LENSAINDONESIA.COM : Halaqah Internasional Gerakan Pemuda (GP) Ansor di GOR Hasbullah Said Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas dibuka langsung oleh KH Mustofa Bisri melalui tayangan rekaman video. Dalam tayangan video layar lebar KH Mustofa Bisri menyampaikan hasil dari halaqah internasional ini akan disosialisasikan ke berbagai Negara, Minggu (21/05/2017).

KH Mustofa Bisri Budayawan dan Sastrawan islam yang biasa dipanggil Gus Mus ini juga menyampaikan terima kasih kepada pembicara yang sudah hadir dalam kegiatan bertema “ Menuju Rekontekstualisasi Islam Demi Perdamaian Dunia dan Harmoni Peradaban ” yang dilaksanakan dua hari di GOR Hasbullah Said Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

“Saya mohon maaf kepada hadirin yang hadir dalam Halaqah Internasional GP Ansor tidak bisa hadir secara langsung dalam kegiatan ini. Saya mengucapkan terimakasih kepada semuanya, terutama tamu pembicara dari berbagai Negara. Kegiatan ini sangat berharga untuk menggelorakan islam yang damai,” terangnya kepada seluruh peserta Halaqah Internasional melalui tayangan video yang ditampilkan oleh panitia.

Lebih lanjut Gus Mus menambahkan kegiatan seperti ini perlu digelar di berbagai negara, karena saat ini membutuhkan hasil pemikiran yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.” Semoga diskusi ini bisa menjadi solusi melalui hasil berbagi pemikiran untuk kebaikan islam dalam kondisi seperti sekarang ini, semoga bernilai ibadah untuk kita semua,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua umum Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas mengatakan kegiatan ini diadakan tidak lain karena kondisi di berbagai negara masih terjadi persinggungan antara umat muslim dan non-muslim. Pada intinya ini membahas tentang persoalan negara atau bangsa yang terjadi di berbagai negara berkaitan dengan interaksi muslim dan non-muslim. Dirinya melihat adanya pergerakan golongan-golongan yang berpotensi mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara.

“Sehingga dalam forum ini akan menjadi salah satu poin pembahasan. Hal ini untuk mendapatkan panduan keagamaan atas berbagai persoalan itu, sumber rujukan paling otoritatif yang secara luas masih diterima oleh umat islam sebagai standart ottodoksi adalah khasanah pemikiran klasik, terutama fiqih (turats),” jelas Gus Yaqut dalam sambutannya.

Ia berharap melalui halaqah ini kami ingin menawarkan gagasan (road map) untuk ditawarkan kepada negara-negara lain. Karena kita tahu beberapa Negara seperti Syiria, Iraq, dan Iran masih terjadi pergolakan. Kami ingin islam rahmatan lil alamin tidak hanya sekadar ada di wacana, tapi juga bisa menjadi solusi yang sebenarnya untuk perdamaian dunia.

Haail dari halaqah ini akan disampaikan kepada dunia internasional untuk menjadi solusi dalam kehidupan bernegara dan beragama dalam perdamaian dunia. “Dari sini kita akan keliling dunia menyampaikan apa yang menjadi gagasan ini. Kami akan tour(keliling) dunia untuk menawarkan gagasan hasil halaqah ini,” pungkasnya.

Diketahui, Halaqah Internasional GP Ansor ini berlangsung dua hari yakni Minggu dan Senin yang terbagi beberapa sesi diantaranya pertama pembahasan gagasan – gagasan problematic dalam khazanah klasik mengenai politik, sistem hukum dan hubungan muslim non-muslim. Pembicara dalam sesi ini yakni KH Yahya Cholil Staquf, Katib Am PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Kabir Helminski (Amerika), dan Yazid Bustomi (PP GP Ansor).

Sesi kedua dengan materi ” Realitas Konflik Masa Kini, Kepentingan Politik, Ekonomi dan Kepentingan Profan Lainnya Dibalik Klaim Agama ” dengan Narasumber Holland C Taylor dari Amerika, James Dorsey dari Amerika, Asad Ali mantan BIN dari Indonesia, Abdul Mukti dari PP Muhammadiyah, dan Magnus Ranstorp dari Swedia.

Sedangkan Materi Ketiga yakni ” Ruang Ijtihad dan Peluang Normatif Bagi Perubahan Ortodoksi Islam ” dengan Narasumber Abdul Ghofur Maimun dari PBNU, Abdul A’la dari Uinsa, Hamdi Murad berasal dari Yordania, Bassam ‘Ajek dari Suriah, dan Salman Al Shisty dari India. Terakhir Sesi keempat dilaksanakan pada Senin pagi dengan tema ” Peran Lembaga Politik, Organisasi Sosial dan Lembaga Pendidikan dalam Pergulatan Menuju Rekontekstualisasi Islam.

Dengan pemateri Said Agil Siradj Ketua Umum PBNU, Syaikh Ahmad Abbadi dari Maroko, selanjutnya Muhaimin Iskandar Ketua Umum PKB, Zulkifli Hasan Ketua DPP PAN, dan Sobar Isman dari BNPT. Obi