Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
KPU Jatim tak serius gelar sosialisasi Pilgub Jatim 2018
HEADLINE DEMOKRASI

KPU Jatim tak serius gelar sosialisasi Pilgub Jatim 2018 

LENSAINDONESIA.COM: Jumlah masyarakat Jawa Timur yang belum paham bahwa di tahun 2018 mendatang akan diadakan Pilgub Jatim angkanya masih sangat tinggi.

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan Surabaya Survey Center (SSC) menunjukkan bahwa 43,4 persen responden masih belum mengetahui bahwa pesta demokrasi untuk memilih pemimpin baru bagi Jatim bakal diselenggarakan.

Artinya, dari 940 responden sebanyak 408 orang masih belum mengetahui tentang pilgub Jatim yang akan diselenggarakan di tahun 2018. Kemudian, 66,6 persen sisanya atau 532 responden sudah paham bahwa Pilgub bakal diselenggarakan tahun depan.

Peneliti Senior SSC Surokhim mengatakan temuan tersebut dapat diartikan bahwa KPU Provinsi Jawa Timur tidak menunjukkan keseriusannya dalam sosialisasi terkait Pilgub Jatim 2018.

“Ini kan 10 bulan menjelang Pilgub, tapi gregetnya tidak ada terkait dengan informasi tahapan Pilkada atau hal lain yang bisa memantik perhatian dan rasa ingin tahu publik,” kata Surokhim pada LICOM, Jumat (15/12/2017).

Pria yang juga Dekan Fisip Universitas Trunojoyo Madura ini juga memandang bahwa perlu ada kolaborasi antara KPU dengan berbagai kelompok masyarakat. Sosialisasi melalui jejaring dengan media yang potensial juga dilihat mampu untuk menyalurkan informasi tersebut kepada masyarakat luas.

“Karena apabila dibiarkan, wajar saja apabila kemudian masyarakat menjadi apatis dan adem ayem. Jumlah Golput semakin lama akan semakin tinggi, jika tidak ada yang bisa memantik partisipasi politik dalam pemilu. Di sini, penyelenggara Pemilu menjadi dituntut untuk pro aktif dalam kaitan sosialisasi,” paparnya.

Pihaknya juga mengakui memang banyak faktor yang membuat publik tidak responsif terhadap Pemilu. Seperti misalnya, penyelenggaraan Pemilu tidak mampu memberikan solusi konkret kepada para pemilih rasional.

“Kalau sudah begitu apabila penyelenggara tidak kreatif dalam melakukan terobosan sosialisasi, maka masyarakat tidak akan tertarik,” tegas Surokhim.

Baca Juga:  Tanggulangi negatif internet, Kominfo gelar Siberkreasi Netizen Fair 2019

Di sisi lain, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan juga menunjukkan bahwa 27,7 persen dari seluruh responden mengatakan bahwa mereka masih belum pasti akan menggunakan hak pilih mereka atau tidak.

Temuan tersebut dapat diartikan bahwa 260 responden masih memiliki kemungkinan untuk tidak menggunakan hak pilihnya pada hari pemilihan kelak. Hal itu dipandang merupakan bagian dari fenomena demokrasi yang merebak saat ini.

“Fenomena demokrasi mutakhir ini menjadikan angka swing voters dan angka undecited voters akan terus meningkat,” tandasnya.

Selain itu, agar masyarakat tidak menjadi semakin apatis, dia mengimbau agar para peserta Pemilu juga harus mampu membawa angin segar bagi proses demokrasi tersebut.

Data-data tersebut diperoleh melalui survei yang dilakukan oleh SSC di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur pada kurun waktu 25 November-8 Desember 2017.

Survei tersebut dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan 940 responden. Tingkat kepercayaan dari hasil tersebut sebesar 95 persen dengan margin of error 3,2 persen.@sarifa