Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
IPOL bukan alat riset politik saja, mampu jadi PR Agency online
Petrus Hariyanto, CEO iPOL Indonesia saat menunjukkan hasil riset terkait Pilgub di sela Press Conference di Hotel Aria Centra Surabaya, Rabu (01/11/2017). Foto-Eld
Bisnis

IPOL bukan alat riset politik saja, mampu jadi PR Agency online 

LENSAINDONESIA.COM: Aplikasi IPOL yang dikenal sebagai alat riset dan monitoring politik juga bisa dioptimalkan untuk kepentingan business research (Riset Bisnis).

Petrus Hariyanto, CEO IPOL Indonesia mengatakan, dari core awal aplikasi ini sebagai alat riset perkembangan politik khususnya yang saat ini lagi demam musim pilgub. Pihaknya memanfaatkan pengguna internet aktif sebagai acuannya.

“Katakanlah, di Jatim yang berpenduduk sekitar 142 juta jiwa, 38 hingga 40 persen merupakan pengguna internet aktif. Untuk itu, aplikasi ini bekerja maksimal jika dijadikan acuan analisa politik. Data yang kami himpun memang didominasi dari media massa cetak, elektronik hingga online berikut sosial media,” ujar Petrus saat dikonfirmasi Lensaindonesia.com usai gelaran Press Conference di Hotel Aria Centra Surabaya, Rabu (01/11/2017).

Terkait untuk penggunaan bisnis, lanjut Petrus, IPOL layaknya fungsi sebagai motif kerja sebuah PR Agency. Istilahnya, IPOL ini merupakan PR Agenscy online yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan untuk penggalian informasi terkait kelangsungan bisnisnya.

“Data yang kami peroleh memang dari monitoring berita-berita media massa karena itu big data kami. Jika dibahas secara mendasar, IPOL juga bisa disebut sebagai search engine, namun lebih detail informasinya dibanding Google yang kadang belum mampu mengakomodir keinginan penggunanya,” papar Petrus.

Petrus menambahkan, aplikasi IPOL ini bukan tergolong aplikasi startup yang biasa digunakan secara gratis layaknya aplikasi yang ada di smartphone. Aplikasi ini berbayar, karena memang diinvestasi dengan dana besar.

“Penggunaan IPOL berdasarkan permintaan klien jika membutuhkan terkait data perkembangan politik, bisnis atau apapun. Untuk biaya, rata-rata klien kami membayar sekitar Rp 100 juta per bulan dengan pilihan beberapa topik yang biasanya minimal 5 topik,” jelas Petrus.

Baca Juga:  JAPFA Comfeed ekspor 40 ton pakan ternak ke Timor Leste

IPOL untuk awal ini lebih fokus pada riset politik terlebih untuk Pilgub tahunini yang serentak. Namun tak menutup kemungkinan bakal menyasar untuk kepentingan bisnis yang rencananya dalam waktu dekat bakal dikembangkan yang memang membutuhkan modal yang cukup besar.

“IPOL digarap saat itu di tahun 2010 melibatkan dana sekitar Rp 10 miliar, dan sekitar 2 hingga 3 tahun sudah balik modal. Kami juga menargetkan 90 pengguna hingga akhir tahun ini terkait momen Pilgub ini,” pungkas Petrus.

IPOL sendiri ditenagai oleh tim yang berjumlah sekitar 100 personil, baik pada aktifitas offline maupun online sebagai tenaga surveynya. Untuk memperoleh hasil survey cepat dan akurat, tim IPOL juga dimonitoring melalui sistem berbasis GPS.@Eld-Licom