Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Pewaris “Dahlan 100 Orang terkaya” cueki Bos Rakyat Merdeka dan Bos Kaltim Post
Azrul Ananda setelah mulus mengelola basket dengan DBL-nya, kini mengawali membuktikan apakah tangannya tetap "dingin" dengan membeli saham 70 Persebaya. @foto:emosijwaku
Buku

Pewaris “Dahlan 100 Orang terkaya” cueki Bos Rakyat Merdeka dan Bos Kaltim Post 

HUBUNGAN Azrul Ananda dengan raja raja kecil grup Jawa Pos di daerah daerah yang tersebar di tanah air juga tidak semesra seperti saat Abahnya, Dahlan Iskan (Dis) yang kini menjadi “100 orang terkaya” versi Globe Asia 2017 itu, masih aktif di redaksi.

Seperti, hubungan Azrul dengan Margiono, Bos Rakyat Merdeka, contohnya, pun dingin. Penulis pernah menyaksikan saat keduanya bertatapan muka di lantai 10 Graha Pena Jakarta beberapa tahun silam. Mereka pun tidak saling bertegur sapa. Padahal, Mg –inisial Margiono– wartawan senior JP yang sangat disegani kalangan wartawan Jawa Pos grup di tanah air, lantaran Mg mampu mendapat pengakuan elite nasional di Jakarta baik dari kalangan media, politik, birokrat, sampai milter, termauk pula ormas-ormas keagamaan. Selain Bos Rakyat Merdeka, Mg juga Ketua PWI Pusat.

Begitu pula Azrul dengan Zaenal Mutaqien, salah satu Direktur JP Holding yang juga Bos Kerajaan Kaltim Post Group juga sempat dingin-dingin ‘meriang’. Pemicunya, saat Zaenal ditunjuk menjadi Pemred JP tahun 2007 menggantikan Azrul yang diskors Dis enam bulan karena rumor personal, meski akhirnya tidak terbukti.

Nah, saat Zaenal berpapasan dengan Azrul di Graha Pena, Zaenal tidak menyapa bahkan tidak memberitahukan kalau Zam –kode Zaenal Mutaqien– menjadi Pemred menggantikan dirinya. Azrul tersinggung berat. Sejak itu, hubungan keduanya dingin. Namun, Zaenal saat bertemu penulis membantah. Katanya, hubungan dirinya dengan Azrul baik baik saja. Bahkan hubungan Azrul dengan raja Koran daerah lainnya, kabarnya malah diimijkan lebih buruk. Hanya saja belum terkonfirmasi penulis.

Kini, Azrul berhasil menjelma menjadi penguasa tunggal JP dan Grupnya. Azrul mampu begitu digdaya, bahkan melebihi Abahnya, Dis. Tak heran, para pejabat JP baik yang di JP maupun JP Grup, kini mau tidak mau, terpaksa atau sukarela harus tunduk. Patuhahk pada kebijakan Azrul jika masih ingin “mencari nafkah” di JP. Nyaris tak ada pimpinan JP yang berseberangan dengan Azrul, apalagi bersikap oposisi.

Semua itu terlihat dari sikap mereka saat diwawancarai penulis. Tidak ada yang berani mengritik Azrul secara terbuka. Walau pun sesekali ada kalimat satire, sarkasme, “sepercik bara dalam dada”.

Baca Juga:  BJ Habibie meninggal dunia

Pastinya, Azrul dengan generasi millenealnya, pasukan mudanya DetEksi yang kini berubah ZetiZen, banyak dipuja karena dinilai sukses menggaet pembaca muda JP. Juga sukses mengulirkan beragam event mulai kompetisi bola basket antar pelajar atau DBL, Jawa Pos Bromo Cycling, lomba lari marathon dan event lainnya.

Bahkan, masing-masing event itu mampu diprogress melembaga. Baik yang skala nasional maupun internasional. Terakhir, bikin terobosan mencengangkan, yaitu mengambil alih kepemilikan Persebaya dengan menguasai 70 saham dengan menggelontorkan dana Rp 7,5 miliar.

Tapi, tidak sedikit senior JP yang mencibir keberhasilan Azrul. Mereka bilang Azrul jangan pongah, jangan main klaim berhasil. Sebab, saat Azrul masuk redaksi JP tahun 2000, JP sudah hebat, JP sudah ‘jejek’ tegak berdiri, dan tangguh. Punya banyak mesin cetak sendiri, punya banyak gedung sendiri, punya jaringan koran dan teve seluruh Indonesia, punya pabrik kertas, punya hotel, punya perusahaan pembangkit listrik, punya the dream team SDM yang luar biasa militan.

Pendeknya, JP sudah hebat sebelum Azrul masuk ke redaksi JP. Semua itu dibangun Dis dan karyawan pejuang, wartawan perintis dengan kerja keras, mandi keringat dan ‘darah’ bahkan era kembang Jepun sempat ada yang mati karena serangan lever, era kemudian ada pula yang mati karena serangan jantung. Sampai kemudian keniscayaan membuat JP menjadi imperium seperti sekarang.

Makanya, senior JP lainnya pun mempertanyakan klaim pemuja dan orang orangnya Azrul yang katanya sukses membawa JP bisa bertahan sampai sekarang, bahkan lebih maju. Klaim itu lanjut senior tadi, kurang tepat. Mengapa? Karena pendiri JP yakni, Dis masih hidup dan masih “cawe-cawe”.

Klaim berhasil atau sukses baru sah dan sahih kalau pendiri (Dis) sudah tiada. Itu pun kondisi JP setelah ditinggalkan pendirinya harus lebih maju, harus lebih bagus, harus lebih sukses. Kalau sekarang Azrul main klaim sukses memimpin JP itu tidak tepat.

