Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Para pelaku usaha penghasil tembakau berteriak kepada pemerintah agar tak menaikkan cukai di tahun 2018 nanti. Sebab saat ini mereka merasa keberatan akibat kenaikan cukai dan penurunan produksi.

Sudarto, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman mengaku para pelaku usaha di sektor industri rokok saat ini sedang tertekan akibat rencana kebijakan tersebut.

“Saat industri tertekan, otomatis seluruh mata rantai dari hulu sampai hilir bakal menjadi korban, dan itu pun dapat dipastikan berdampak pada tenaga kerja tentunya,” ujar Sudarto saat dikonfirmasi, Kamis (03/08/2017).

Hal senada juga disampaikan Djoko Wahyudi, Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigeret Indonesia, bahkan dirinya telah melayangkan surat ke Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait kondisi ini. Ia berharap pemerintah benar-benar memperhatikan para pelaku industri ini.

Djoko pun menjelaskan, situasi industri hasil tembakau sudah menanggung beban cukai dan penurunan produksi sebesar 2 persen di tahun 2016 lalu.

“Penurunan ini telah terjadi sejak 10 tahun lalu. Jumlah pabrik rokok saat tahun 2006 sebanyak 4.669 dan saat ini tinggal 754 pabrik. Jika kami tak mampu mempertahankan, maka pegawai kami yang berpendidikan rendah juga terimbas, kami berharap tahun depan pemerintah tak menaikkan cukai rokok lagi” pungkas Djoko.

Pada tahun 2017, Kementerian Keuangan memprediksi bakal terjadi penurunan produksi rokok lagi hingga 2,3 persen atau lebih besar dibanding penurunan tahun lalu.@l6,Eld-Licom