Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Di Indonesia terjadi infiltrasi ideologi, Eropa kagumi Pancasila
Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Lestari Priansari Marsudi bertemu dengan Presiden Komunitas Sant'Egidio, Marco Impagliazzo, dan Pendiri Sant’Egidio, Andrea Riccardi. Dalam pertemuan di Roma, Italia ini, membahas penguatan kerja sama dialog antar agama. FOTO: Komunitas Sant'Egidio, Indonesia
Eropa

Di Indonesia terjadi infiltrasi ideologi, Eropa kagumi Pancasila 

LENSAINDONESIA.COM: Harmoni dan kemajemukan yang dimiliki Indonesia ternyata sangat dikagumi oleh Komunitas Sant’ Egidio.

Komunitas Sant Egidio merupakan komunitas tanpa batas persahabatan dengan orang-orang yang berasal dari negara dan budaya yang berbeda.

Andrea Riccardi, pendiri komunitas tersebut juga menyampaikan, bahwa pihaknya begitu kagum pada Pancasila yang menjadi alat perekat berbagai suku dan budaya di Indonesia.

“Saya kagum terhadap Pancasila yang mampu persatukan bangsa Indonesia yang beragam budaya dan agama,” kata Andrea Riccardi seperti diungkapkan Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi dalam keterangan tertulis, Selasa (10/10/2017).

Kekaguman Andrea Riccardi tersebut seharusnya membuka kesadaran bangsa Indonesia tentang pentingnya nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila. Mengingat, saat ini Indonesia mengalami infiltrasi. Dimana muncul wacana dari kelompok tertentu yang ingin mengganti idelogi bangsa tersebut.

Retno Marsudi menuturkan, kerja sama dengan komunitas ini telah berlangsung lama dan baik.

“Kerja sama Indonesia dan Komunitas Sant’ Egidio telah berlangsung lama salah satunya dengan organisasi massa Muhammadiyah dan NU, dan berjalan dengan baik,” seru Retno saat membahas penguatan kerja sama dialog keagamaan dengan komunitas Sant’ Egidio di Roma, Italia.

Menlu Retno diterima oleh Presiden Komunitas Sant Egidio, Marco Impagliazzo dan Pendiri Sant Egidio, Andrea Riccardi. Komunitas Sant Egidio memandang Indonesia sebagai laboratorium kemajemukan yang mampu hidup harmonis dan demokratis.

Pada pertemuan kali ini, kedua pihak juga berdiskusi mengenai berbagai masalah di kawasan, terutama yang menyangkut isu kemanusiaan, migrasi, terorisme serta dialog keagamaan yang telah tiga kali dilakukan oleh Indonesia dan Italia. Menlu Retno dan komunitas ini juga membahas mengenai isu Rakhine di Myanmar.

Komunitas Sant Edigio menghargai diplomasi kemanusiaan Indonesia di Myanmar dan Bangladesh di sana. Menurut mereka, isu Rakhine merupakan isu kemanusiaan yang dapat berpengaruh stabilitas keamanan kawasan.

Baca Juga:  HTI dibubarkan, Giliran individu penyebar khilafah harus ditindak tegas

“Dialog antar agama penting untuk jembatani hubungan antar masyarakat. Tahun ini kita selenggarakan interfaith dialogue yang pertama kalinya dengan Myanmar dalam upaya sharing knowledge hadapi kemajemukan di masyarakat,” tutur Retno.

Dalam pertemuan terbuka ini, Menlu Retno dan anggota Komunitas Sant Edigio juga sepakat bahwa terorisme tidak memiliki agama. Semua agama mengajarkan kedamaian.

Lebih lanjut dibahas juga bahwa dialog dan kerja sama masyarakat antaragama telah lama berlangsung di Indonesia, merupakan salah satu contoh mendapatkan solusi menghadapi perbedaan. Komunitas Sant Egidio memiliki komitmen dalam dialog antaragama, menjaga harmoni dalam masyarakat dan kegiatan kemanusiaan lainnya.

Komunitas Sant Egidio merupakan komunitas tanpa batas persahabatan dengan orang-orang yang berasal dari negara dan budaya yang berbeda. Hal tersebut menjadi cara komunitas ini untuk mengekspresikan pengertian mereka tentang makna persaudaraan internasional.

Menghayati dimensi hidup yang luas berarti harus terbuka pada dunia dan menjadi bagian dari satu keluarga yang sama, yaitu keluarga para rasul. Dan komunitas yang paling tua berada di Roma, Italia.@LI-13