Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Ungkap siksaan penyidik Polsek Mulyorejo, terdakwa narkoba cabut keterangan BAP saat sidang
Ketiga terdakwa narkoba ini kompak mencabut semua keterangannya dalam BAP saat diperiksa penyidik Polsek Mulyorejo (rofik)
HEADLINE JATIM RAYA

Ungkap siksaan penyidik Polsek Mulyorejo, terdakwa narkoba cabut keterangan BAP saat sidang 

LENSAINDONESIA.COM: Dua terdakwa kasus narkoba, Bimantara Purnomo Putra dan Ruven Rinaldo Fransisco Pandelaki, yang menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (30/10/2017), menarik semua pernyataannya dalam BAP saat diperiksa penyidik Reskrim Polsek Mulyorejo.

Dalam sidang di ruang Garuda II, Pieter Manuputty, kuasa hukum tersakwa menghadirkan M Hajar Arifin (berkas terpisah), sebagai saksi meringankan. Dalam keterangannya, kedua terdakwa menyatakan terpaksa mengakui keterlibatannya dalam penyalahgunaan Narkoba saat diperiksa penyidik di Mapolsek Mulyorejo.

“Barang bukti (pipet kaca, bong dan korek) saya yang ambil dari bawah TV (dalam kamar). Tapi saya tidak tahu itu punya siapa, soalnya yang masuk ke kamar saya banyak,” ungkap terdakwa Ruven Rinaldo.

Ketua Majelis Hakim Dede sempat mempertanyakan keterangan dalam BAP terdakwa. Namun Ruven menegaskan dirinya terpaksa mengaku karena ketakutan setelah mendengar Parikesit (sudah dilepas) disiksa dan diancam akan ditembak. “Karena takut, saya terpaksa mengaku iya, saat ditanya penyidik. Saya khawati disiksa seperti Parikesit,” tambahnya.

Hal senada juga dinyatakan terdakwa Bimantara dengan membantah keterlibatannya dalam penyalahgunaan narkoba. “Saya takut pak, soalnya melihat Parikesit giginya sampai rontok karena dihajar,” timpalnya.

Saat disinggung dirinya didampingi kuasa hukum ketika diperiksa penyidik Polsek Mulyorejo, terdakwa mengaku langsung menandatanganii BAP tanpa membaca terlebih dahulu. Bahkan dirinya juga tidak disuruh membaca isi BAP oleh kuasa hukumnya. “Saya tidak sempat baca Pak Hakim, saya hanya disuruh tanda tangan agar cepat,” ungkapnya.

Sementara saksi Hajar Arifin saat memberikan kesaksian, juga ikutan mencabut BAP-nya dengan alasan ketakutan sewaktu diperiksa penyidik Polsek Mulyorejo.

Menanggapi ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Marsandi yang menyatakan bahwa pada saat pelimpahan tahap II (penyerahan barang bukti dan tersangka) di Kejari Surabaya, dirinya sempat memeriksa ulang keterangan para terdakwa narkoba ini. “Saat tahap II, kamu didampingi kuasa hukum, kenapa kamu tidak membantah,” tanya Marsandi kepada saksi Hajar.

Mendapat pertanyaan tersebut, Hajar Arifin mengaku masih trauma dan takut karena disampingnya masih ada penyidik Polsek Mulyorejo. “Apa saya menekan kamu, apa saya juga mengancam kamu? Disitu kamu juga membuat pernyataan secara tertulis,” tanya JPU Marsandi yang menyerahkan pernyataan saksi.

Sedangkan, Pieter Manuputty kuasa hukum kedua terdakwa narkoba itu membantah pernyataan kliennya yang mengaku dilarang membaca BAP. Bahkan dirinya sudah menyuruh terdakwa membaca dan membantah bila tidak sesuai. “Saya sudah menyuruh membaca dan membantah bila ada yang tidak sesuai, tapi klien saya ini masih ketakutan. Namun setelah di Lapas Medaeng, dia baru cerita bahwa BAP tersebut tidak sesuai,” dalihnya.

Perlu diketahui, dalam dakwaan kedua terdakwa ditangkap unit Reskrim Polsek Mulyorejo, Senin (3/4/2017). Sebelumnya polisi menangkap Parikesit dan 4 orang lainnya (sudah dilepas).

Dari keterangan Parikesit diperoleh informasi, sabu didapat dari Bimantara Purnomo Putra dan Ruven Rinaldo Fransisco Pandelaki yang ditangkap kemudian. Kedua terdakwa narkoba ini mengaku membeli sabu dari Hajar Arifin (berkas terpisah) seharga Rp 250 ribu.

Atas perbuatannya, terdakwa diancam pidana dalam Pasal 112 Ayat (1) Jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. @rofik