Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
TNI pindahkan makam para pahlawan Kali Jahe Malang
Upacara pemindahan malam pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kali Jahe, Kabupaten Malang, Minggu (16/07/2017). FOTO: Penrem 083/Bdj
HEADLINE UTAMA

TNI pindahkan makam para pahlawan Kali Jahe Malang 

LENSAINDONESIA.COM: Tentara Nasional Indonesia (TNI) melakukan pemindahan makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kali Jahe yang ada di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (16/07/2017).

TMP Kali Jahe merupakan lokasi pemakaman sekitar 50 pejuang yang gugur dalam serangan saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948.

Proses ‘relokasi’ ini diawali dengan upacara pemindahan makam.

Bertindak selaku Inspektur Upacara yaitu Kepala Pembinaan Mental Kodam V/Brawijaya, Kolonel Drs. H. Moch. Rifa’i. Sedangkan yang bertindak sebagai komandan upacara adalah Kapten Arh Sutrisno.

Upacara pemindahan makam diikuti Satu SSK Yonif 502, Satu SST Kodim 0818, Satu SST Banser, Satu SST prangkat Desa dan 100 orang masyasrakat.

“Kita bersama-sama mengatarkan jenazah pahlawan tak dikenal ini ke tempat peristirahatannya yang terakhir,” kata Kabintaldam V/Brw Kolonel Moch. Rifa’i dalam sambuatanya.

Menurutnya, TNI merasa kehilangan atas gugurnya putra-putra terbaik bangsa ini. “Semoga arwah almarhum dapat di terima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Bagi keluarga yang ditinggalkan dan kita yang hadir di Taman Makam Pahlawan Kali Jahe ini semoga di berikan kekuatan imam, keselamatan dan kesehatan untuk dapat melanjutkan perjuangan almarhum demi bangsa dan negara,” tuturnya.

Disampaikan Kolonel Rifa’i, upacara proses pemindahan makam memiliki arti penting, yaitu sebagai penghormatan kepada para pahlawan yang telah mendarmabhaktikan jiwa raganya untuk nusa dan bangsa.

“Ini juga sebagai bukti kebesaran bangsa Indonesia karena bangsa yang besar adalah bangsa menghargai jasa para pahlawannya, mendoakan arwah para pahlawan dan merefleksikan apa yang telah kita berikan untuk mengisi kemerdekaan ini. Moment ini mengingatkan kepada kita bahwa kita harus bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat Bangsa dan Negara,” jelasnya.

Baca Juga:  Bendera Indonesia berkibar di Festival Spanduk Dunia di Lyon Prancis

TMP Kali Jahe lokasinya berada tidak jauh dari Wisata Coban Jahe.

Menurut sejarah, TMP Kali Jahe berdiri setelah terjadi pertempuran berdarah antara sekelompok pejuang kemerdekaan RI dengan tentara Belanda di era agresi militer Belanda II tahun 1948.

Saat itu, sekitar 40 orang pejuang tengah melakukan perjalanan dari Wajak menuju Nongkojajar. Mendekati siang hari, para pejuang tersebut beristirahat di sekitar jurang di Dusun Begawan Desa Pandansari Lor Kecamatan Jabung.

Posisinya yang tersembunyi di cekungan dianggap menjadi tempat strategis untuk melepas lelah sembari menunggu kiriman logistik.
Sayangnya, belum sempat bantuan tiba, pasukan Belanda yang bermarkas di Taji tiba-tiba melakukan penyerangan. Belakangan, serangan tersebut dilakukan setelah Belanda mendapatkan informasi dari warga sekitar yang mengatakan terdapat sekelompok pejuang yang akan melintas.

Berdasarkan saksi mata, serangan yang tak terduga tersebut berlangsung selama 5 jam, mulai dari pukul 11.00 hingga 16.00 WIB.

“Belanda berada pada posisi strategis untuk menyerang. Mereka berada di atas,sementara pejuang terjebak di bawah sehingga mudah ditembaki. Apalagi tempatnya tersembunyi dan tidak ada jalan untuk melarikan diri,” cerita Ahmadul Basori, Ketua Ikatan Pemuda Pecinta Alam Begawan Abiyasa (IPPASA).

Basori mengatakan, sejak kejadian tersebut, kawasan itu kemudian dikenal nama Kali Jahe.

Disebut Kali kareba lokasinya ada di sekitar sungai. Sedangkan Jahe berasal dari kata pejahe, yang artinya ‘matinya’ atau ‘meninggalnya’.

“Jadi Jahe itu bukan tanaman jahe,tapi pejahe yang berarti meninggal,” terang dia.

Basori menambahkan, pasca kejadian, aliran Kali Jahe warnanya berubah menjadi merah karena bercampur dengan darah pejuang.

Ada warga lokal bernama mbah Dasiah yang melakukan evakuasi pejuang. Kepada Basori, mbah Dasiah menceritakan proses evakuasi baru dilakukan seminggu setelah pertempuran berlangsung.

Baca Juga:  DPR RI pilih Firli Bahuri jadi ketua KPK

“Tidak ada yang berani melakukan evakuasi setelah kejadian. Warga baru berani mendatangi lokasi penyerangan seminggu setelah kejadian. Yang membuat trenyuh adalah, di saku mereka ditemukan bahan-bahan makanan untuk survival. Ada babal (nangka muda), jagung mentah dan pisang muda. Ini menegaskan bahwa mereka memang benar-benar pejuang yang sedang survive,” urai Basori.

Ia menambahkan, peristiwa tersebut benar-benar membekas di ingatan, sehingga mbah Dasiah kemudian membuat makam untuk para pejuang yang telah gugur di peristiwa tersebut. “Kali Jahe menjadi saksi bisu perang kemerdekaan,” ucapnya.

Seiring perjalanan waktu,makam tersebut kemudian diperluas hingga menjadi Taman Makam Pahlawan Kali Jahe.

“Setiap Hari Pahlawan dan malam refleksi kemerdekaan RI, kami berziarah ke makam para pejuang. Ada juga beberapa komunitas yang sengaja datang untuk menggelar upacara penghormatan. Kalau wisatawan, ada yang berhenti untuk sekadar berfoto-foto,” ujarnya.@Penrem 083/Bdj/bbs