Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Sekjen PP Ikatan Sarjana NU: Isu kebangkitan PKI hanya dagangan politik
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, M Kholid Syeirazi
HEADLINE DEMOKRASI

Sekjen PP Ikatan Sarjana NU: Isu kebangkitan PKI hanya dagangan politik 

LENSAINDONESIA.COM: Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, M Kholid Syeirazi, dalam tulisannya berjudul ‘Tentang Isu Kebangkitan PKI’, tegas menyatakan tidak percaya PKI akan bangkit.

Menurutnya, isu bangkitnya PKI hanya dagangan politik karena ideologi komunisme sudah tidak laku dan tak diminati generasi milenial.

Ia menjelaskan tak gampang membangkitkan faham komunisme karena prinsip komunisme adalah from each according to his ability, to each according to his needs atau aslinya dalam bahasa Jerman, jeder nach seinen Fehigkeiten, jedem nach seinen Bederfnissen. Dalam bahasa Indonesia. ‘Setiap orang memberi sesuai kemampuannya, setiap orang mendapat sesuai kebutuhannya’.

Contoh mudahnya, jika Anda doktor, lulus S-3 luar negeri, tidak usah pamer ijazah karena jika anak Anda cuma satu maka gaji yang didapatkan tak boleh lebih tinggi daripada tukang parkir lulusan SMP yang anaknya lima. Itu adil dalam perspektif komunisme.

Atas dasar prinsip komunisme yang ‘sama rata, sama rasa’ itu, M Kholid Syeirazi yakin ideologi komunisme usang sudah tidak laku lagi.

Saat ini ada sejumlah pihak yang menganggap China alias Tiongkok itu komunis. Mirisnya, Presiden Jokowi yang akrab dengan China disebut sebagai antek komunis. Pemikiran patutnya ditertawakan saja karena China adalah negara kapitalis yang dimodifikasi. Karena sistem politiknya tertutup dengan posri negara besar, namanya kapitalisme negara. Model begini juga dilakukan di Singapura.

Jika Jokowi akrab dengan China, itu bukan karena turunan PKI dan antek komunis, melainkan karena yang pegang duit sekarang ini China. Amerika Serikat juga tergantung pada duit China. Bahkan Raja Salman tempo hari juga berusaha mengangsur duit China dalam rangka pelepasan saham perdana Saudi Aramco.

Dikutip dari Antara, isu kebangkitan PKI hanyalah dagangan politik karena komunisme yang sudah tidak laku memang sengaja dipelihara untuk konsolidasi agenda politik.

Baca Juga:  Begini impian Presiden Jokowi jadikan Kabupaten Penajam dan Kutai Kartanegara gantikan Ibukota DKI Jakarta

Jika kita baca buku Robert Dreyfus, Devil’s Game, isu komunisme ini mengena di kelompok Islam kanan. Dahulu, Jamaluddin al-Afghani membangkitkan Pan-Islamisme dengan dukungan Inggris. Agendanya menyingkirkan pengaruh komunisme di Asia Tengah, Afrika, dan Asia Barat Daya.

Semangat revivalisme Islam dibangkitkan untuk melawan pengaruh Uni Soviet di daerah-daerah itu, dan berhasil. Pola ini terus digunakan. Dalam lanskap Perang Dingin, Amerika dan Inggris melatih para Jihadis di Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Isunya Islam lawan komunisme. Setelah sukses mengusir Uni Soviet, belakangan mereka diketahui membentuk al-Qaeda dan menabrak Pentagon dan WTC.

Di Indonesia, petanya jelas sekali. Setelah sukses memenangkan Pilgub DKI, politik Islam bersiap-siap menyongsong Pilpres 2019. Banyak di antara pendukung Gubernur DKI terpilih kemarin haqqul yaqin Presiden Jokowi adalah keturunan PKI.

Isu Pilpres 2019 adalah Islam lawan komunisme. Lantas siapa yang dianggap representasi Islam? Siapa yang dianggap wakil PKI?

Dalam politik, wakil Islam tidak harus mengerti Islam. Yang penting bisa mendengungkan aspirasi kelompok Islam. NU adalah pelaku sejarah yang tidak akan mengikuti agenda seperti ini. NU cinta NKRI, cinta Islam dan cinta Indonesia, tutup Kholid. @antara/LI-15