LENSAINDONESIA.COM: Putera Sampoerna Foundation (PSF) dan Bank HSBC Indonesia melalui Sampoerna University menggelar Training of Trainers (ToT) di tahun kedua bagi para dosen keuangan dan perbankan berfokus pada financial deepening atau pendalaman finansial.

Acara ini digelar terkait semakin naiknya kebutuhan bankir-bankir lokal yang berkompetensi spesialis dan memahami layanan-layanan finansial perbankan modern, serta mampu mendukung pendalaman sektor finansial sekaligus memperluas penggunaan instrumen keuangan di Indonesia.

“Kami memahami tantangan perkembangan industri keuangan dan perbankan Indonesia memunculkan kebutuhan profesional perbankan yang berkualifikasi lengkap. Hal ini mendorong kami untuk turut membantu penguatan edukasi keuangan bagi tenaga pengajar di bidang perbankan dan keuangan, sehingga mampu mencetak lebih banyak lagi spesialis perbankan modern,” jelas Nuni Sutyoko, Head of Corporate Sustainability Bank HSBC Indonesia dalam keterangan resminya, Jumat (04/08/2017).

Untuk mampu mengikuti perkembangan sektor perbankan dan keuangan, pelatihan ToT bagi para dosen ini menyajikan pengenalan materi ajar terkait aktivitas perbankan modern, baik untuk mendorong intermediasi finansial, maupun meningkatkan pendapatan non-bunga dari industri perbankan untuk mendorong pendalaman finansial.

“Untuk materi-materi tersebut meliputi manajemen perbendaharaan (treasury management), manajemen risiko (risk management), manajemen kredit (credit and lending management), dan operasional perbankan (banking operations),” tandas Nuni.

Sementara itu, Wahyoe Soedarmono, Project Manager Program Kerjasama HSBC-PSF sekaligus ekonom dari Sampoerna University menjelaskan, untuk memperdalam finansial untuk pertumbuhan ekonomi tak lepas dari penguatan peran perbankan sesuai dinamika ekonomi global dan domestik yang cepat berubah. Sebab itu, diversifikasi produk selain kredit sangat diperlukan sebagai sumber pendapatan baru bagi perbankan.

“Selain memberikan dampak positif bagi perbankan dan publik sebab hadirnya instrumen-instrumen keuangan yang beragam dalam mendorong pendalaman finansial, diversifikasi produk keuangan juga bisa menimbulkan peningkatan risiko perbankan.

Tak hanya itu, lanjut Wahyoe, pendidikan keuangan dan perbankan yang mengintegrasikan aspek perbankan dan pasar modal sangat penting untuk menyiapkan bankir masa depan yang andal untuk mengembangkan instrumen keuangan modern selain kredit, dengan tetap menjaga aspek kehati-hatian.

“Modul pengajaran yang disajikan ini akan digunakan para dosen untuk mengajar di daerah masing-masing. Selain itu, HSBC dan PSF juga mengajak para dosen menyusun jurnal-jurnal yang relevan dengan daerah asal mereka, dan diharapkan bisa menjadi pintu pengembangan financial deepening di tiap daerah. Dalam tiga tahun, HSBC dan PSF menargetkan agar ToT bisa merangkul lebih dari 600 dosen dari seluruh Indonesia,” papar Wahyoe.

Hal senada juga disampaikan Inka B. Yusgiantoro, Peneliti Senior Grup Riset dan Database Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, bahwa program ini berpotensi mendorong sektor jasa keuangan kontributif, stabil, dan inklusif terhadap perekonomian nasional jangka panjang.

“Kami berharap para dosen yang mengikuti program ToT ini akan terpacu untuk mengembangkan riset-riset aplikatif dan sumber daya manusia berkualitas di bidang keuangan dan perbankan. Dan pada akhirnya mampu memberikan efek domino pada penguatan literasi keuangan masyarakat secara luas, khususnya lewat pengembangan literatur-literatur terkait perbankan dan industri jasa keuangan secara total,” tutur Inka.

Program ToT diikuti 100 dosen lebih dari sekitar Jawa Timur. Sementara itu, PDP diikuti 30 bankir-bankir muda, khususnya dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Program PDP ini difokuskan untuk memacu pemikiran kritis mereka lewat pelatihan ilmu perbankan modern.

Data terakhir dari Global Financial Development Database mencatat rasio kredit terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) di Indonesia pada 2014 masih di posisi terendah dibanding beberapa negara berkembang di Asia: Indonesia (36%), Tiongkok (141%), Malaysia (120.6%), Filipina (39.2%), Thailand (146.8%) dan Vietnam (100.3%). Indikasinya, pendalaman finansial masih terbilang rendah. Idealnya, pendalaman finansial merupakan faktor determinan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.@Rel-Licom