LENSAINDONESIA.COM: Fajar Hendrawan (37) residivis yang menjadi orang kepercayaan Jono alias Aseng (bandar narkoba yang mendekam di Lapas Tanjung Pinang) dalam peredaran Narkoba, dituntut 17 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan denda sebesar Rp 3 miliar subsider 6 bulan, dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (9/10/2017).

Hal itu diucapkan JPU Rista Erna Soelistyowati dan Suci Anggraeni dari Kejati Jatim. “Setelah mendengar saksi-saksi dan pengakuan terdakwa, menuntut terdakwa Fajar Hendrawan dengan hukuman 17 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar subsider 6 bulan kurungan,” serunya.

Selain menuntut terdakwa Fajar, JPU juga menuntut istrinya Andria Rosa (23) dengan hukuman 6 tahun penjara. Wanita yang hamil 7 bulan ini, dinyatakan turut berperan mengedarkan narkoba. “Dan menuntut terdakwa Andria Rosa dengan hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 3 bulan penjara,” sambung JPU Rista Erna.

Sementara kuasa hukum terdakwa Adria Rosa, Fariji dari LBH Lacak mengatakan, kliennya tidak tahu menahu terkait bisnis narkoba yang jalani suaminya. “Klien kami hanya ikut saat diajak suaminya (Fajar Hermawan) ke Surabaya. Kalau masalah narkoba dirinya sama sekali tidak tahu,” terangnya.

Namun Fariji tidak menampik bahwa terdakwa yang membuka kamar di Hotel POP Jl Waspada no 56-60. “Dua kamar Hotel itu memang dipesan dan KTP klien kami yang digunakan,” sambungnya.

Dalam sidang tuntutan tersebut, Fariji langsung mengajukan pledoi. “Sesuai fakta persidangan klien kami tidak mengetahui masalah Narkoba, sehingga kami ajukan permohonan dan semoga dapat diterima sehingga Majelis Hakim dapat memvonis seringan-ringannya,” pungkasnya

Seperti diberitakan sebelumnya, Fajar Hendrawan (37) dan Andria Rosa (23) pasangan suami istri (pasutri) jadi terdakwa penyalahgunaan narkoba dengan barang bukti sabu 3,5 kg. Senin (4/9/2017) lalu, keduanya menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya dengan agenda keterangan terdakwa.

Saat memberikan keterangan di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Dede, Fajar menjelaskan dirinya hanya berperan sebagai penghubung antara bandar Narkoba Jono alias Aseng dan Saphari Brasil. “Yang membawa barang (narkoba) dari Tanjung Pinang, Saphari pak. Saya hanya memastikan barang itu sampai pada Igar Setiyono Bramanto,” terangnya.

Terdakwa Fajar Hendrawan juga mengaku atas jasanya menghubungkannya bandar narkoba besar Jono alias Aseng yang saat ini mendekam di Lapas Tanjung Pinang dan Saphari Brazil, hingga narkoba tersebut sampai pada pemesan (Igar Setiyono Bramanto), dirinya mendapat upah Rp 50 juta. “Saya belum mendapat upah pak. Tapi kalau barang sudah sampai, saya akan diberi Rp 50 juta,” tambahnya.

Atas keterangan tersebut, Majelis Hakim Dede sempat berang terhadap terdakwa yang memberikan keterangan dan dianggap tidak masuk akal itu. “Mana mungkin kamu tidak mendapatkan upah di depan, minimal uang saku dengan pekerjaan yang sangat beresiko seperti ini,” bentaknya.

“Benar pak, saya belum dapat. Saya hanya bertugas mengawasi Saphari dan memastikan barang itu sudah sampai kepada pemesannya,” sahut terdakwa Fajar.

Sementara terdakwa Adrian Rosa mengaku tidak mengetahui kalau kepergiannya ke Surabaya untuk melakukan transaksi Narkoba. “Saya tidak tahu pak Hakim, saya baru tahu setelah dikasih tahu suami kalau Saphari tertangkap masalah Narkoba,” ucap wanita yang sedang hamil 7 bulan tersebut.

Dalam dakwaan, saksi Shaphari Brazil dan saksi Igar Setiyono Bramanto (berkas terpisah) ditangkap petugas BNNP Jawa Timur, di Hotel POP Jl Waspada 56-60, Surabaya. Dalam penggeledahan ditemukan 1 tas ransel berisi 3 bungkus plastik berisi sabu dengan berat masing masing 1013 gram-1013 gram- 1012 gram, serta 1 bungkus plastik sabu seberat 483 gram.

Setelah dilakukan pengembangan oleh pihak BNNP Jatim, akhirnya kedua terdakwa ditangkap saat naik taksi menuju jalan Tol wilayah Jakarta Barat ke arah Cengkareng.

Kedua terdakwa oleh JPU didakwa melanggar hukum dengan mengedarkan narkotika jenis sabu tanpa ijin, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) Undang Undang No.35 tahun 2009 tentang narkotika. @rofik