LENSAINDONESIA.COM: I Made Somya Kuasa hukum tersangka ‘makelar kasus’ Muhamad Ridwan meminta Polda Bai mengormati asas praduga tidak bersalah dalam melakukan penyelidikan sebuah perkara.

Pernyataan ini disampaikan Somya atas penersangkaan terhadap klienya yang ditangkap Polda Bali atas tuduhan tindak pidana pemerasan terhadap seseorang bernama I Made Mahardika (38) hingga mencapai Rp 6,6 miliar.

“Masih terlalu dini untuk mentersangkakan klien kami sebagai ‘markus’. Sebab materi-materi dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) maupun keterangan-keterangan yang telah disampaikan masih dalam proses penyidikan”.

“Kami berharap setiap orang menghormati asas praduga tidak bersalah (Presumtion of Innocence). setiap orang yang disangka, ditangkap- ditahan, dituntut atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan Pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana diatur dalam Pasal 8 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman,” terang Somya dalam keterangan pers yang diterima lensainodesia.com di Bali, Minggu (22/10/2017).

Pengacara dari Kantor Pengacara The Somya International Law Office itu mengatakan, meskipun secara materi hukum kliennya telah kooperatif dan terbuka tanpa menutup-nutupi serta berterus-terang di dalan BAP untuk berupaya membantu penyidik, namun harus dipahami bahwa dalam kasus yang terkait dengan mafia hukum sangat jarang kasus tersebut tuntas pada oknum aparat penegak hukumnya.

“sehingga kami mengkhawatirkan kasus ini hanya akan ‘mengkrucutkan’ pada yang dianggap makelar kasusnya saja dan akhirnya. Hanya berhenti pada klien kami saja tanpa mampu menyentuh oknum yang menjadi aktor mafia hukum yang sebenarnya”.

“Karena dalam pemberitaan di media klien kami disebut sebagai makelar Kasus, jadi kami mau menyampaikan klarifikasi sebagai penyeimbang dari berita yang ada. Perlu diingat bahwa dalam dunia mafia peradilan, posisi makelar kasus hanyalah perantara. Bahwa pihak yang memesan dengan oknum yang memiliki kewenangan, sehingga ada pihak lain yang seharusnya diungkap serius oleh penyidik Polda Bali,” tandasnya.

Untuk itu, menurut Somya, justru tantangan saat ini ada pada pihak Penyidik Polda Bali apakah benar-benar mengusut tuntas kasus ‘mafia hukum; ini tanpa terhenti pada Kliennya saja atau justru akhirnya ‘menumbalkan’ kliennya saja tanpa menyentuh oknum yang menjadi mafia hukum sebenarnya.

Seperti diberitakan, Muhamad Ridwan ditangkap Polda Bali atas tuduhan tindak pidana pemerasan hingga mencapai Rp 6,6 miliar.

Penangkapan dilakukan setelan polisi menerima laporan dari korban yakni I Made Mahardika (38).

Menurut laporan Made Mahardika, pelaku mendekati korban yang memiliki kasus di Polda Bali dan mengaku sebagai “markus” yang memiliki bekingan Jenderal di Mabes Polri.

Akibatnya Made Mahardika mengalami kerugian sekitar Rp 6,6 miliar.@hidayat