK tingkat SMA/MA tahun ini belum semuanya 100 persen menggunakan sistem berbasis komputer. Masih ada 12 SMA di kepulauan yang belum terakses internet dan 669 MA di Jatim masih menggunakan ujian berbasis kertas.@sarifa