Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Lima Puluh % ngritik anak Dahlan ‘pemilik’ Persebaya jadi ahli waris kerajaan JP (2)
Azrul Ananda sebelum mengakuisisi saham Persebaya, dia menjadikan Jawa Pos sebagai koran pertama di Indonesia yang mempelopori penyelenggaraan sekaligus pemiik lisensi kompetisi basket berskala internasional, sekaligus punya fasilitas gedung lapangan basket mega dengan arstektur berorientasi intertainment. @foto:swa
Buku

Lima Puluh % ngritik anak Dahlan ‘pemilik’ Persebaya jadi ahli waris kerajaan JP (2) 

JUDUL buku “Azrul Ananda, Dipuja dan Dicibir: Kontroversi Penguasa Baru Jawa Pos, Ahli Waris Dahlan Iskan” cukup panjang, memang. Isinya juga relatif tebal sampai 573 halaman –bukan 343 halaman seperti tulisah seri 1— karena juga menelisik bagaimana “Manajemen ‘Gowo Beres’ Dahlan Iskan “100 orang terkaya” versi globe Asia, dalam prosesi dan suksesi sang “Putera Pangeran” Azrul Ananda memegang tongkat estafet kerajaan grup media raksasa di Indonesia, yaitu Jawa Pos Group. Berikut lanjutan testimoni penulis.

Hubungan Azrul Ananda dengan raja raja daerah juga tidak semesra seperti saat Abahnya, Dis aktif di redaksi. Seperti, hubungan Azrul dengan Margiono, Bos Rakyat Merdeka pun dingin. Penulis pernah menyaksikan saat keduanya bertatapan muka di lantai 10 Graha Pena Jakarta beberapa tahun silam, mereka pun tidak saling bertegur sapa.

Dengan Zaenal Mutaqien, salah satu Direktur JP Holding yang juga Bos Kaltim Post Grup pun dingin. Pemicunya, saat Zaenal ditunjuk menjadi Pemred JP tahun 2007 menggantikan Azrul yang diskors Dis enam bulan, karena rumor pribadi yang tidak baik meski akhirnya tidak terbukti.

Nah, saat Zaenal berpapasan dengan Azrul di Graha Pena, Zaenal tidak menyapa, bahkan tidak memberitahukan kalau Zam kode Zaenal Mutaqien menjadi Pemred menggantikan dirinya. Azrul tersinggung berat. Sejak itu, hubungan keduanya dingin. Namun, Zaenal saat bertemu penulis membantah. Katanya, hubungan dirinya dengan Azrul baik baik saja. Bahkan, hubungan Azrul dengan raja raja Koran daerah lainnya kabarnya malah lebih buruk. Hanya saja belum terkonfirmasi penulis.

Kini, Azrul menjelma menjadi penguasa tunggal JP dan Grupnya. Azrul begitu digdaya, bahkan melebihi Abahnya Dis. Tak heran para pejabat JP baik yang di JP maupun JP Grup, kini mau tidak mau, terpaksa atau sukarela harus tunduk, patuh pada kebijakan Azrul jika masih ingin “mencari hidup” di JP. Nyaris tak ada pimpinan JP yang berseberangan dengan Azrul apalagi bersikap oposisi. Itu terlihat dari sikap mereka saat diwawancarai penulis. Tidak ada yang berani mengkritik Azrul secara terbuka.

Azrul dengan pasukan mudanya DetEksi yang kini berubah ZetiZen, banyak dipuja karena dinilai sukses menggaet pembaca muda JP, juga sukses mengulirkan beragam event mulai kompetisi bola basket antar pelajar atau DBL, Jawa Pos Bromo Cycling, lomba lari marathon dan event lainnya.

Baik yang skala nasional maupun internasional. Terakhir mengambil alih kepemilikan Persebaya dengan menguasai 70 saham dengan menggelontorkan dana Rp 7,5 miliar.

Baca Juga:  BJ Habibie meninggal dunia

Tapi, tak sedikit senior JP yang mencibir keberhasilan Azrul. Mereka bilang Azrul jangan pongah, jangan main klaim berhasil. Sebab, saat Azrul masuk redaksi JP tahun 2000, JP sudah hebat, JP sudah jejek, tegak berdiri. Punya mesin cetak sendiri, punya gedung sendiri, punya jaringan Koran seluruh Indonesia, punya the dream team SDM yang luar biasa militan.

