LENSAINDONESIA.COM: Tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memerintahkan serangan puluhan rudal tomahawk ke pangkalan militer Suriah ditentang keras Rusia dan Iran.

Kedua negara sekutu pemerintahan Suriah yang sah pimpinan Presiden Bashar al-Assad ini mengancam akan mengerahkan pasukan yang lebih besar jika Amerika Serikat kembali melanggar ‘garis merah’ sekali lagi.

Dilansir dari laman the Independent, Senin (10/4), ancaman itu diungkapkan sebagai tanggapan atas serangan rudal tomahawk yang menghancurkan pangkalan militer Suriah di Homs. Kedua negara ini beraliansi untuk mendukung penuh kekuasaan Presiden Bashar al-Assad atas negerinya.

“Apa yang dilancarkan Amerika Serikat dalam agresi terhadap Suriah sudah melewati batas merah. Mulai saat ini kami akan merespons dengan kekuatan penuh setiap agresor atau penerobosan batas merah dari siapapun itu. Amerika tahu kemampuan kami untuk meresponsnya dengan baik,” demikian pernyataan pusat komando gabungan.

Perlu diketahui, Donald Trump sendiri berdalih serangan terhadap pangkalan udara al-Shayrat dekat Homs dengan menembakkan 59 rudal tomahawk merupakan sikap ‘mewakili dunia’. Pangkalan itu diduga digunakan militer Suriah untuk mempersiapkan serangan gas beracun, yang menewaskan lebih dari 70 warga sipil, termasuk anak-anak.

Amerika Serikat, Inggris dan Prancis menuduh Presiden Bashar al-Assad melakukan serangan kimia terhadap kota yang dikuasai pasukan pemberontak. Namun militer Suriah membantah keras tuduhan itu dan mengaku sudah menghancurkan penyimpanan senjata kimia sesuai perjanjian internasional pada 2013 lalu.

Menyikapi serangan rudal Amerika Serikat itu, Rusia mengirimkan kapal perang, Admiral Grigorovich yang dilengkapi rudal jelajah, sistem pertahanan rudal, artileri, senjata anti pesawat, torpedo dan dok helikopter ke Laut Mediterania. Kapal itu selama ini ditempatkan di Laut Hitam. @LI-15