Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Ini jawaban Kapolsek Mulyorejo dituduh siksa dan lepas terduga narkoba dengan tebusan uang
Kapolsek Mulyorejo Kompol Bagus Dwi Rismawan (rofik)
HEADLINE JATIM RAYA

Ini jawaban Kapolsek Mulyorejo dituduh siksa dan lepas terduga narkoba dengan tebusan uang 

LENSAINDONESIA.COM: Kapolsek Mulyorejo Kompol Bagus Dwi Rismawan, membantah pernyataan terduga narkoba, Parikesit cs yang ditangkap pada 3 April 2017 lalu, dan mengaku dilepas setelah sebelumnya dihajar hingga gigi rompal dan bayar tebusan total Rp 11 juta.

Hal tersebut diungkapkan Kompol Bagus saat dikonfirmasi Lensa Indonesia di Mapolsek Mulyorejo, Rabu (1/11/2017). Menurut versinya, saat anggotanya melakukan penangkapan, Parikesit langsung lari dan berontak setelah tertangkap. “Setelah melihat kedatangan anggota, dia lari sehingga anggota melakukan pengejaran. Setelah tertangkap, dia (Parikesit) berontak,” dalihnya.

Kompol Bagus membantah anggotanya melakukan penyiksaan terhadap Parikesit. “Waktu ditangkap, dia berontak sampai anggota juga kena pukul. Untuk mengatasi perlawanannya, terjadi pergumulan sehingga sikut anggota saya mengenai mukanya dan berakibat giginya copot. Jadi tidak benar ada penyiksaan,” imbuhnya.

Disinggung terkait dilepasnya lima terduga pengguna Narkoba, Parikesit cs, setelah membayar Rp 11 juta kepada penyidik, Mantan Kapolsek Gubeng ini juga membantah keras. “Secara logika, lima orang dilepas dengan (membayar) hal seperti itu, sangat tidak mungkin. Kami juga tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, ya biar masyarakat yang menilai,” paparnya.

“Dugaan kami, ini ada skenario yang sudah dilakukan secara matang agar ketiga terdakwa bebas demi hukum. Saya juga sudah membaca berita bahwa tiga terdakwa mengaku dalam sidang tidak diperbolehkan membaca BAP oleh kuasa hukumnya,” beber Bagus.

Bagus juga sangat berharap pihaknya dapat dipertemukan dengan Parikesit dan empat orang lainnya yang mengaku telah diminta uang oleh penyidik. “Silahkan Parikesit pertemukan dengan kami dan bawa kuasa hukumnya biar semua jelas,” tantangnya.

Seperti diberitakan Lensa Indonesia sebelumnya, 5 dari 8 tersangka narkoba dilepas Polsek Mulyorejo setelah sebelumnya sempat ditangkap. Walaupun urine dinyatakan positif mengandung amphetamine (Narkoba), mereka tetap dilepas setelah diduga sukses merayu penyidik dan membayar tebusan Rp 11 juta.

Hal tersebut diungkapkan Parikesit, salah satu tersangka yang sempat mengalami siksaan fisik hingga beberapa giginya tanggal. “Saya sempat dipukuli sampai beberapa gigi rontok dan dipaksa mengaku sebagai pengedar narkoba,” ujarnya.

Parikesit juga mengungkapkan, bahwa setelah dilakukan tes urine di klinik Bhayangkara Jl Rajawali, seluruhnya dinyatakan positif oleh dokter. “Waktu itu saya sudah tidak bisa berpikir jernih. Kepala pusing, muka saya lebam dan gigi saya rompal sehingga menimbulkan nyeri yang amat sangat. Waktu dokter dan polisi bilang urine saya positif, saya sudah gak kuasa untuk membantah,” tambahnya.

Disinggung dirinya dilepas oleh petugas walaupun hasil tes urine dinyatakan positif mengandung narkoba, Parikesit menyatakan petugas Polsek Mulyorejo tidak menemukan barang bukti. “Tidak ada barang bukri narkoba ataupun sabu yang ditemukan dari saya. Setelah itu saya dan 4 orang lainnya dilepas dengan kesepakatan bayar Rp 11 juta,” pungkasnya.

Adapun lima dari delapan orang yang dilepas Polsek Mulyorejo adalah Parikesit, Widya, Dea, Rica dan Yudha. Sementara tiga lainnya, yakni Bimantara Purnomo Putra, Ruven Rinaldo Fransisco Pandelaki dan Hajar Arifin tetap dijadikan tersangka.

Belakangan dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (30/10/2017), ketiga terdakwa narkoba ini juga mencabut BAP atas keterangannya. Mereka kompak menyebut terpaksa mengakui kasus narkoba tersebut karena tertekan dan takut mengalami siksaan fisik seperti yang dialami Parikesit. @rofik