Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Transfer Rp18,9 triliun nasabah Indonesia di Stanchart diselidiki regulator Eropa
Standard Chartered. FOTO Getty Image
EKONOMI & BISNIS

Transfer Rp18,9 triliun nasabah Indonesia di Stanchart diselidiki regulator Eropa 

LENSAINDONESIA.COM: Kasus transfer US$1,4 miliar atau sekitar Rp18,9 triliun di Standard Chartered Plc yang dilakukan nasabah Indonesia dari Guernsey (Inggris) terus diselidiki oleh pihak regulator di Eropa dan Singapura.

Transfer dengan nilai ‘jumbo’ tersebut, diduga terkait dengan militer.

Dilansir New York Times, Standard Chartered yang bermarkas di London namun melakukan sebagian besar bisnisnya di Asia, juga memulai penyelidikan internal atas transfer tersebut dan melaporkannya ke pihak regulator.

South China Morning Post juga melaporkan, pemeriksaan itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada karyawan bank yang terlibat dalam proses transfer tersebut.

Transfer dana dari Guernsey ke Singapura terjadi pada akhir 2015 dan pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg.

Transfer dilakukan sebelum otoritas Guernsey mengadopsi Common Reporting Standard (CRS), sebuah kerangka kerja global untuk pertukaran data pajak, pada awal 2016.

Penyelidikan Komisi Jasa Keuangan Guernsey dan Otoritas Moneter Singapura terkait transfer itu, menjadi pukulan tersendiri terhadap reputasi Standard Chartered yang saat ini justru sedang dibangun oleh CEO William T. Winters.

Winters sendiri telah menangani berbagai masalah pelanggaran sejak menjabat sebagai CEO pada 2015, mulai dari pelanggaran terkait sanksi AS terhadap Iran hingga dugaan suap di Indonesia.

Ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki soal kepatuhan, termasuk membentuk dewan komite risiko kejahatan finansial pada 2015 dan mempekerjakan detektif dari kepolisian Hong Kong dan FBI dalam tim penyelidikan internal.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Ken Dwijugiastedi mengaku telah mengetahui adanya orang Indonesia yang melakukan transfer dana besar-besaran itu.

Namun karena adanya aturan kerahasiaan data, maka Ken tak bisa membuka informasinya.

“(Siapa orang yang mentransfer itu?) Oh ya nggak boleh (dikasih tahu),” kata dia dia Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Minggu (08/10/2017).

Baca Juga:  Menko Polhukam Wirato diserang, 4 orang jadi korban luka

Ken meminta pihak tersebut untuk melakukan pembetulan surat pemberitahuan (SPT). “Kasih tahu ya, suruh ikut betulin SPT,” ujar dia.

Sebelumnya, regulator di Eropa dan Asia tengah menyelidiki Standard Chartered Plc. Penyelidikan ini terkait kasus transfer dana nasabah dari Indonesia senilai US$ 1,4 miliar atau Rp 18,90 triliun.

Dikutip dari Bloomberg, transfer tersebut dilakukan pada akhir 2015 dari Pulau Guernsey milik Inggris yang merupakan daerah di dekat Prancis ke Singapura.

Transfer tersebut menjadi perhatian otoritas keuangan di Eropa dan Asia karena dilakukan sesaat sebelum Guernsey mengadopsi aturan Common Reporting Standard (CRS) atau pertukaran data perpajakan global.

Sekitar 100 negara sepakat untuk bertukar informasi laporan tahunan tentang rekening milik orang-orang di setiap negara anggota untuk kepentingan pajak.

Otoritas Moneter Singapura, Otoritas Keuangan Inggris dan juga Komisi Jasa Keuangan Guernsey tengah mengelusuri rantai kejadian transfer dana yang diduga untuk menghindari aturan perpajakan yang baru tersebut.

Sayangnya, juru bicara Standard Chartered menolak untuk berkomentar. Sekretaris Otoritas Moneter Guernsey Dale Holmes pun juga menolak untuk berkomentar.@LI-13