Pendeknya, JP sudah hebat sebelum Azrul masuk ke redaksi JP. Semua itu dibangun Dis dan karyawan, wartawan perintis dengan kerja keras, mandi keringat dan darah hingga JP menjadi imperium seperti sekarang.

Makanya, senior JP lainnya pun mempertanyakan klaim pemuja dan orang orangnya Azrul yang katanya sukses membawa JP bisa bertahan sampai sekarang bahkan lebih maju. Klaim itu lanjut senior tadi, kurang tepat. Mengapa? Karena pendiri JP yakni, Dis masih hidup.

Klaim berhasil atau sukses baru syah kalau pendiri (Dis) sudah tiada. Itu pun kondisi JP setelah ditinggalkan pendirinya harus lebih maju, harus lebih bagus, harus lebih sukses. Kalau sekarang Azrul main klaim sukses memimpin JP itu tidak tepat.

Penulis juga mengungkap bagaimana Dis menerapkan menejemen konflik terhadap mereka yang berpotensi melawan, atau bahkan menggoyang kekuasaannya.

Bagaimana Dis, meletakkan mesiu “psy war” politik “devide et impera”,  ‘adu kambing’ trio ‘ideologi’ almarhum M Sirajd, almarhum Solihin Hidayat dan Margiono yang merupakan kader terbaik wartawan generasi pertama. Ketiganya punya orientasi ideologi yang saling beda. Margiono (mg) dikenal nasionalis, dan saat pemred JP sempat “all out” mengorbitkan Megawati Soekarno Puteri yang di-“kuyo-kuyo” Orde Baru, sukses mengawali jadi Ketua Umum partai berlambang banteng moncong putih. Sholihin (hin), jebolan IAIN Sunan Ampel loyalis Nadlatul Ulama (NU) dan dengan dengan kiai-kiai besar nasional era 80-an sampai 90-an. M Siradj, yang kalau bicara masih kental berlogat Madura ini jago menulis berita features,  menonjol dalam hal passion pasar, dan menguasai jaringan ‘senggol bacok’  yang sangat pas untuk sirkulasi koran eceran.

Harus ada modus bagaimana tiga serangkai tadi tidak bersatu, karena bisa membahayakan kekuasaan Dis dengan melawan kebijakan redaksi. Maka, Dis membedakan fasilitas, tunjangan dan gaji ketiganya. Terbukti, itu manjur karena mereka tidak pernah bersatu. Padahal, kalau bersatu bisa melakukan apa saja saat itu. Termasuk melawan Dis. Itu karena mereka selain tergolong senior, juga sangat berpengaruh besar di redaksi.

Baca Juga:  Mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron dikabarkan meninggal dunia

Meski secara struktural Dis tak menjabat apa apa di PT JPK maupun PT JPG dan hanya sebagai pemegang saham dan pemilik JP Grup. Tapi, Dis tetap berperan mengambil keputusan strategis dalam Jawa Pos Grup. Termasuk mengorbitkan Azrul, anak lanangnya yang kini menggantikan posisi dirinya.

Termasuk pula diyakini ikut berada di belakang strategi manajemen besar terkait mempreteli kekuasaan Nany Wijaya dari berbagai jabatan yang dulu diembanya baik di Radar maupun JP Holding. Terakhir, pencopotan Nany sebagai salah satu Direktur PT Jawa Pos Holding dalam RUPS sekitar akhir Juli 2017 di Jakarta baru baru ini.

Buku ini juga dilengkapi bonus tulisan utuh maupun kutipan dari Azrul Ananda yang dimuat setiap hari Rabu di harian Jawa Pos. Namanya kolom suka-suka Happy Wednesday. Tulisan itu berupa gagasan, uneg uneg, ide, impian, pengalaman yang sangat Azrul, yang khas Azrul, yang genuin dari Azrul. Pokoknya, suka suka Azrul saat menulis. Apa yang ada di kepala dan pikirannya Azrul dituangkan saat menulis.

Penulis anggap ini penting agar pembaca buku ini bisa lebih tahu, lebih paham siapa Azrul itu. Soal penilaian akhir seperti apa sosok Azrul itu ya.. pembaca sendiri yang menyimpulkan.

