LENSAINDONESIA.COM: Militer Amerika Serikat Kamis malam lalu menjatuhkan serangan bom terbesarke lokasi persembunyian kelompok ISIS di Provinsi Nangarhar, Afganistan.

Kementerian Pertahanan Afganistan mengatakan serangan dengan bom yang disebut ‘induk dari segala bom’ (MOAB) itu berhasil menewaskan 36 anggota ISIS.

Bom seberat 9,8 ton dan panjang 9 meter itu merupakan bom non-nuklir terbesar yang dimiliki Amerika Serikat. Tapi rupanya bom itu bukan yang paling dahsyat di muka bumi karena Rusia mengklaim memiliki ‘bapak dari segala bom’ (FOAB) yang dilaporkan lebih dahsyat 4 kali lipat dibanding bom MOAB.

Dikutip dari NDTV, Jumat (14/4), pada tahun 2007 Rusia menguji coba bom FOAB yang merupakan bom termobarik non-nuklir dengan daya hancur atau kawah bekas ledakan mencapai radius 300 meter dan ledakannya hampir setara 44 ton TNT, jauh beda dengan MOAB milik Amerika Serikat yang ‘hanya’ menghasilkan daya ledak setara 11 ton TNT.

Daya rusak FOAB yang mencapai radius 300 meter juga dua kali MOAB. Termasuk juga suhu panas dari bom FOAB yahng juga dua kali lipat ketimbang MOAB.