LENSAINDONESIA.COM: Holian Tjun dan Handojo Sapoetro, terdakwa kasus perjudian, menjalani sidang perdana dalam agenda dakwaan di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (15/6/2017).

Jaksa Penuntut umum (JPU) Ali Prakoso dari Kejari Surabaya, dalam membacakan dakwaan menerangkan kedua terdakwa ditangkap anggota Sat Reskrim Polrestabes Surabaya atas keterlibatannya dalam kasus judi bola online.

“Awalnya ada laporan masyarakat bahwa terdakwa Holian melakukan judi bola melalui SMS. Atas laporan tersebut, petugas melakukan penangkapan terhadap terdakwa di Jl Kutisari Indah Utara, Surabaya pada 13 April 2017,” terang JPU Ali membacakan dakwaan.

Saat melakukan penggeledahan terhadap terdakwa Holian, polisi menemukan barang bukti yang digunakan terdakwa untuk bermain judi. Diantaranya handphone, kalkulator, dua buku rekapa dan bolpoint.

Dari penangkapan terdakwa Holian, polisi kemudian melalukan pengembangan. Dari sinilah terungkap adanya pihak lain yang juga turut terlibat dalam kasus ini yakni Handojo Sapetra yang merupakan adik terdakwa.

“Polisi kemudian menangkap terdakwa Handojo Sapoetro. Terdakwa Handojo merupakan penombok pada judi yang dijalankan terdakwa Holian. Kemudian terdakwa Holian merekap tombokan dan mengirimnya ke seseorang bernama Jim Rizal (DPO),” tambah JPU Ali Prakoso.

Usai pembacaan dakwaan, terdakwa Handojo memprotes majelis hakim dan JPU Ali Prakoso. Aksi protes terdakwa terjadi ketika Hakim Anne bertanya tentang kebenaran dakwaan tersebut. “Bagaimana benar tidak dakwaan jaksa? Kamu melakukan judi?,” tanya hakim Anne kepada kedua terdakwa.

Mendapati pertanyaan itu, terdakwa Handojo langsung menyatakan dirinya tidak bersalah dalam kasus ini. “Memang saya judi. Tapi saat ditangkap, saya sedang tidur dan tidak sedang judi. Apalagi saat ditangkap tidak ada surat penangkapan dari polisi,” bantah terdakwa Handojo.

Meski telah berkali-kali dijelaskan perihal pertanyaan tersebut, terdakwa Handojo tetap ngotot bahwa dirinya tidak bersalah. Sikap ngotot Handojo membuat JPU Ali naik pitam. “Hai kamu ini dijelaskan kok gak ngerti-ngerti. Kamu tahu ya orang melalukan pembunuhan, meskipun satu tahun berlalu orang itu tetap bisa dihukum atas pembunuhannya,” tegasnya kepada terdakwa Handojo.

Atas perbuatannya, JPU Ali Prakoso menjerat kedua terdakwa dengan pasal 303 ayat 1 ke-2 KUHP dan pasal 303 ayat 1 ke-1 KUHP. Merujuk pada pasal tersebut, kedua terdakwa terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara.@rofik