Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
Mantan Manajer PT DOK dan Perkapalan Surabaya dieksekusi ke Rutan Medaeng
Abdul Rahman (kemeja putih) diciduk tim Pidsus Kejari Tanjung Perak (rofik)
HEADLINE JATIM RAYA

Mantan Manajer PT DOK dan Perkapalan Surabaya dieksekusi ke Rutan Medaeng 

LENSAINDONESIA.COM: Abdul Rahman, mantan Manager PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) yang jadi terpidana 5 tahun penjara dan belum menjalani hukuman pasca putusan Pengadilan Negeri Surabaya tahun 2011, dieksekusi ke Rutan Kelas I Medaeng, Sidoarjo, Jumat (21/7/2017).

Pria yang kini bekerja di perusahaan transportasi di Surabaya itu diciduk Tim Pidsus Kejari Tanjung Perak di tempat kerjanya.

Selain itu, Kejari Tanjung Perak juga mengeksekusi Ramli, staf PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS), terpidana 1 tahun, dari tempat kerjanya. “Setelah kami menerima salinan putusan resmi dari Mahkamah Agung, keduanya kami eksekusi dari tempat kerjanya masing-masing,” terang Kasi Pidsus Kejari Tanjung Perak Andi Ardhani.

Menurutnya, sebelum melakukan eksekusi terhadap kedua terpidana, pihaknya telah melakukan monitoring sejak 1 bulan lalu.” Terpidana Abdul Rahman sering pindah kerja. Dari situ kami terus melakukan pemantauan dan setelah mendapat salinan putusan, tadi pagi kami tangkap,” tambahnya.

Kedua terpidana ini, telah mempunyai hukum tetap atas kasus korupsi PT DPS tahun 2008. Sedangkan satu terpidana lainnya dalam kasus ini belum dieksekusi, lantaran sering berpindah-pindah tempat. Dia adalah Direktur CV Puspita Intan Mandiri (PIM), Yani Uti Puspita. “Kami masih terus mencari keberadaanya,”ujar Andi Ardhani.

Selanjutnya, Abdul Rahman dan Ramli dibawa ke Rumah Tahanan Kelas I Medaeng setelah menjalani serangkaian pemeriksaan. Keduanya dimasukkan ke mobil tahanan Kejari Tanjung Perak sekitar pukul 10.45 WIB dengan dikawal dua jaksa ekesutor, yakni Saiful dan Ginanjar serta diback up Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Perlu diketahui, Abdul Rahman sebelumnya telah divonis 3 tahun penjara oleh Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Tak puas dengan vonis itu, Abdul Rahman dan Jaksa sama-sama mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya.

Baca Juga:  Asprov PSSI Jatim dukung Iwan Bule pimpin PSSI

Namun, Hakim PT Surabaya menjatuhkan vonis yang sama sehingga jaksa mengajukan kasasi. Nah, pada kasasi inilah, hukuman Abdul Rahman diperberat menjadi 5 tahun penjara. Sedangkan vonis untuk terpidana Ramli tetap bertahan 1 tahun.

Kasus korupsi PT Dok dan Perkapalan Surabaya terungkap setelah pihak Kejaksaan menemukan kejanggalan dalam pemeriksaan hingga penyelidikan pada akhir Desember 2009 lalu. Ternyata, dalam penyelidikan kasus tersebut ditemukan, bahwa penyimpangan dilakukan pada kurun waktu Juni 2008-Juli 2009.

Kejanggalan ditemukan karena ada selisih antara barang plat yang dikeluarkan untuk pengerjaan pengamplasan atau sandblasting bersama rekanan CV PIM dan terjadi selisih jauh. Ditemukan bukti pula, bahwa pengeluaran barang tersebut tanpa seijin atasan Abdul Rahman. @rofik