LENSAINDONESIA.COM: Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) melalui Tropical Renewable Energi Center (TREC) sebagai pusat riset didedikasikan
mendukung percepatan pengembangan sumber-sumber energi terbarukan -–untuk kali kedua– menggelar i-TREC (International Tropical Renewable Energy Conference).

Konferensi internasional ini berlangsung Selasa dan Rabu, 3 – 4 Oktober 2017 mulai Pukul 8.00 – 14.00 WIB, di Room Palma 1 & 2 – Courtyard by Marriott Bali Nusa Dua Resort.

Konferensi ini bertujuan menciptakan kesempatan dan menjawab tantangan dalam mengintegrasikan energi terbarukan untuk daerah tropis yang aman untuk lingkungan dan berkelanjutan secara ekonomi sebagai dasar teori untuk pengembangan, penggunaan dan imlementasi sumber-sumber energi-energi tropis terbarukan.

Kepala Humas dan KIP UI, Dr Rifelly Dewi Astuti, SE, MM memaparkan, diperkirakan 2050, hampir seluruh kebutuhan energi secara global dapat dipenuhi energi terbarukan. Jerman, salah satu kekuatan ekonomi terbesar Eropa, berhasil memenuhi 25% kebutuhan listriknya dari energi terbarukan.

“Tenaga angin kini merupakan sumber listrik utama Spanyol sejak tahun 2013, jauh di atas tenaga nuklir, batu bara dan gas. Di tahun 2012, sumber tenaga listrik dari angin di China meningkat secara tajam diatas batu bara,” terangnya.

Portugal menghasilkan lebih dari 70% tenaga listriknya dari energi terbarukan pada kuartal pertama tahun 2013. Denmark menargetkan 100% tenaga listriknya melalui energi terbarukan pada tahun 2035 dan di Asia Tenggara, Filipina telah berhasil menggantikan 29% kebutuhan listriknya dengan energi terbarukan. Bagaimana dengan Indonesia?

Dengan mengangkat tema “Towards Tropical Renewable Energi Innovation and Technology Integration, diharapkan i-TREC dapat mempromosikan penelitian dibidang energi-energi tropis terbarukan dan memfasilitasi pertukaran ide diantara para peneliti, academia dan praktisi industry yang dapat diterapkan di Indonesia.

Sejak terjadinya revolusi industri di abad ke 19, konsentrasi karbon dioksida di udara meningkat secara tajam dari 280 parts per million (ppm) menjadi 401 ppm, sementara batas amannya adalah 350 ppm.

Untuk menurunkan ke batas aman, atau bahkan dibawahnya dibutuhkan transisi ekonomi global dengan segera dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Saat ini, biaya untuk menghasilkan energi terbarukan sudah lebih terjangkau bila dibandingkan dengan biaya untuk menghasilkan bahan bakar fosil. Sebagai contoh, solar PV kini menjadi lebih murah dibandingkan dengan generator disel.

Teknologi yang tersedia saat ini untuk memproduksi energi terbarukan sudah siap untuk diterapkan secara masal, hal ini sudah terbukti di seluruh penjuru dunia.

Diperkirakan pada tahun 2050, hampir seluruh kebutuhan energi secara global dapat dipenuhi oleh energi terbarukan. Jerman, salah satu kekuatan ekonomi terbesar Eropa, berhasil memenuhi 25% kebutuhan listriknya dari energi terbarukan dan ditargetkan untuk mencapai 80% pada tahun 2050. Tenaga angin kini merupakan sumber listrik utama Spanyol sejak tahun 2013, jauh di atas tenaga nuklir, batu bara dan gas.

Di tahun 2012, sumber tenaga listrik dari angin di China meningkat secara tajam diatas batu bara. Portugal menghasilkan lebih dari 70% tenaga listriknya  dari energi terbarukan pada kuartal pertama tahun 2013. Denmark menargetkan 100% tenaga listriknya melalui energi terbarukan  2035 dan di Asia Tenggara, Filipina telah berhasil menggantikan 29% kebutuhan listriknya dengan energi terbarukan.

Dr Rifelly Dewi Astuti menerangkan, Universitas Indonesia sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia dengan menempati peringkat 277 pada peringkat QS World University Rangking tahun 2017 turut berperan aktif pada perkembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Tahun 2013, Fakultas Teknik Universitas Indonesia sebagai salah satu fakultas terbesar UI, mendirikan Tropical Renewable Energi Center (TREC) sebagai pusat riset yang didedikasikan untuk mendukung percepatan pengembangan sumber-sumber energi terbarukan. Terutama pada energi terbarukan untuk daerah tropis, seperti negara kita yang secara karakteristik berbeda dan unik bila dibandingkan dengan negara-negara subtropik lainnya.

Salah satu cara untuk mengembangkan teknologi ini, sekaligus mengimplementasikan dalam dunia nyata adalah kolaborasi dan kerjasama antara para akademisi dan peneliti di dunia pendidikan dengan para praktisi di industri.

TREC menyediakan wadah untuk bertukar informasi dan pengetahuan akan berbagai masalah-masalah teknologi energi terbarukan yang ramah lingkungan terutama fokus pada pengembangan dan inovasi dalam ilmu pengetahuan, teknik, dan desain, untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan lingkungan di masa sekarang dan masa depan; dalam bentuk i-TREC (international tropical renewable energi conference).

Tahun ini, i-TREC menyelenggarakan untuk kali kedua di Courtyard by Marriott Hotel, Nusa Dua, Bali.

Konferensi ini juga bertujuan untuk mempromosikan penelitian dibidang energi-energi tropis terbarukan dan memfasilitasi pertukaran ide diantara para peneliti, academia dan praktis industri. Tahun ini i-TREC mengangkat tema “Towards Tropical Renewable Energi Innovation and Technology Integration”.

Pada penyelenggaraan ini, i-TREC 2017 menggandeng Universitas Udayana sebagai mitra lokal dalam penyelenggaraannya. i-TREC 2017 bertujuan meningkatkan kerjasama dan hubungan yang erat antara UI dengan para mitra daerahnya. Universitas Udayana selaku mitra lokal merupakan salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia.

Diharapkan kerjasama ini dapat membantu meningkatkan jumlah kerjasama di bidang penelitian dan jumlah makalah yang dipublikasikan dalam jurnal internasional. Tahun ini, penyelenggaraan i-TREC 2017 dibagi kedalam tiga tema besar/simposia, yaitu: Renewable Energi System and Regulation, Biomass and Biotechnology, dan Multifunctional and Advanced Materials for Renewable Energy Applications.

Konferensi ini akan dibuka Rektor Universitas Indonesia dan menampilkan presentasi dari 5 keynote speakers, 3 invited speakers, serta lebih dari 162 makalah peserta dari berbagai Negara.

“Termasuk dalam daftar keynote dan invited speaker adalah Prof. Farid Nasir Ani dari Universiti Teknologi Malaysia, Prof. Anutosh Chakraborty dari Nanyang Technological University, Singapore, Prof. Yves Andres dari IMT Atlantique, Perancis, Prof. Widodo Wahyu Purwanto dari Universitas Indonesia, Drs. Andianto Hidayat M.Sc (Eng) dari Pertamina Research & Technology Center, dan masih banyak lagi,” jelas Kahumas UI itu.

Para keynote dan invited speakers ini akan berbagi ilmu dan pengalaman mereka selama dua hari penyelenggaraan i-TREC 2017. @licom