Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Kritik dan fakta! Buku “Surabaya Butuh Lokalisasi” karya jurnalis Memorandum diluncurkan
Noor Arief Kuswadi (berdiri) saat peluncuran buku "Surabaya Butuh Lokalisasi" Sabtu malam (11/11/2017). FOTO: Rofik-lensaindonesia.com
Buku

Kritik dan fakta! Buku “Surabaya Butuh Lokalisasi” karya jurnalis Memorandum diluncurkan 

LENSAINDONESIA.COM: Wartawan harian Memorandum Noor Arief Kuswadi meluncurkan buku “Surabaya Butuh Lokalisasi”.

Launching karya tulis wartawan kriminal senior digelar di Warung Mbah Cokro, Jl Raya Prapen Surabaya, Sabtu malam (11/11/2017).

Noor Arif sengaja memilih tanggal 11 Nopember sebagai momen peluncuran buku sebab beretapatan dengan ulang tahun pernikahannya.

Selain sebagai kado ultah pernikahan, buku “Surabaya Butuh Lokalisasi” merupakan wujud jawaban atas penyataan pendiri koran harian Memorandum, almarhum H. Agil Ali.

Kata Noor Arief, dirinya merasa tertantang atas ucapan atasannya H. Agil yang mengatakan, bahwa seorang wartawan akan mendapatkan ‘piala’ bila sudah menulis buku. “Jadi ini piala pertama saya,” ucapnya.

Sebagai penulis, wartawan berbadan tinggi kurus ini menjelaskan, dengan buku “Surabaya Butuh Lokalisasi” bukan berarti dirinya mendukung keberadaan ‘tempat maksiat’ di Kota Pahlawan. Buku ini, lanjut dia, tidak lebih dari semacam ulasan tentang hal-hal yang belum pernah di tuangkan dalam berita.

“Saya disini bukan setuju atau tidak (keberadaan lokalisasi). Buku ini saya buat selain mengejar piala, juga mengulas yang belum pernah saya tulis di koran. Selama ini hanya saya tulis di blok pribadi saja,” tambahnya.

Namun ia menyitir, meski Gang Dolly sudah ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya sejak 2014, namun nyatanya sampai saat ini tidak ada yang sanggup menghentikan aktifitas prostitusi di kawasan Kecamatan Sawahan itu. Bahkan masih banyak pekerja seks komersial (PSK) yang ‘dibiarkan’ beroperasi secara liar di sana.

Pria gondrong ini mengakui, tidak sedikit orang yang menentang penulisan buku perdananya tersebut, salah satunya adalah sang istri. Wajar, karena pilihan judulnya yang kelewat kontroversial.

“Istri saya pun langsung menentang. Ya karena judulnya. Namun setelah saya jelaskan baru paham,” ungkapnya.

Baca Juga:  11 kontraktor dan SKK Migas kerja bareng tertibkan alur pengadaan

Ketua Penanggulangan HIV/AISD Kecamatan Sawahan, Kusworo sependapat dengan Noor Arief yang mengungkap adanya kegiatan prostitusi pasca Dolly ditutup. Menurutnya, Pemkot Surabaya hanya bisa menutup Dolly tetapi tidak menghentikan kegiatan prostitusi yang ada di sana.

“Kawasan Dolly hingga saat ini masih tetap buka. Saya rasa sangat susah menghilangkan praktek itu, karena Pemkot sendiri hanya menutup tempatnya saja, bukan menghentikan kegiatan prostitusinya,” papar Kusworo yang menjadi salah satu pembicara peluncurkan buku “Surabaya Butuh Lokalisasi”.

Di tempat yang sama, Sosiolog Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya, Drs. Wahyu Krisnanto, M.A menyampaikan, penutupan lokalisasi Dolly telah berdampak pada maraknya prostitusi terselubung di berbagai tempat. “Saat ini banyak para mantan PSK Dolly juga masih beroperasi dengan berkedok mahasiswi, pegawai dan sebagainya,” jelasnya.

Meski begitu, Wahyu sangat mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya penutupan lokalisasi Dolly, karena dapat memfasilitasi para PSK untuk mencari sumber penghidupan lain yang lebih mandiri. “Namum saya juga tidak setuju tidak adanya tempat lokalisasi, karena banyak prostitusi liar yang tidak dapat dikontrol,” pungkasnya.

Sementara itu, AKP Ferry mantan Kanit Jatanum Polrestabes Surabaya sangat mengapresiasi penulisan buku ini. Sebab di dalam buku “Surabaya Butuh Lokalisasi” penulis tidak semata mengulas tentang geliat prostitusi. Tetapi pada intisarinya penulis dapat menggambarkan sebuah fakta tentang sisi-sisi lain dalam kehidupan di kota matropolitan.

Ferry pun menggarisbawahi kalimat ‘sensitif’ yang ada di dalam buku karya Noor Arief, yaitu “Orang akan mabuk agar bisa melakukan tindak kriminal. Dan orang melakukan tindak kriminal supaya bisa mabuk di lokalisasi”.

Menurutnya, kalimat itu merupakan potret sebuah fakta sosial yang terjadi. “Saya sangat setuju. Dan selama saya bertugas di Polrestabes Surabaya, memang menumui hal itu, utamanya pada pelaku Curat, Curas dan Curanmor (3 C),” ungkapnya.

Baca Juga:  Ini maksud KPK jelaskan serahkan 'mandat' kepada presiden

“Tindak kejahatan di Surabaya, 50 persen masalah 3 C, dan para pelaku juga banyak yang kami amankan di lokalisasi setelah melakukan aksi kejahatan,” tambahnya selaku pembicara peluncuran buku itu.

Ferry mengatakan, dari semua hal yang dituangkan Noor Arief dalam “Surabaya Butuh Lokalisasi” membuat polisi lebih kreatif dalam mengungkap kejahatan. “Ini memang benar, saya sering berkoordinasi dengan Mas Arief, polisi juga harus menguasai ilmu antropologi, sosiologi dan psikologi,” pungkasnya.@rofik