Baca Juga:  Tak ada kantor cabang, Grab menuai protes di Jember

Dan, tentu bagi Azrul sebuah tantangan jauh lebih berat dan lebih besar kalau niscayanya sebagai “putera Pangeran” pewaris Dahkan Iskan, kelak tidak ingin dihujat mantan-mantan karyawan JP yang ikut berjuang membesarkan JP, hingga pensiun dengan uang “pesangon” relatif pas-pasan untuk membiayai kuliah anak-anaknya. Sejarah membuktikan bahwa memelihara, apalagi mengembangkan tidak lebih mudah dari melahirkan dan membangun sebuah keniscayaan.

Penulis juga mengungkap bagaimana Dis menerapkan menejemen konflik terhadap mereka yang berpotensi melawan, atau bahkan menggoyang kekuasaannya. Bagaimana Dis, meletakkan mesiu “psy war” politik “devide et impera”, “adu kambing jawa” –plesetan adagium “adu domba”–

trio “ideolog”, almarhum M Sirajd, almarhum Sholihin Hidayat, dan Margiono. Ketiganya merupakan kader terbaik wartawan JP generasi pertama.

Catatan, ketiga figur tangguh generasi awal –selain Nany Wijaya yang diorbitkan Dis– itu seakan menjadi simbol energi awal niscaya JP berproses jadi keniscayaan koran raksasa dari Timur, menandingi kebesaran koran-koran nasional di Jakarta seperti Harian Kompas maupun Suara Pembaharuan.

Sebagai wartawan ideologis, faktanya Margiono –inisial Mg– di era rezim Soeharto tahun 80-an mampu membangun jaringan elite beridelogi nasionalis. Bahkan, Mg berjasa bagi Megawati karena mampu “all out” dan sukses mengendalikan berita berita “head line” JP hingga berhasil mengantarkan Megawati merebut kursi PDI pertama kali kemudian berubah PDI Perjuangan, setelah digempur manajemen konflik yang diciptakan rezim soeharto. Mg yang di generasi awal dikenal wartawan “abangan” ini, lantas membuktikan mampu diterima keluarga besar wartawan nasional senior BM Diah untuk mengendalikan Harian Merdeka saat koran raksasa zaman Orla ini merger dengan JP, hingga kemudian Mg sukses ditugasi mendirikan koran grup JP sendiri, “Rakyat Merdeka” sampai sekarang.

Sebaliknya, masih menurut catatan, Sholihin –berinisial Hin– yang alumni IAIN Sunan Ampel. Dia sejak jadi redaktur mampu menjadikan koran JP identik dengan emosi Nahdliyin, khususnya di Jawa Timur yang merupakan basis pasar JP, hingga Kompas maupun koran lokalnya, Surya sulit menjebol pembaca fanatik JP khususnya dari kalangan Nahdliyin. Hin saat pemred pun melanjutkan kebiasaan setiap malam Jumat selalu ziarah ke Sunan Ampel –tidak jarang mengajak Arif Afandi saat redpel– ini, sangat dekat dengan elite kiai-kiai NU di tanah air. Bahkan, Hin juga punya jaringan kuat dengan pondok-pondok pesantren besar.

Baca Juga:  Gugatan SPRI dan PPWI ditolak, Dewan Pers menang lagi di Pengadilan Tinggi Jakarta

Begitu pula almarhum M Sirajd, yang jago penulis features JP. Alumni IKIP Surabaya yang kalo wawancara dialeknya kental Madura ini dikenal memiliki jaringan lapangan “senggol bacok” relatif kuat. Karena itu M Siraj di JP setelah tak lagi di redaksi, dia lebih pas menjadi direktur pemasaran JP.

Bagaimana tiga serangkai itu tidak bersatu, karena talenta dan jaringannya bisa membahayakan kekuasaan sang pencetak kader, Dis dengan melawan kebijakan redaksi. Maka, Dis punya strategi dasyat, termasuk menciptakan ‘patuh” dan “loyal” kepada dirinya. Misalnya, membedakan fasilitas, tunjangan, dan gaji Mg, ketiganya.

Terbukti, itu manjur karena mereka tidak pernah bersatu. Padahal, kalau bersatu bisa melakukan apa saja saat itu. Termasuk, mengganggu Dis dengan cara berkoalisi dengan orang-orang majalan Tempo –senior Dis– yang tidak suka dengan Dis. Kafena ketiganya selain tergolong senior JP pasca generasi Slamet Oerip (SOP), juga sangat berpengaruh di redaksi saat itu. Bahkan, indikator perlawanan itu sempat ditampakkan mendiang Hin, meski hanya berupa percikan pertentangan kebijakan, namun substantif.

Kesejarahan JP belakangan, meski secara struktural Dis tidak menjabat apa apa di PT JPK maupun PT JPG dan hanya sebagai salah satu pemegang saham atau owner JP Grup. Tapi, Dis tetap berperanan utama mengambil keputusan strategis dalam Jawa Pos Grup. Termasuk mengorbitkan Azrul, anak “lanang”-nya yang kini menggantikan posisi dirinya.

Termasuk, Dis diyakini ikut mempreteli kekuasaan Nany Wijaya dari berbagai jabatan yang dulu diembanya baik di Radar maupun JP Holding. Terakhir, pencopotan Nany sebagai salah satu Direktur PT Jawa Pos Holding dalam RUPS sekitar akhir Juli 2017 di Jakarta baru baru ini. @bersambung