Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Jadi tersangka pemalsuan, Guru Besar Ubaya dikenakan tahanan kota
Guru Besar Ubaya, dr Lanny Kusumawati, langsung gelisah ketika kasusnya disorot wartawan (rofik)
HEADLINE JATIM RAYA

Jadi tersangka pemalsuan, Guru Besar Ubaya dikenakan tahanan kota 

LENSAINDONESIA.COM: Kejari Surabaya menerima pelimpahan tahap II dari penyidik Sat Reskrim Polrestabes Surabaya dalam kasus dugaan pemalsuan Guru Besar Hukum Universitas Surabaya (Ubaya) Prof dr Lanny Kusumawati, Senin (27/11/2017).

Namun tersangka yang terjerat kasus pemalsuan akta otentik berupa cover notes dalam persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya ini tidak dijebloskan ke tahanan dan hanya dikenai tahanan kota.

Saat digelandang ke ruang penyidik Kejari Surabaya, tersangka Lanny nampak gelisah dan keberatan saat wartawan meliputnya. Dia berusaha menutupi wajahnya dan terus menggerutu saat diambil gambarnya. “Saya akan klarifikasi soal ini karena ini sepihak. Tunggu saja, saya melalui Pak Tatang akan klarifikasi,” ujarnya usai menjalani pemeriksaan.

Bahkan Guru Besar Ubaya ini masih sempat menuduh wartawan mendapat order peliputan terhadap dirinya. “Siapa yang bayar kalian,” cetusnya dengan nada sengit.

Kasi Pidum Kejari Surabaya Didik Adyotomo membenarkan tersangka Lanny Kusumawati menjalani pelimpahan tahap dua, yakni penyerahan barang bukti dan tersangka dari penyidik kepolisian ke kejaksaan. Pihaknya mengaku tidak menahan tersangka, karena adanya surat permohonan yang disampaikan.

“Kami menggunakan kewenangan, karena dari pasal yang didakwakan sudah cukup untuk melakukan penahanan. Namun karena yang bersangkutan seorang dosen dan guru besar di sebuah universitas yang tentunya masih dibutuhkan tenaganya, maka kami tidak melakukan tahanan Rutan tapi tahanan kota,” jelasnya memberi alasan.

Didik mengaku sudah menunjuk dua Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang akan menyidangkan perkara ini, yakni I Putu Karmawan dan Ali Prakoso. “Sesegera mungkin, saya sudah perintahkan kepada jaksa penuntut untuk segera melimpahkan perkara ini ke Pengadilan,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Prof dr Lanny Kusumawati Dra SH Mhum ditetapkan tersangka atas laporan Suwarlina Linaksita ke Polrestabes Surabaya. Dia dituding memberikan keterangan palsu pada akte otentik berupa cover notes dan kemudian surat keterangan perihal cover notes tersebut digunakan Eka Ingwahjuniarti untuk mengeksekusi rumah dan tanah yang berlokasi di Jl Kembang Jepun 29 Surabaya, yang ditempati pelapor sejak tahun 1931.

Baca Juga:  Indosat Ooredoo-Facebook dorong inklusi digital melalui "Internet 101"

Wang Suwandi, juru bicara keluarga Suwarlina Linaksita dan Bambang Soephomo mengatakan, Surat Keterangan Perihal Cover Notes Nomor: 35/L.K/III/2012 tanggal 16 Maret 2012 dan Surat Keterangan Perihal Cover Notes Nomor: 7/L.K/2014 tanggal 6 Maret 2014 yang dikeluarkan Prof dr Lanny Kusumawati Dra SH Mhum dan dipergunakan Eka Ingwahjuniarti sebagai bukti dalam perkara gugatan perdata Nomor: 1064/Pdt.G/2013/PN.Sby tanggal 01 Oktober 2014, adalah tidak benar. @rofik