LENSAINDONESIA.COM: Kematian mendadak Jonghyun ‘SHINee’ menggemparkan dunia entertainment, terutama penggemar K-Pop. Dia ditemukan meninggal dunia di usia 27 tahun dengan membakar briket batubara di atas penggorengan di sebuah apartemen di Cheongdam.

9 (Nine), member grup band Dear Cloud, mengungkap surat terakhir Jonghyun sebelum bunuh diri. Dia mengunggahnya di akun Instagram pribadinya @run_withthewolf setelah mendapatkan persetujuan keluarga Jonghyun. Diketahui, almarhum memutuskan bunuh diri karena mengalami depresi berat.

Aku patah hati di dalam. Depresi yang perlahan menggerogotiku akhirnya menelanku. Dan aku tidak bisa mengalahkannya. Aku membenci diriku sendiri. Aku meraih kenangan terputus-putusku dan berteriak kepada mereka agar bersatu namun tidak ada tanggapan. Jika aku tidak bisa membantu diriku untuk bernafas dengan baik maka lebih baik untuk berhenti bernapas sama sekali. Aku bertanya pada diri sendiri siapa yang bertanggung jawab atas diriku.

Hanya aku, aku benar-benar sendirian. Mudah untuk bicara tentang akhir. Sulit untuk benar-benar berakhir. Aku hidup sampai saat ini karena kesulitan itu. Aku beritahu diriku aku ingin lari. Ya, aku ingin lari dari diriku, darimu. Aku bertanya siapa yang ada disana. Itu aku. Itu aku lagi. Dan itu aku lagi.

Aku tanya kenapa aku terus kehilangan ingatanku. Itu karena kepribadianku. Aku tahu. Jadi semua salahku pada akhirnya. Aku ingin orang-orang memperhatikan tapi tidak ada yang melakukannya. Mereka bahkan belum pernah bertemu denganku jadi tentu saja mereka tidak tahu aku ada. Aku tanya kenapa mereka hidup. Mereka hanya hidup, hidup saja.

Jika kau bertanya kenapa aku mati aku akan menjawab aku kelelahan. Aku menderita. Aku tidak pernah belajar untuk mengubah rasa sakit yang melelahkan menjadi kebahagiaan. Rasa sakit itu hanya itu, sakit. Mereka mengomeli saya untuk tidak melakukan ini. kenapa? Kenapa bahkan aku tidak bisa mengakhiri semuanya sesuai dengan yang aku inginkan?

Mereka menyuruhku untuk mencari tahu apa yang membuatku sakit. Aku tahu dengan baik. aku sakit karena aku. Itu semua salahku karena aku kurang. Dokter, apakah ini yang ingin kamu dengar? Tidak, aku tidak melakukan kesalahan apapun. Ketika suara lembut menyalahkan kepribadianku, aku berpikir ‘sialan menjadi dokter itu mudah’. Aneh sekali rasanya sangat menyakitkan. Orang yang memiliki (depresi) lebih buruk dariku bisa hidup dengan baik, orang yang lebih lemah dariku berjalan dengan baik.

Mungkin itu tidak benar. Tidak ada yang hidup membuatnya lebih buruk dariku atau lebih lemah dariku. Tapi aku harus tetap hidup. Aku tetap menanyakan diriku ‘kenapa aku harus’ ratusan kali dan itu bukan untuk kebaikanku sendiri. Itu bukan untukmu. Tolong jangan katakan apapun jika kau tidak mengerti. Cari tahu mengapa aku terluka? Aku sudah beritahu alasannya. Apakah salah merasa sangat sakit karena itu, apakah aku perlu alasan yang lebih dramatis? Alasan yang lebih spesifik?

Aku sudah memberitahumu. Kau tidak mendengarkan? Hal yang bisa kau atasi tidak menjadi lukamu seumur hidup. Bertentangan dengan dunia yang tidak pernah dimaksudkan untukku. Kehidupan tenar tidak pernah dimaksudkan untukku. Itu semua alasan mengapa menyakitkan. Karena aku terkenal. Kenapa aku memilih ini? Sangat lucu. Sungguh mengherankan aku bisa bertahan begitu lama.

Apa yang bisa aku katakan. Katakan saja aku telah melakukannya dengan baik. itu sudah cukup. Bahwa aku telah bekerja keras. Bahkan jika kau tidak bisa tersenyum jangan salahkan aku. Kau melakukannya dengan baik, kau sudah bekerja keras. Selamat tinggal.