Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Bom Kampung Melayu, Khofifah minta ulama dan pesantren tingkatkan peran
HEADLINE DEMOKRASI

Bom Kampung Melayu, Khofifah minta ulama dan pesantren tingkatkan peran 

LENSAINDONESIA.COM: Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebut terjadinya ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur

pada Rabu (24/5/2017) malam kemarin, menjadi bukti ada pihak yang tidak ingin kalau negeri ini aman.

Karena itu, dia berharap agar semua pihak tidak terpancing secara berlebihan atas kejadian tersebut. “Jangan terpancing dan jangan memancing-mancing,” tegasnya Khofifah usai menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5/2017) malam.

Menurut Mensos, saat ini masyarakat begitu mudah terpancing menanggapi sesuatu hal sehingga membuat suasana semakin keruh. Peristiwa bom di Kampung Melayu adalah tindakan memancing respon berlebihan masyarakat oleh kelompok tertentu. “Makanya jangan terpancing,” pintanya.

Selain itu, peristiwa ini semakin menguatkan peran penting ulama maupun tokoh agama untuk meningkatkan peran dalam mengingatkan masyarakat dan generasi kita agar tak mudah terpengaruh ajakan orang atau kelompok yang ingin mengganggu ketenangan bangsa.

“Peran ulama, kalangan pesantren dibutuhkan untuk mengingatkan kalau ada yang mau mengganggu negeri ini, misalnya mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Ini PR kita karena gangguan ini sering kali muncul,” katanya.

Terlebih, lanjut Mensos, ulama maupun pesantren berperan besar atas pendirian NKRI. Dia mencontohkan KH Wahid Hasyim, salah seorang anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

“Saya ingin sampaikan kalau Kiai Wahid Hasyim yang anggota BPUPKI dan PPKI yang akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia,” imbuh dia.

Sementara, dalam Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani Khofifah berharap ini menjadi penguatan muhasabah untuk menjaga keutuhan NKRI. “Tonggak-tonggak penguatan NKRI adalah pesantren-pesantren yang dikomandani para kiai NU. Salah satunya Ponpes ini,” cetus Ketua PP Muslimat NU ini.

Baca Juga:  Antisipasi masalah FTF Returnees, BNPT bahas kerjasama dengan Pemerintah Ceko

Apalagi usia Ponpes jauh lebih tua dari Indonesia. Khofifah merujuk banyak Ponpes yang berusia 100 tahun bahkan lebih. Begitu juga saat ada pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan para kiai di Jatim di sela pengukuhan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin sebagai guru besar ilmu ekonomi muamalat syariah oleh UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Dalam pertemuan terbatas itu ada pengasuh pesantren yang pesantrennya didirikan dari tahun 1700.

“Artinya inilah pilar-pilar yang membangun semangat juang melawan penjajahan, apakah Belanda maupun Jepang pada saat itu. Hanya saja para kiai ini perannya tidak ingin di-publish. Maka banyak sekali kiai yang tidak mengajukan sebagai apakah calon pahlawan, bintang mahaputra dan seterusnya karena keikhlasannya begitu luar biasa,” pungkas Khofifah.@sarifa