LENSAINDONESIA.COM: Polemik terkait keberadaan pasar grosir tidak resmi yang dikeluhkan pedagang Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS) mendapat reaksi dari pedagang pasar Tanjung Sari. Pedagang yang mayoritas berjualan buah ini menolak dikatakan keberadaanya sebagai pasar ilegal dan dianggap menggangu.

“Kami warga Surabaya asli dan sudah berdagang dengan tenang kenapa dikatakan menggangu pasar lainya. Kalau soal transaksi kita tidak bisa membatasi grosir atau eceran. Kami juga sudah tertib dan tidak mengganggu jalan umum,” kaya Umbar Rifai perwakilan pedagang pasar Tanjungsari, Rabu (10/05/2017).

Menurutnya, jika ada pasar lain yang mengeluh dan meminta pedagang pasar Tanjungsari pindah ke PIOS dalah bentuk tindakan monopoli. Hal ini dikarenakan PIOS karena pemiliknya swasta.

“Kalau kami diarahkan pindah ke PIOS, ini namanya monopoli, karena PIOS juga swasta. Mari bersaing saja yang sehat,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Umbar Rifai juga berharap agar Pemkot Surabaya segera memiliki pasar buah induk, supaya para pedagang seperti dirinya bisa berjualan dengan rasa yang nyaman dan tenang.

“Kami berharap Bu Risma bisa membina dan melindungi kami. Karena kami yang ada di Tanjungsari sudah trauma dengan kejadian tahun 2010, yang saat itu selalu diobrak terus, sekarang kami hanya pingin tenang,” pintanya.

Terkait aturan, Umbar Rifai berpendapat jika pencantuman aturan soal sistem penjualan eceran dan grosir yang diberlakukan kepada pedagang, merupakan regulasi yang tidak adil, karena sangat merugikan pedagang.

Padahal, lanjutnya, pasar buah Tanjungsari merupakan salah satu pasar dari lima pasar yang sudah mengantongi ijin, sementara jumlah pasar seluruh Kota Surabaya mencapai ratusan.

“Disini kami memang menjual eceran juga grosir, tetapi kalau ada aturan tentang sistem penjualan yakni eceran dan grosir, tentu akan merugikan pedagang, ini tidak adil,” tandasnya.@wan