Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Ribuan pendukung Le Pen dan Macron rayakan kemenangan putaran pertama
Ribuan pendukung capres Emmanuel Macron merayakan kemenangan calonnya di putaran pertama Pilpres Prancis di Parc des Expositions. *(REUTERS/Philippe Wojazer)
Eropa

Ribuan pendukung Le Pen dan Macron rayakan kemenangan putaran pertama 

LENSAINDONESIA.COM: Ribuan pendukung calon presiden Prancis Emmanuel Macron serta capres dari sayap kanan-jauh, Marine Le Pen’ merayakan kemenangan kandidatnya yang lolos puaran kedua dalam Pilpres Prancis, Minggu (23/4/2017) malam.

Ribuan pendukung Macron, yang didominasi pendukung muda dan pemilih pemula bertepuk tangan, bernyanyi dan memeluk satu sama lain sembari berdansa. Adapun pesta kemenangan Le Pen digelar di sebuah pusat kebugaran di kota Henin-Beaumont, sebelah utara Prancis. Teriakan “Marine sang Presiden” terdengar dimana-mana. Nyanyian “La Marseillaise” juga terus dinyanyikan berulang-ulang, tulis Reuters.

Banyak pendukung Le Pen tak percaya jika kandidatnya bisa memenangkan putaran pertama. “Saatnya kita berpesta,” kata salah satu pendukung Le Pen, Aurore Cappelle, seorang penata rambut.

Mengutip AP, Le Pen menyebut dirinya sebagai “alternatif terbaik” bagi pemilih Prancis. Dia menyebut duelnya dengan Macron merupakan pertarungan dari “patriot” serta mengingatkan ancaman kehilangan pekerjaan di luar negeri, imigrasi massal, dan “kebebasan para teroris”.

“Saatnya membebaskan rakyat Prancis,” katanya yang disambut dengan lagu kebangsaan Prancis dan teriakan “Kita akan menang!” dari para pendukungnya.

Di seberang kota, pendukung Benoit Hamon dari Partai Sosialis dan kalah, meninggalkan lokasi perayaan dengan membisu dan tidak ada pesta sama sekali. Begitu pula pendukung dari partai konservatif, Francois Fillon yang menangisi kekalahan tersebut. Nasib yang tak jauh berbeda juga dialami pendukung Jean-Luc Melenchon.

Kemenangan Le Pen sendiri membuat sejumlah politisi kiri dan kanan beramai-ramai menyuarakan untuk mendesak pemilih agar tak memberikan suara pada pemimpin ekstrem itu pada putaran dua 7 Mei mendatang. Kebijakan Le Pen yang anti Uni Eropa dan anti-imigran bisa membawa bencana bagi Prancis.

“Ekstrimis hanya bisa membawa ketidakbahagiaan dan perpecahan bagi Prancis,” kata Francois Fillon, kandidat presiden yang kalah mengutip AP.

“Tidak ada pilihan lain selain memberikan suara yang melawan ekstrem kanan.”

Baca Juga:  Pengurus Perwosi Jombang dikukuhkan, bupati janji tingkatkan anggaran Rp50 juta per tahun

Bila Macron adalah sosok yang punya visi optimis dan toleran dan mempersatukan Uni Eropa dengan membuka perbatasannya, maka Le Pen adalah kebalikannya. Dia menekankan perlunya mendahulukan kepentingan Prancis lebih dulu, mentuup perbatasan dan memperketat keamanan, mengurangi imigrasi dan mengembalikan mata uang Prancis yaitu Franc ketimbang Euro.

Hingga kini perhitungan sudah mencapai 90 persen. Menurut Kementerian Dalam Negeri perolehan suara Macron mencapai 24 persen, sedangkan Le Pen 22 persen. Adapun Fillon di bawah 20 persen, sedangkan Jean-Luc Melenchon hanya 19 persen. @licom