LENSAINDONESIA.COM: Masih tentang sosok Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti, tokoh sekaligus pengusaha yang belakangan namanya kerap ditulis sebagai bakal calon gubernur oleh sejumlah media di Jawa Timur.

La Nyalla pun ikut meramaikan lobi politik ke sejumlah partai. Di antaranya partai Gerindra, PAN, dan PKS.

Ia mengaku sudah menjalin komunikasi dengan pegiat di partai-partai tersebut.

Lalu apa tawaran program La Nyalla sebenarnya? Apa yang membuat partai politik tertarik mengusung La Nyalla sebagai calon kepala daerah di Jatim?

Berikut lanjutan wawancara dengan Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti:

Apa program andalan Anda bila nanti maju sebagai calon gubernur?

Program saya sebenarnya bukan anti-thesa dari program dan kebijakan yang sudah dijalankan Gubernur Soekarwo. Hanya saja, program saya adalah penajaman yang lebih terukur dari gagasan besar yang saya usung, yakni mengatasi kemiskinan dan membangun Jawa Timur yang berkeadilan sosial.

Apa yang saya pertajam? Ada tiga hal. Pertama, mengatasi kemiskinan. Kedua, menempatkan rakyat sebagai subyek, bukan obyek pembangunan. Ketiga, menerapkan semua instrument pembangunan menuju kemakmuran.

Ketiga hal itu, saya implementasikan melalui tiga pendekatan juga. Yakni, yang pertama APBD untuk rakyat miskin. Kedua, penerapan filosofi keadilan sosial dalam pembangunan dan ketiga, karena latar belakang saya pengusaha, maka saya terapkan konsep government entrepreneurship.

Tiga penajaman dan tiga pendekatan ini, akan menuju goal, Jawa Timur makmur. Dengan roadmap yang sudah saya susun untuk 19 sektor prioritas. Di antaranya, sektor daya saing manusia, melalui pendidikan, kesehatan, moral dan agama, olahraga. Juga daya saing ekonomi melalui infrastruktur dan desa, dunia usaha dan industri, buruh dan tenaga kerja, koperasi dan UMKM, kewirausahaan, pertanian-perkebunan dan peternakan, nelayan-perikanan dan budidaya, juga ketahanan sosial melalui pesantren dan kelompok masyarakat serta lainnya.

Menurut perundangan dan regulasi, tugas pokok dan fungsi gubernur sangat terbatas. Ada peran DPRD juga sebagai mitra. Bagaimana Anda bisa mengusung target besar dalam program Anda?

Gubernur memang bekerja bersama DPRD. Bahkan Gubernur juga bukan atasan bupati atau walikota. Tetapi kalau kita baca UU nomor 9 tahun 2015, tentang pemerintahan daerah, kalau kita simpulkan, salah satu tugas penting Gubernur adalah menciptakan iklim atau suasana yang kondusif di provinsinya, dengan melakukan koordinasi dengan semua instansi terkait, termasuk bupati dan walikota.

Bahasa saya, iklim yang kondusif itu adalah rakyat di provinsi ini nyaman dan makmur. Ini hanya bisa dicapai kalau terjadi keadilan sosial. Keadilan sosial itu adalah keberpihakan pemerintah secara adil kepada semua stakeholdernya.

Apakah bisa memuaskan semua pihak? Tentu sulit. Tetapi ingat, pemerintahan punya alat untuk memaksa. Yaitu peraturan perundangan, perda hingga surat edaran gubernur. Kalau kekuasaan itu dipandang sebagai alat untuk menuju kepada terciptanya keadilan, maka kekuasaan itu akan membawa manfaat.

Karena itu, bagi saya, kalau kekuasaan itu bisa kita jadikan sebagai alat untuk memperluas ladang amal sholeh kita, dan amal sholeh itu pasti membawa kebaikan bagi sesama manusia, maka amanah kekuasaan itu harus kita jalankan. Tetapi kalau niat kita bukan itu, akan sulit menciptakan iklim yang kondusif tadi, yaitu keadilan sosial.

Anda selalu mengaitkan dengan keyakinan atau doktrin agama Anda. Dalam kontestasi pilkada, apakah tidak khawatir dijauhi oleh kelompok non muslim?

Islam itu agama rahmatan lil ‘alamin. Artinya Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Alam semesta ya. Bukan saja manusia. Tapi juga binatang, tumbuhan dan semua yang ada di alam semesta ini. Ini bukan omongan saya. Tapi ini teks Alquran di surat al-anbiya. Bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat untuk semesta alam.

Rasulullah SAW sudah memberi contoh bagaimana memimpin dan mengatur penduduk di Madinah ketika itu. Ada masyarakat nasrani, ada juga umat yahudi. Hidup damai berdampingan. Itu sudah dicontohkan.

Saya pun bekerja bersama dengan teman-teman non-muslim di organisasi. Baik itu di Kadin Jatim, di Pemuda Pancasila atau di PSSI. Tidak pernah ada masalah. Mereka juga memberi amanah kepada saya untuk memimpin organisasi. Saya dipilih untuk memimpin Kadin Jatim sudah dua periode.

Ukurannya, sebagai pemimpin, kita harus punya leadership, memberi contoh dan menjadi problem solver. Saya orang yang memilih optimis ketimbang pesimis. Semua persoalan yang ada di organisasi, saya yakini pasti ada jalan keluar. Selama kita optimis dan mau bekerja serius.

Pernah gagal?

Latar belakang saya pengusaha. Setiap pengusaha pasti pernah gagal. Dan pengusaha yang berhasil, rata-rata pernah gagal. Jadi kegagalan itu harus dimaknai sebagai pembelajaran serta sebagai ajang koreksi diri. Dan jangan pernah putus asa. Itu prinsip. Karena dibalik kegagalan pasti ada suatu hikmah.

Allah SWT sudah mengingatkan, boleh jadi apa yang menurut kita baik, ternyata tidak baik bagi Allah SWT. Atau sebaliknya, apa yang tidak kita sukai, ternyata itu baik buat kita menurut Allah SWT. Karena itu saya selalu pasrahkan semua ikhtiar saya kepada sang pemilik skenario hidup saya. Tentu dengan selalu berprasangka baik kepada Allah SWT.

Apa hikmah terbesar dalam hidup yang Anda petik?

Terus terang hikmah terbesar dalam hidup saya adalah ketika saya dituduh terlibat korupsi penyimpangan dana hibah Kadin Jatim. Saat itu saya benar-benar terpukul karena seolah saya koruptor kelas kakap. Bahkan di persidangan saya seolah disorot oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai terdakwa koruptor.

Tetapi Alhamdulillah, akhirnya selama persidangan, dari 24 saksi yang dihadirkan jaksa, tidak ada seorang pun yang menyatakan saya terlibat dan korupsi. Akhirnya majelis hakim pun memutus saya bebas murni dan tidak terbukti melakukan seperti apa yang didakwakan jaksa.

Di situ saya mengambil hikmah. Pasti Allah SWT punya rencana terhadap diri saya. Dan saya juga sudah melupakan dan tidak dendam dengan siapapun yang terlibat dalam menjadikan saya pesakitan di persidangan itu. Sudah saya lupakan. Saya memang lebih senang menatap masa depan, ketimbang melihat ke belakang. Kita lihat ke belakang sebagai pelajaran saja. Ambil hikmahnya. (bersambung)