Trending News

17 Aug 2019
Alergi pada anak, sepele tapi bisa menyebabkan kematian loh
Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(K), M.Kes, - Konsultan Alergi Imunologi Anak berbicara dalam kampanye “Si Kecil Tetap Ceria Karena Bunda Tanggap Alergi” didampingi Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si., Psi (kiri) dan Zeinda Rismandari, Allergy Care Manager PT Nutricia Sarihusada (kanan).
CANTIKA

Alergi pada anak, sepele tapi bisa menyebabkan kematian loh 

LENSAINDONESIA.COM: Perubahan pola kehidupan masyarakat membuat angka kasus alergi naik dari tahun ke tahun. Salah satu yang berpotensi mengalami alergi adalah anak-anak terutama yang memiliki riwayat penyakit atopik.

Di Indonesia sendiri, alergi jarang mendapat perhatian khusus. Padahal alergi bisa menimbulkan aneka dampak hingga kematian.

Konsultan Alergi Imunologi Anak, Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(K), M.Kes mengatakan alergi ialah reaksi berlebihan sistem imunitas tubuh terhadap zat asing yang masuk ke dalam tubuh.

“Padahal zat asing itu sebenarnya baik untuk tumbuh kembang anak. Seperti udang, telor. Tapi karena reaksinya tidak normal sehingga muncul alergi,” ujarnya ditemui dalam kampanye ‘Bunda Tanggap Alergi dengan 3K bersama alergianak.com’ di Surabaya.

Sejauh ini memang belum ada angka kejadian yang presisi. Namun, angkanya berada di kisaran 7,5 persen.

Direktur Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjajaran itu mengatakan alergi yang terus menerus bisa mengganggu tumbuh kembang anak.

Jika hal ini dialami hingga dewasa maka anak akan mengalami sejumlah penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes melitus atau obesitas.

“Di luar negeri, alergi malah bisa menyebabkan kematian. Kalau di Indonesia jarang ada temuan kasusnya,” katanya.

Oleh karena itu, orang tua terutama para bunda untuk memahami tentang 3K. Yaitu kenali, konsultasi dan kendalikan. “Jangan anggap sepele alergi tapi juga tidak panik saat anak alergi,” katanya.

Prof. Budi menuturkan gejala-gejala anak mengalami alergi seperti biduran, eksim. Anak juga bisa mengalami sesak nafas. Selain itu, ada gejala di bagian pencernaan seperti gumoh dan kolik.

“Jika mengalami tanda-tanda seperti ini segera konsultasikan pada dokter untuk memastikan pemicu alergi dan pengendaliannya. Karena seringkali orang tua asal memvonis setelah makan telor lalu gatal-gatal, berarti alergi telor. Padahal kalau asal-asalan maka bisa mengganggu tumbuh kembang anak-anak,” pungkasnya.

Selain dampak medis, alergi juga bisa menimbulkan dampak psikis. Psikolog Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si., Psi mengatakan orang tua, terutama bunda dan anak rentan mengalami stres. “Komunikasi bunda dan anak pun bisa terganggu karena terkadang anaknya gak mau dilarang-larang meski bisa menyebabkan alergi,” katanya.

Tak hanya itu, alergi juga bisa berdampak pada psikis anak menjadi sosok yang kaku dan pemilih, terutama soal makanan. “Lebih jauh, anak yang penanganan alerginya tidak tepat bisa mengalami bullying karena dianggap aneh oleh teman-temannya,” bebernya.

Dia menekankan meski terkesan sepele, alergi harus ditangani dengan tepat. Namun, bunda jangan panik dan tetap menerapkan 3K saat anak mengalami alergi.

Anna menjelaskan saat anak mengalami gejala alergi, maka kenali kondisi dan lingkungan anak saat itu. Yang kedua adalah konsultasi ke dokter untuk mengenali alergi yang dialami si kecil.

Yang ketiga kendalikan. Bunda dan keluarga harus mengubah gaya hidup, memasak sendiri. Selain itu, libatkan dan beri informasi anak mengenai alergi dan penyebabnya.

“Yang terpenting ialah tolong jangan fokus pada keterbatasan anak karena alerginya. Namun carilah sisi positif dari anak agar tetap ceria beraktivitas,” tuturnya.@licom

Related posts