Buku ini dibuat independen, tanpa penyandang dana, tanpa sponsor , tanpa melibatkan “orang-orang” yang berbau Jawa Pos, maka diharapkan isinya juga independen. Harapan penulis, minimal 50 persen sumber menilai positif Azrul, selebihnya juga 50 persen mengkritik Azrul dan Jawa Pos.

Penulis pun menyusun daftar nara sumber. Kriterianya tentu sangat subyektif berdasarkan suka suka penulis. Yang pertama, para senior JP, orang JP yang pernah bersentuhan Azrul Ananda, tahu Azrul, dan kritis terhadap Azrul dan Jawa Pos. Mereka yang jadi saksi perjalanan karir Azrul dan intrik intrik di redaksi dimana juga melibatkan Azrul.

Untuk mengimbangi nara sumber di luar JP, penulis juga memasukan beberapa karyawan JP aktif. Khususnya mereka yang selama ini dekat sama Azrul. Tentunya seijin Azrul. Kalau tidak, mustahil mereka berani ngomong soal Azrul.

Tentu ada beberapa pertimbangan lain yang tidak perlu penulis sebutkan di sini. Penulis khawatir nanti justru jadi polemik.

Penulis sendiri generasi tanggung. Masuk JP tahun 1996 purnatugas 2015. Ke atas hanya mengenal beberapa senior JP secara dekat. Sebaliknya pada generasi dibawah penulis juga hanya mengenal secara dekat beberapa orang saja. Hanya saja kelebihan penulis menyaksikan langsung kepemimpinan Azrul Ananda di JP. Tapi, kenal dekat Azrul juga tidak. Biasa biasa saja.

Baca Juga:  BJ Habibie wafat, Gubernur Khofifah ajak warga Jatim kirim doa

Tapi, beberapa nara sumber ada yang menolak diwawancarai. Alasannya, beragam. Ada yang merasa tidak enak ngomong soal Jawa Pos, menyiratkan Azrul Ananda belum layak ditulis, khawatir atau takut karena bekerja di lingkungan JP Grup sampai ingin mendem jero masa lau JP.

Semua tantangan ini menggairahkan kembali semangat hidup penulis sebagai wartawan. Maklum sejak ditarik ke Surabaya 2006 dari Jakarta untuk menjadi redaktur sepertinya tidak ada tantangan lagi. Kerja hanya monoton. Kecuali sesekali ada penugasan di wilayah konflik.

Sejak muncul ide menulis buku, gairah jadi wartawan pada diri penulis seakan hidup lagi. Tiap hari menjadwal wawancara dengan senior JP, menulis, wawancara lagi. Menunggu nara sumber, ketemu konco lawas.

Ya, mengulang aktivitas seperti wartawan dulu sesuatu yang terus rindukan terutama meliput di wilayah konflik. Ini sangat mengasikkan. Bedanya, saat bikin buku semua dipikirkan, dijalani, dilakukan sendiri oleh penulis. Pokok e sak kerepe dewe. Sak enak e dewe. Tidak ada yang menyuruh ini itu,  mem-pressure begini begitu, seperti saat menjadi wartawan dulu. Karena tidak ada editor atau redaktur. Semua ditulis, diedit penulis sendiri. Agar gaya dan sentuhan Jawa Pos tetap lekat, penulis minta bantuan Yarno Wiryo mantan copy editor atau editior bahasa JP untuk memeriksanya.

Bersyukur sekitar 33 nara sumber lainnya bersedia diwawancarai penulis. Selain untuk bahan penulisan buku, wawancara dengan para senior JP dan konco lawas lainnya sekaligus ajang silaturahmi. Apalagi, setiap melakukan wawancara penulis lebih suka nggowes, pakai sepeda pancal. Baik di Surabaya maupun Sidoarjo sekitarnya. Dari wawancara itu penulis lebih banyak tahu sisi lain seorang Azrul dan intrik-intrik di redaksi yang selama ini penulis tidak tahu.

Sedikit mengangetkan penulis, sebagaian kecil mantan. Sekali lagi, sebagaian kecil mantan Jawa Pos yang berada di luaran pun enggan atau masih sungkan mengkritik Azrul secara terbuka. Dugaan penulis, mungkin mereka ewuh pekewuh sama Dis atau masih punya kepentingan terhadap Jawa Pos, atau Azrul. Walahualam. @bersambung